"Bergegas!" seruan dari Akina membuatku terperangah.
Setelah menentukan siapa yang menjadi _kucing,_ kami yang bermain segera berpencar guna untuk mencari pelindung agar badan kami tidak terlihat. Ya, ini adalah permainan petak umpet. Satu penjaga disebut _kucing,_ dan yang berpartisipasi untuk bersembunyi disebut pemain. Semuanya mempunyai porsi masing-masing andalan. Baik dari _kucing_ atau dari seperti aku yang menjadi pemain.
Setelah berpencar, aku tidak dapat menemukan benda apa yang bisa aku jadikan naungan. Tidak! Aku harus menang dan tidak boleh terjerat dan terlihat oleh _kucing._
"Rinrin cepat sembunyi!" Suara Mika kembali membuat pikiranku mengenai tempat persembunyian yang pas pun buyar.
"Iya, ih. Aku lagi nyari, nih!"
Ada satu pohon besar, namanya beringin, setahuku. Aku berpikir, jika aku memanjat, kemungkinan besar untuk ditemukan adalah hal kecil. Dengan mengerahkan seluruh kekuatanku, aku memanjat pohon yang besarnya lima kali lipat dari tubuhku ini.
Aku bersuka ria dalam hati, pastinya Nina tidak akan menemukanku. Semua teman-temanku mungkin dalam keadaan genting. Perasaan was-was menghampiri. Takut jika mereka diketahui oleh Nina yang sebagai _kucing_ itu. Aku pun demikian, meski pohon beringin ini sangat besar, tidak menutup kemungkinan mata tajam Nina yang tidak memiliki _minus_ di korneanya pasti akan menemukanku.
_"Hong, Mika!"_
_"Hong, Ana!"_
_"Hong, Firman!"_
Satu persatu, temanku sudah ditemukan _kucing._ Selain ketinggian di atas permukaan tanah yang kira-kira lima meter, perasaan takut ditemukan oleh kucing pun menjadi alasan utama bahwa kedua kaki ku ini bergetar. Sungguh, menguji mental dan epinefrin.
Nasib baik juga aku naik pohon, selain tertutupnya matahari terik oleh daun aku pula mendapatkan keuntungan lain. Karena dari atas sini aku dapat mendengar siapa saja yang telah kena _kucing._ Semakin mengurang teman seperjuangan bersembunyiku, semakin pula kesempatan menemukanku itu kecil.
Hari sangat cerah. Pemandangan pun sangat indah dari ketinggian ini. Aku sejenak melupakan hal tentang ketakutan. Karena saat ini, sang pencipta mampu membuatku terkesima. Di ujung penglihatanku, di sana, di desa sebelah, gunung hijau yang asri tampak menampakkan diri dengan ribuan pohon. Dengan sapuan awan yang lembut dan lainnya tampak ganas, mampu menciptakan pemandangan yang menarik fokus setiap orang. Seperti aku, ini.
_Spotlight Tuhan memang sangat menarik._
_"Hong, Rinrin!"_
Aku tersentak. Aku lupa. Aku sedang bermain petak umpet. Nina telah menemukanku. Fokusku telah diambil. Tapi, untuk kembali membenahkan diri itu sangat mustahil. Aku _rada_ meraung di hati. Menyesalkan diri bahwa aku telah ditemukan.
"Rin, ayok cepat turun! Aku sudah menang loh. Mika yang jadi kucing selanjutnya." kata Nina. Aku mengangguk, mengiyakan. Ternyata akulah pemain terakhir yang ditemukan.
Hingga akhirnya aku menemukan bahwa kesulitan menghampiriku.
"Ih, aku tidak bisa turunnya, sangat tinggi!"
"Rin, kamu kok naik bisa turun tak bisa," Firman meledekku, posisi tangan bersila dan menatapku meremehkan adalah hal biasa baginya. Tapi, aku sedang genting. Tak ingin menggubris apapun tentang candaannya maupun candaan yang datang selanjutnya.
"Rin _mah_ suka gitu, dulu naik ke tangkal jambu punya _mang_ Unang aja malah nangis," Nina menimpal diikuti gelak tawa teman yang lain.
"Dari pada kalian mengolokku, lebih baik kalian meminta bantuan," ujarku memelas. Aku akan lupa jika Nina tak mengingatkan bahwa, dulu saat aku berumur lima tahun terjerat oleh pohon seperti saat ini. Naik bisa, kalo turun? Tentu tidak.
Mereka masih menunggu di bawah pohon beringin. Melihatku yang mungkin dipandangan mereka tampak ketakutan. Meski faktanya memang takut.
"Yok Al, kita pinjam tangga punya bi Narsih." Firman memecah suasana geli seraya menepuk bahu Aldi.
Mereka berdua bergegas pergi, untungnya jarak dari lapangan desa ke rumah bi Narsih tidak terlalu jauh, butuh waktu sepuluh menit untuk bolak-balik.
"Cepat lurusin Fir, Al!"
"Iya, ini mau adzan ashar, nanti _sandekala_ kalo mau adzan,"
Aina dan Tia saling bersahutan. Aku sudah bosan menunggu. Tangga pun, diarahkan ke posisiku. Tangga yang terbuat dari bambu ini tampak lusuh.
"Ini bambunya kuat 'kan? Takut banget tiba-tiba jatuh nimpa kalian," ujarku diselingi tawa garing.
"Engga akan. Tadi kami udah mastiin," kata Aldi.
Aku percaya.
Dua sisi tangga dipegang erat oleh Firman dan Aldi. Akan tetapi, entah bagaimana kemudian, setelah tiga anak tangga aku lewati. Saat akan menapakkan kaki di anak angga ke empat. Keseimbangan ku runtuh sehingga kaki ku tergelincir dan sesaat kemudian tubuhku ambruk dengan pandangan yang mulai kabur. Sebelum kegelapan menyita aku samar-samar mendengar Mika berteriak.
"CEPAT IH! PANGGI BI INAH!"
_Ah, aku pasti gak akan ikut terawih pertama malam ini,"_