Dara dan Lio sahabatan sejak kelas tujuh.
Duduk sebangku, kerja kelompok bareng, pulang sekolah selalu satu arah.
Mereka tahu kebiasaan kecil satu sama lain.
Lio tahu Dara tidak suka keramaian.
Dara tahu Lio diam kalau sedang banyak pikiran.
Semua orang mengira mereka lebih dari sekadar teman.
Tapi mereka selalu tertawa kalau digoda,
“Kita mah cuma sahabat.”
Awalnya memang terasa biasa. Ringan. Nyaman. Tanpa beban.
Sampai suatu hari, Dara sadar… ia mulai merasa kehilangan saat Lio lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman barunya di kelas sebelah.
Tidak ada yang salah.
Lio tetap ramah. Tetap perhatian.
Hanya saja, Dara merasa tidak lagi menjadi “orang pertama” seperti dulu.
Malam itu, Dara melihat story Lio tertawa bersama teman-temannya. Ia menatap layar lama, lalu menutup ponselnya pelan.
Bukan cemburu.
Tapi ada rasa sepi yang aneh.
Besoknya, mereka tetap bercanda seperti biasa. Tapi di dalam hati, Dara merasa ada jarak yang tidak terlihat.
Saat istirahat, Dara akhirnya berkata pelan,
“Lio, kita masih sahabatan kan?”
Lio tertawa kecil.
“Ya iyalah, Dar. Kenapa nanya gitu?”
Dara tersenyum, mencoba santai.
“Gak apa-apa. Cuma ngerasa… kita udah gak sedeket dulu.”
Lio terdiam. Baru sadar bahwa tanpa sengaja, ia terlalu sibuk dengan lingkaran barunya.
“Aku gak maksud bikin kamu ngerasa gitu.”
Dara menggeleng pelan.
“Aku cuma kangen yang dulu. Waktu kita selalu cerita apa aja.”
Mereka saling diam sebentar.
Lalu Lio berkata,
“Kadang bukan karena gak mau dekat lagi, Dar. Tapi karena kita tumbuh, ketemu orang baru, dan waktunya kebagi.”
Dara mengangguk. Ia mengerti.
Hari itu mereka pulang bersama lagi. Tidak banyak bicara, tapi rasanya hangat.
Karena mereka sadar,
persahabatan bukan tentang selalu bersama,
tapi tentang tetap merasa dekat… meski jarak mulai ada.
author:fida