“Cermin yang Tak Pernah Berbohong”
Nama anak perempuan itu Sari. Ia berusia tiga belas tahun, duduk di kelas tujuh, dan sudah terlalu dini mengenal arti kata tidak cukup baik.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Sari selalu berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Cermin itu sudah lama, pinggirannya berkarat, dan ada retakan tipis seperti garis luka di sudutnya. Sari sering berpikir, cermin itu mirip dengannya—tidak sempurna, tapi tetap dipaksa untuk memantulkan apa adanya.
Ia menatap wajahnya lama. Kulitnya lebih gelap dibanding teman-teman sekelasnya. Hidungnya tidak mancung. Rambutnya tebal tapi kusut, tak pernah mau menurut meski sudah disisir berkali-kali.
“Kenapa aku begini, sih…” gumamnya lirih.
Di luar kamar, suara ibunya memanggil.
“Sari, cepat! Nanti kamu telat lagi.”
Sari mengangguk, meski tahu ibunya tak melihat. Ia mengenakan seragam yang sudah sedikit memudar warnanya, lalu mengambil tas dan melangkah keluar rumah. Di sepanjang jalan menuju sekolah, dadanya terasa berat. Seolah ia tahu, hari itu akan sama saja seperti kemarin, dan kemarin lagi.
Di sekolah, Sari tidak pernah benar-benar merasa aman.
Saat ia melangkah ke kelas, suara tawa kecil langsung terdengar.
“Eh, lihat deh, si Sari datang.”
“Iya, yang item itu, kan?”
“Kalau mati lampu, nggak kelihatan!”
Tawa meledak. Tidak semua ikut tertawa, tapi cukup banyak untuk membuat telinga Sari panas. Ia menunduk, pura-pura sibuk membuka tas. Tangannya gemetar.
Ia ingin marah. Ia ingin berteriak. Tapi suaranya selalu tertelan rasa takut.
Di bangkunya, Sari duduk sendiri. Dulu ia pernah mencoba berteman, mencoba ikut tertawa, mencoba menjadi “biasa saja”. Tapi ejekan itu selalu menemukan jalannya kembali. Setiap hari seperti pengingat bahwa tubuhnya adalah kesalahan.
Pelajaran demi pelajaran berlalu. Saat guru bertanya, Sari tahu jawabannya, tapi ia jarang mengangkat tangan. Ia takut berdiri di depan kelas. Takut semua mata menatap, bukan pada jawabannya, tapi pada wajah dan tubuhnya.
Di jam istirahat, teman-teman berkumpul, bercermin, membandingkan wajah, rambut, dan kulit.
“Kamu pakai bedak apa sih? Kok putih banget?”
“Eh, hidungmu makin mancung deh.”
Sari hanya duduk di sudut, memeluk lututnya. Ia merasa seperti berada di dunia yang salah. Dunia yang hanya memberi tempat untuk mereka yang memenuhi standar tertentu.
Suatu hari, saat pelajaran olahraga, ejekan itu menjadi lebih kejam.
“Sari, kamu lari dong! Tapi jangan bikin tanah jadi tambah gelap ya!” teriak seorang anak laki-laki.
Beberapa tertawa. Ada juga yang diam. Tapi diam pun terasa menyakitkan.
Sari menahan air mata. Dadanya sesak. Kakinya terasa lemas. Saat itulah, untuk pertama kalinya, muncul pikiran yang membuatnya takut: Bagaimana kalau aku nggak ada saja?
Di rumah, Sari menjadi lebih pendiam. Ibunya mengira Sari hanya lelah. Ayahnya jarang bertanya. Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam, Sari menangis dalam diam, menggigit bantal agar suaranya tidak keluar.
Ia mulai membenci cermin. Setiap pantulan terasa seperti tuduhan.
Namun, satu hal yang masih ia simpan diam-diam adalah buku gambar di bawah tempat tidur. Sejak kecil, Sari suka menggambar. Ia bisa menghabiskan berjam-jam dengan pensil dan kertas. Tapi belakangan, ia jarang membukanya. Ia takut tanpa sadar menggambar wajahnya sendiri—wajah yang ia benci.
Sampai suatu hari, Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia, memberi tugas menulis cerpen.
“Tuliskan kisah yang paling dekat dengan hati kalian,” katanya. “Tidak perlu indah. Jujur saja.”
Sari menatap kertas kosong. Tangannya berkeringat. Hatinya berdebar. Ia ragu. Tapi perlahan, ia mulai menulis.
Ia menulis tentang seorang anak perempuan yang selalu diejek karena fisiknya. Tentang rasa malu yang menempel seperti bayangan. Tentang keinginan untuk menghilang. Kata-kata itu mengalir begitu saja, seolah selama ini hanya menunggu untuk dikeluarkan.
Air mata jatuh membasahi kertas. Tapi Sari terus menulis.
Saat cerpen itu dikumpulkan dan dibacakan di kelas, suasana berubah. Tidak ada tawa. Tidak ada bisik-bisik.
Beberapa anak terlihat tidak nyaman. Ada yang menunduk. Ada yang menggigit bibirnya sendiri.
“Cerita ini,” kata Bu Ratna pelan, “ditulis oleh seseorang yang sangat berani.”
Sari merasa jantungnya hampir keluar dari dadanya.
Sepulang sekolah, Rina—teman yang dulu sering berkomentar soal penampilannya—mendekat.
“Sari… itu ceritamu, ya?”
Sari mengangguk kecil.
Rina terdiam lama. “Aku minta maaf. Aku pikir cuma bercanda. Aku nggak tahu kalau kata-kataku sejahat itu.”
Itu bukan akhir dari segalanya. Masih ada ejekan. Masih ada luka. Tapi ada perubahan kecil. Ada yang mulai berhenti. Ada yang mulai berpikir.
Dan yang paling penting, Sari mulai berpikir berbeda tentang dirinya sendiri.
Ia kembali menggambar. Kali ini, ia menggambar anak perempuan dengan kulit gelap, rambut kusut, dan mata yang lelah—tapi berdiri tegak. Tidak sembunyi. Tidak menunduk.
Suatu malam, Sari kembali berdiri di depan cermin retaknya. Ia masih melihat kekurangan. Tapi kini, ia juga melihat keberanian kecil yang tumbuh pelan-pelan.
“Aku masih belajar,” bisiknya pada pantulan itu. “Tapi aku layak ada.”
Cermin itu tidak pernah berbohong. Tapi akhirnya, Sari belajar melihat lebih dari sekadar luka.