Di SMA Pasawahan, maut biasanya hanya hadir dalam bisikan di sela-sela pelajaran Sejarah atau mampir lewat berita duka di pelantang suara sekolah yang suaranya pecah dan sengau. Namun, bagi Arjuman, maut bukan lagi sekadar narasi dari masa lalu atau angka statistik di papan pengumuman. Ia adalah tamu tak diundang yang memahat rasa sakit di balik tempurung kepalanya.
Arjuman adalah potret remaja yang seolah-olah ditenun dari benang matahari. Senyumnya lebar, tawanya adalah musik yang paling akrab di kantin sekolah. Namun, sejak semester kedua kelas sebelas, cahaya itu mulai meredup. Ada sesuatu yang tumbuh di sana—di dalam sana—sebuah benjolan gelap yang rakus, yang para dokter sebut dengan istilah medis dingin: Glioblastoma. Bagi Arjuman, itu adalah monster yang pelan-pelan mengunyah ingatannya, keseimbangannya, dan akhirnya, dunianya.
Pagi itu, Pasawahan diselimuti kabut tipis. Arjuman duduk di bangku paling belakang kelas, mencoba fokus pada papan tulis yang mendadak tampak seperti lukisan abstrak yang kabur. Penulis novel mungkin akan menggambarkan momen ini sebagai "orkestra sunyi dalam kepala." Suara Pak Hamdan yang menerangkan hukum gravitasi terasa seperti gema dari sumur yang dalam.
"Arjuman? Kamu tidak mencatat?" tegur Pak Hamdan.
Arjuman mencoba mengangkat pulpennya, tapi tangannya gemetar. Dunianya miring. Tanah di bawah kakinya seolah berubah menjadi rawa yang menghisap. Ia tidak menjawab. Ia hanya bisa merasakan denyut tajam di belakang matanya—seperti ada ribuan jarum yang menari di sana.
Malam-malam setelah itu dihabiskan Arjuman di kamar rumah sakit yang beraroma karbol dan keputusasaan. Ayahnya, seorang pria dengan gurat lelah yang dalam di wajahnya, terus memegang tangan Arjuman seolah-olah dengan genggaman itu ia bisa menahan nyawa anaknya agar tidak menguap. Ibunya, di sudut ruangan, tak henti-hentinya mendaraskan doa, sebuah ritual yang lebih menyerupai negosiasi putus asa dengan Tuhan.
"Ibu," bisik Arjuman suatu malam, suaranya parau seperti kertas yang diremas. "Apakah di surga nanti aku masih bisa melihat gerbang SMA 1 Halongonan?"
Ibunya tersedak tangis. "Di sana lebih indah, Man. Kamu tidak akan merasa sakit lagi."
Tumor itu bukan hanya mencuri kesehatannya, tapi juga memorinya. Suatu sore, sahabat karibnya, Rizal, datang membawa sebungkus cilok favorit mereka.
"Man, ingat tidak waktu kita bolos ke sungai belakang sekolah?" tanya Rizal, mencoba menghidupkan suasana.
Arjuman menatap Rizal dengan pandangan kosong. Ia mengenal wajah itu, ia tahu suara itu, tapi jembatan menuju kenangan itu telah runtuh. Tumor itu telah membakar perpustakaan di kepalanya.
"Sungai?" Arjuman bertanya balik. Matanya yang dulu bersinar kini seperti telaga yang keruh.
Rizal terdiam. Ia menyadari bahwa Arjuman yang ia kenal—Arjuman sang juara debat, Arjuman yang jago bermain gitar—sedang perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh cangkang yang rapuh. Kematian bagi Arjuman bukan lagi sebuah peristiwa mendadak, melainkan sebuah proses pengikisan. Sebuah erosi jiwa yang menyakitkan untuk disaksikan.
Dalam gaya penulisan yang kerap mengeksplorasi sisi psikologis manusia yang paling dalam, penderitaan Arjuman bukan sekadar tentang fisik. Ini tentang identitas yang luruh. Ia merasa seperti karakter dalam novel yang bab-bab akhirnya sedang dihapus oleh penulisnya sendiri sebelum ia sempat selesai membacanya.
Hari itu, langit Pasawahan berwarna jingga pekat, seperti luka yang mulai mengering. Di kamar nomor 402, nafas Arjuman terdengar berat, satu-satu, seperti mesin tua yang dipaksa bekerja.
Ia melihat bayangan-bayangan di langit-langit kamar. Ia melihat teman-temannya di SMA sedang berlari di lapangan upacara. Ia mendengar tawa mereka. Ia merasakan angin sepoi-sepoi dari pohon mahoni di depan kelasnya. Baginya, kematian bukan lagi monster gelap, melainkan sebuah pintu keluar dari labirin rasa sakit yang tak berujung.
"Ayah... Ibu..."
Itu adalah kata terakhirnya. Sangat pelan, hampir tak terdengar, namun sanggup meruntuhkan pertahanan siapa pun yang mendengarnya. Arjuman menutup matanya. Tumor itu akhirnya berhenti tumbuh, karena ia tak lagi memiliki inang untuk disakiti. Arjuman telah pergi, meninggalkan tubuhnya yang ringkih demi perjalanan menuju keabadian yang tanpa rasa sakit.
Berita itu sampai ke SMA Pasawahan saat jam istirahat pertama. Pelantang suara sekolah berderit, lalu suara Kepala Sekolah yang bergetar mengumumkan kepergian Arjuman. Seketika, hiruk pikuk kantin membeku.
Kursi Arjuman di kelas sebelas dibiarkan kosong. Di atas mejanya, seseorang meletakkan setangkai bunga kamboja putih. Bagi teman-temannya, Arjuman bukan sekadar siswa yang meninggal karena sakit. Ia adalah pengingat bahwa hidup setipis kertas, dan bahwa di balik seragam abu-abu yang kaku, ada jiwa-jiwa yang berjuang dengan badai yang tak terlihat.
Arjuman mungkin telah kalah dalam pertempuran melawan tumornya, namun di lorong-lorong SMA, namanya akan terus bergema sebagai simfoni tentang ketabahan. Seperti kata Para penulis dunia dalam narasi-narasi pilunya, kematian hanyalah cara lain bagi seseorang untuk menjadi abadi dalam ingatan mereka yang mencintai.