Di kelas, bangku paling ujung dekat jendela selalu ditempati Nara.
Bukan karena ia suka menyendiri, tapi karena dari situ ia bisa melihat langit tanpa harus banyak bicara.
Nara bukan anak yang menonjol. Nilainya biasa, suaranya pelan, dan jarang ikut bercanda saat yang lain tertawa keras.
Suatu hari, wali kelas memindahkan Reno ke bangku itu. Katanya, supaya Reno tidak terlalu ribut di belakang.
Reno kebalikan dari Nara. Berisik, banyak cerita, dan selalu punya komentar untuk apa pun.
Awalnya Nara merasa terganggu. Reno terlalu sering mengajak bicara, padahal Nara lebih suka diam.
“Kenapa sih kamu suka lihat keluar jendela terus?” tanya Reno suatu pagi.
“Lihat awan,” jawab Nara singkat.
“Memangnya ada apa di awan?”
“Tenang.”
Sejak itu, Reno kadang ikut melihat keluar jendela. Walau tetap saja, lima menit kemudian ia mulai berbicara lagi.
Hari demi hari, mereka mulai terbiasa. Reno bercerita tentang game, tentang kucingnya di rumah, tentang apa pun. Nara jarang membalas panjang, tapi ia mendengarkan.
Suatu siang, Reno tidak masuk sekolah.
Bangku di sebelah Nara kosong. Aneh rasanya. Terlalu sepi.
Nara baru sadar, suara Reno yang dulu terasa mengganggu… ternyata sudah jadi bagian dari harinya.
Besoknya, Reno kembali.
“Eh, kemarin kamu diem banget ya?” kata Reno sambil duduk.
Nara mengangguk.
“Sepi.”
Reno tertawa kecil.
“Baru tahu aku bisa bikin suasana gak sepi.”
Nara ikut tersenyum tipis.
Sejak saat itu, Reno tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya. Sesekali mereka hanya duduk diam, sama-sama melihat ke luar jendela.
Karena ternyata,
kadang persahabatan tidak dimulai dari obrolan panjang,
tapi dari dua orang yang mau berbagi bangku… dan belajar saling mengerti dalam diam.
Author:fida