Rintik hujan Februari menari-nari di kaca jendela. Di balik tirai tipis, seorang wanita bernama Arini duduk termenung. Matanya nanar menatap jalanan yang basah dan sepi. Februari selalu menjadi bulan yang berat baginya. Bukan karena dinginnya, tapi karena kenangan yang menghantuinya.
Lima tahun lalu, di bulan Februari, ia kehilangan kekasihnya, Arya, dalam sebuah kecelakaan tragis. Mereka berencana menikah di musim semi, tapi takdir berkata lain. Arini masih ingat jelas senyum Arya, tawanya, dan semua mimpi yang mereka rajut bersama.
Setiap Februari, Arini selalu mengunjungi makam Arya. Ia membawa bunga kesukaan Arya, bunga matahari, dan berbicara seolah Arya masih ada di sana. Ia menceritakan tentang hidupnya, tentang pekerjaannya, dan tentang betapa ia merindukannya.
Tahun ini, Arini merasa berbeda. Ia bertemu dengan seorang pria bernama Bima. Bima adalah seorang pelukis yang tinggal di dekat rumahnya. Mereka sering bertemu di kedai kopi dan berbicara tentang banyak hal. Bima selalu mendengarkan Arini dengan sabar dan penuh perhatian.
Arini merasa nyaman berada di dekat Bima. Ia merasa Bima mengerti dirinya, mengerti kesedihannya, dan mengerti kerinduannya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia bisa membuka hatinya untuk orang lain setelah kehilangan Arya.
Suatu sore di bulan Februari, Bima mengajak Arini ke sebuah galeri seni. Di sana, Bima memamerkan lukisan-lukisannya. Arini terkejut melihat salah satu lukisan Bima. Lukisan itu adalah potret dirinya yang sedang tersenyum.
"Aku melukis ini karena aku ingin melihatmu bahagia," kata Bima. "Aku tahu kamu masih merindukan Arya, tapi aku ingin kamu tahu bahwa kamu pantas untuk bahagia."
Arini terharu mendengar kata-kata Bima. Ia memeluk Bima erat-erat. Ia tahu, ia belum bisa melupakan Arya sepenuhnya, tapi ia siap untuk membuka lembaran baru bersama Bima. Hujan di balik jendela Februari seolah menjadi saksi bisu dari awal kisah cinta yang baru.