Di SMA Harapan, semua orang mengenal dua hal yang sangat bertolak belakang.
Yang pertama adalah Rei siswa pendiam yang selalu duduk di dekat jendela kelas, membaca buku tanpa peduli keramaian. Wajahnya dingin, jawabannya singkat, dan hampir tidak pernah terlihat tersenyum.
Yang kedua adalah Hana,gadis ceria yang tertawa terlalu keras, menyapa semua orang, dan seolah membawa musim semi ke mana pun ia pergi.
Tidak ada yang menyangka mereka akan duduk berdampingan.
Hari pertama mereka menjadi teman sebangku, Hana langsung tersenyum lebar.
“Hai! Mulai hari ini kita teman ya.”
Rei hanya mengangguk kecil tanpa menoleh.
Hana tidak menyerah.
Ia bercerita tentang klub musik, tentang kucing liar di belakang sekolah, tentang langit yang menurutnya selalu terlihat lebih biru saat sore hari.
Rei tetap diam.
Namun anehnya… ia tidak pindah tempat duduk.
Hari demi hari berlalu.
Hana sering mengeluh, “Kamu dingin banget sih. Minimal senyum sedikit?”
Rei menjawab singkat, “Tidak perlu.”
Namun suatu hari, saat Hana tertidur di kelas karena kelelahan setelah latihan festival sekolah, Rei diam-diam menutup jendela agar angin tidak mengenai wajahnya.
Tidak ada yang melihat.
Kecuali matahari sore.
Sejak itu, hubungan mereka berubah pelan.
Mereka mulai berjalan pulang bersama lebih tepatnya Hana berjalan sambil bicara, dan Rei berjalan sambil mendengarkan.
“Kalau kamu senyum, pasti banyak yang suka,” kata Hana suatu sore.
Rei menoleh sedikit. “Aku tidak butuh banyak orang.”
“Kalau satu orang?”
Rei terdiam.
Hana tertawa, menganggapnya hanya candaan.
Namun bagi Rei, kalimat itu tertinggal lebih lama dari yang ia akui.
Festival sekolah tiba. Hana sibuk sebagai panitia utama, berlari ke sana kemari dengan wajah lelah tapi tetap tersenyum.
Di tengah keramaian, ia tiba-tiba menghilang.
Rei mencari tanpa sadar. Ia tidak tahu kenapa langkahnya terasa gelisah.
Akhirnya ia menemukan Hana di belakang gedung olahraga, duduk sendiri.
Matanya merah.
“Kamu kenapa?” tanya Rei pelan.
Hana tersenyum, tapi kali ini terlihat rapuh. “Capek aja. Kadang… aku juga pengen ada yang nyemangatin aku.”
Rei berdiri canggung. Ia bukan orang yang pandai bicara.
Namun ia duduk di sampingnya.
Tanpa kata, ia memberikan minuman kaleng dingin.
Hana tertawa kecil. “Cara kamu baik itu aneh ya.”
Rei menatap lurus ke depan. “Aku tidak tahu cara lain.”
Untuk pertama kalinya, Hana melihat sesuatu yang berbeda di mata Rei kehangatan yang selama ini tersembunyi.
Malam festival ditutup dengan kembang api.
Langit menyala warna-warni.
Hana berdiri di samping Rei, wajahnya diterangi cahaya merah dan emas.
“Aku senang kamu datang,” katanya.
Rei mengangguk.
“Kamu tahu?” lanjut Hana, “Aku selalu berpikir kamu dingin. Tapi sebenarnya… kamu cuma takut, ya?”
Rei terdiam lama.
Lalu berkata pelan, “Aku takut kehilangan.”
Hana menoleh.
“Aku pernah dekat dengan seseorang,” lanjutnya. “Lalu dia pergi. Sejak itu aku menjaga jarak.”
Hana tersenyum lembut.
“Aku tidak akan pergi begitu saja.”
Suara kembang api terakhir meledak di langit.
Rei menatap Hana , senyum ceria yang tidak pernah lelah itu membuat sesuatu di dalam dirinya perlahan mencair.
“Aku…” ia berhenti, mencari kata.
Hana menunggu.
“Aku suka saat kamu ada di dekatku.”
Hana tertawa kecil, tapi matanya berkaca-kaca. “Itu pengakuan paling romantis yang pernah aku dengar dari orang paling dingin.”
Untuk pertama kalinya, Rei tersenyum.
Sangat kecil.
Namun cukup untuk membuat dunia Hana terasa lebih terang.
Dan di bawah langit festival yang perlahan meredup, cowok dingin dan cewek ceria itu akhirnya berjalan berdampingan tidak lagi sebagai dua dunia yang berbeda, tetapi sebagai cerita yang baru saja dimulai.