Alya dan Bima sudah seperti pasangan.
Berangkat sekolah bareng, pulang bareng, saling kirim pesan tiap malam.
Kalau Alya sakit, Bima yang paling panik.
Kalau Bima ada masalah, Alya yang paling dulu tahu.
Semua orang mengira mereka pacaran.
Tapi setiap kali ditanya, Bima selalu menjawab,
“Cuma teman dekat.”
Alya tahu. Sejak awal memang begitu. Mereka menjalani HTS — hubungan tanpa status.
Awalnya terasa menyenangkan. Tidak ada larangan, tidak ada aturan. Tapi lama-lama, Alya mulai merasa lelah dengan satu hal: perasaannya sendiri.
Suatu sore, Alya melihat Bima bercanda akrab dengan siswi lain. Tertawa lepas, seperti biasanya ia bersama Alya.
Hatinya terasa nyeri.
Malamnya, Bima tetap mengirim pesan.
“Udah makan belum, Alya?”
Alya membaca pesan itu lama. Biasanya ia membalas cepat. Kali ini, ia berpikir.
“Belum.”
“Makan sana, nanti sakit.”
Perhatian kecil itu justru membuat Alya semakin bingung. Bima peduli, sangat peduli. Tapi tak pernah mau memberi kejelasan.
Akhirnya Alya mengetik pelan.
“Kita ini sebenarnya apa sih, Bim?”
Lama Bima tidak membalas.
“Kita kan dari awal cuma teman dekat, Alya…”
Jawaban yang sederhana, tapi terasa berat.
Alya menahan air matanya.
“Tapi perasaanku nggak cuma ‘teman dekat’ lagi.”
Bima terdiam. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa HTS yang selama ini terasa nyaman… ternyata menyakitkan untuk Alya.
“Maaf ya…”
Alya tersenyum pahit.
“HTS itu enak cuma di awal, Bim. Tapi kalau salah satu mulai berharap, rasanya jadi berat.”
Malam itu, chat mereka berhenti lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena bertengkar.
Tapi karena akhirnya Alya memilih berhenti sebelum perasaannya semakin dalam… pada hubungan yang bahkan tidak pernah punya nama.
author:fida