Raka selalu bilang pada dirinya sendiri, “Cuma seratus ribu. Kalau menang, berhenti.”
Tapi kata “terakhir” itu sudah ia ucapkan ratusan kali.
Awalnya hanya iseng. Teman-temannya sering pamer kemenangan dari judi online. Tangkapan layar saldo jutaan rupiah berseliweran di grup. Raka yang baru lulus SMK dan bekerja di bengkel merasa iri. Gajinya pas-pasan, sementara kebutuhan di rumah terus bertambah. Ayahnya sakit-sakitan, ibunya berjualan gorengan di depan rumah.
“Siapa tahu ini jalan cepat,” pikirnya waktu pertama kali mengisi saldo.
Dan benar—malam itu ia menang dua juta rupiah.
Jantungnya berdebar. Tangannya gemetar. Dalam hitungan jam, uang seratus ribu berubah jadi dua juta. Rasanya seperti menemukan pintu rahasia menuju kehidupan yang lebih baik.
Ia traktir teman-temannya. Ia belikan ibunya sembako lebih banyak dari biasanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa jadi anak yang berhasil.
Tapi kemenangan pertama adalah umpan.
Hari-hari berikutnya, ia mulai kalah. Sedikit demi sedikit. Ia tak terima. “Tadi bisa menang, masa sekarang nggak?” katanya pada layar ponselnya.
Gajinya habis sebelum tanggal tua. Ia mulai berbohong pada ibunya. Katanya uang dipakai bayar utang teman. Katanya motornya rusak. Katanya ini dan itu.
Padahal semuanya masuk ke aplikasi yang sama.
Raka tidak sadar kapan tepatnya ia berubah. Ia jadi mudah marah. Sulit tidur. Setiap notifikasi membuatnya berharap itu kemenangan besar yang akan mengembalikan semuanya.
Suatu malam, ia kalah lima juta rupiah—uang tabungan untuk berobat ayahnya.
Ia terduduk di lantai kamar. Layar ponselnya terasa lebih dingin dari biasanya. Saldo nol rupiah.
Di luar kamar, ia mendengar batuk ayahnya yang panjang dan berat.
Untuk pertama kalinya, ia merasa takut.
Namun bukannya berhenti, Raka justru nekat meminjam uang dari aplikasi pinjaman online. “Sekali lagi saja. Kalau menang, langsung lunas dan berhenti,” bisiknya.
Ia kalah lagi.
Tagihan datang bertubi-tubi. Telepon tak dikenal masuk setiap jam. Pesan ancaman berdatangan. Foto KTP-nya disebar ke kontak-kontaknya. Teman-temannya menjauh. Ia dipecat dari bengkel karena sering melamun dan pernah ketahuan bermain judi saat jam kerja.
Ibunya akhirnya tahu.
“Uang berobat Ayah ke mana, Ka?” tanya ibunya dengan suara yang tidak marah—hanya lelah.
Raka tidak bisa menjawab.
Beberapa bulan kemudian, ayahnya meninggal. Raka berdiri di samping liang lahat dengan rasa bersalah yang menyesakkan. Ia merasa kehilangan segalanya—pekerjaan, kepercayaan, keluarga, dan harga diri.
Semua demi angka-angka di layar.
Hari itu, untuk pertama kalinya, ia menghapus aplikasi judi dari ponselnya. Tangannya gemetar bukan karena kalah, tapi karena sadar: yang ia kejar selama ini bukan uang, melainkan harapan palsu.
Butuh waktu lama untuk memperbaiki hidupnya. Ia bekerja serabutan. Menghindari teman-teman lama yang masih bermain judi. Mencari bantuan ke komunitas pemulihan. Meminta maaf pada ibunya berkali-kali.
Tidak ada jalan cepat.
Yang ada hanya jalan pelan—dan rasa sakit yang harus diterima.
Raka pernah kehilangan segalanya.
Tapi dari kehilangan itu, ia belajar satu hal:
Yang paling berharga bukan kemenangan besar, melainkan kesempatan kedua.
Dan kesempatan itu tidak datang dari layar ponsel—
melainkan dari keberanian untuk berhenti.