Aku menyukaimu tanpa rencana. Tanpa niat untuk jatuh, tanpa persiapan untuk patah. Kamu hanya datang, tersenyum, lalu tanpa izin menetap di pikiranku lebih lama dari yang seharusnya.
Kita tidak pernah dekat. Hanya sebatas saling sapa, bercanda singkat, dan obrolan ringan yang selalu berakhir terlalu cepat. Tapi dari hal-hal kecil itulah perasaanku tumbuh. Cara kamu mendengarkan, caramu tertawa, caramu menyebut namaku seolah itu sesuatu yang penting.
Aku menyukaimu dalam diam, seperti kebiasaan orang-orang pengecut—mengagumi dari jauh, berharap tanpa suara.
Sampai suatu sore, segalanya runtuh dengan cara paling sederhana.
“Kekasihku bakal jemput nanti,” katamu santai, sambil menutup buku.
Kalimat itu singkat. Tidak kejam. Bahkan tidak kamu ucapkan dengan maksud apa pun. Tapi dadaku terasa seperti diremas kuat-kuat. Aku tersenyum, mengangguk, berpura-pura baik-baik saja.
“Oh… pantes,” jawabku. “Sering nunggu lama.”
Kamu tertawa kecil. Dan aku ikut tertawa—padahal hatiku sedang belajar hancur pelan-pelan.
Sejak hari itu, aku tahu posisiku. Aku hanya seseorang yang datang terlambat. Terlambat mengenalmu. Terlambat menyukai. Terlambat berharap. Kamu tidak salah. Kekasihmu tidak salah. Yang salah hanya waktuku.
Aku mulai menjaga jarak, bukan karena membenci, tapi karena ingin sembuh. Aku belajar tidak menatapmu terlalu lama, tidak mencari namamu di keramaian, tidak berharap kamu menoleh lebih sering dari yang seharusnya.
Tapi ternyata melupakan tidak semudah mencintai.
Aku masih mencuri pandang saat kamu tertawa. Masih hafal jadwalmu tanpa sengaja. Masih tahu kapan kamu terlihat lelah dan kapan kamu terlihat bahagia—bahagia yang bukan karena aku.
Suatu hari, kamu bertanya, “Kok kamu akhir-akhir ini jarang ngobrol?”
Aku ingin jujur. Ingin bilang bahwa aku sedang berusaha tidak mencintaimu. Tapi yang keluar hanya, “Lagi banyak pikiran.”
Kamu mengangguk, menerima jawaban itu tanpa curiga. Dan di situlah aku sadar—perasaanku memang tidak pernah kamu sadari, dan mungkin tidak perlu.
Aku menyukaimu, tapi aku juga menghargai batas. Aku memilih pergi pelan-pelan agar tidak merusak apa pun. Karena cinta yang baik tahu kapan harus berhenti, meski hatinya belum siap.
Jika suatu hari kamu bertanya, aku mungkin akan menjawab jujur. Tapi hari ini, aku memilih diam dan mendoakan dari jauh.
Karena kamu datang terlalu utuh—dengan seseorang di sisimu.
Dan aku… datang terlalu terlambat.