Paris, 16 Oktober 1793. Langit pagi itu berwarna abu-abu, seolah-olah semesta sedang malas menyaksikan pertunjukan darah yang telah dijadwalkan oleh manusia. Di dalam sel penjara Conciergerie yang lembap dan berbau pesing, seorang wanita duduk membeku. Dia bukan lagi "Madame Déficit" yang dibenci karena berlian dan pesta Versailles. Dia hanyalah seorang janda yang disebut "Capet" oleh para algojo yang haus akan kesetaraan yang dipaksakan.
Dulu, hidupnya adalah simfoni kemewahan. Voltaire, jika ia masih hidup dan tidak sedang sibuk menguliti kemunafikan gereja, mungkin akan tertawa sinis melihat ironi ini. Optimisme, katanya, adalah kegilaan untuk mempertahankan bahwa semuanya baik-baik saja ketika kita sedang sial. Dan Marie Antoinette, dalam kenaifannya yang aristokratis, telah menjadi penganut optimisme itu terlalu lama.
Lihatlah dia sekarang. Rambutnya yang dahulu menjulang tinggi, dihiasi bulu burung unta dan miniatur kapal perang, kini telah dipangkas paksa oleh tangan kasar algojo. Pendek, putih, dan berantakan. Tidak ada lagi parfum fleur-de-lis; hanya bau ketakutan dan sisa-sisa pendarahan rahim yang menggerogoti fisiknya.
Dia mengenakan gaun putih sederhana. Putih, warna kesucian atau mungkin warna penyerahan diri. Para citoyen—warga negara yang kini merasa menjadi tuhan atas nasib orang lain—menunggu di luar. Mereka adalah produk dari sebuah sistem yang gagal, yang merasa bahwa satu kepala ratu yang jatuh akan secara ajaib mengisi perut mereka yang kosong dengan roti. Plot twist: sejarah membuktikan bahwa darah jarang sekali bisa mengenyangkan perut.
Berbeda dengan suaminya, Louis XVI, yang dibawa ke tempat eksekusi dengan kereta tertutup yang bermartabat, Marie dipermalukan dengan kereta terbuka. Sebuah gerobak sampah. Dia duduk tegak, tangannya diikat ke belakang dengan tali yang mengiris kulit pucatnya.
"Lihat si pelacur Austria itu!" teriak seorang wanita dari kerumunan, wajahnya penuh amarah yang telah mengkristal selama bertahun-tahun.
Marie tidak menoleh. Dia menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong namun tajam. Inilah cancel culture dalam bentuknya yang paling primitif dan mematikan. Di Versailles, dia adalah ikon fashion; di jalanan Paris ini, dia hanyalah konten untuk drama revolusi yang haus darah. Voltaire mungkin akan mencatat: “Sangat berbahaya untuk menjadi benar dalam hal-hal di mana otoritas yang berkuasa salah.” Dan dalam hal ini, "otoritas" itu adalah massa yang sedang mengamuk (the mob).
Setiap guncangan roda gerobak di atas jalanan berbatu Paris terasa seperti hantaman pada martabatnya. Dia melewati Istana Tuileries, tempat di mana sisa-sisa kejayaannya pernah bernapas. Kenangan tentang tarian, tawa anak-anaknya, dan aroma cokelat panas di pagi hari terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh. Sekarang, satu-satunya aroma yang nyata adalah bau keringat massa dan karat besi.
Sampailah dia di Place de la Révolution. Di tengah alun-alun itu berdiri sang "Pisau Nasional", Guillotine. Sebuah mesin yang efisien, dingin, dan sangat demokratis—karena ia memisahkan kepala dari tubuh tanpa memandang kasta.
Marie turun dari gerobak. Langkahnya goyah namun ia menolak untuk terlihat hancur. Saat menaiki tangga kayu yang licin, ia secara tidak sengaja menginjak kaki Henri Sanson, sang algojo.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja melakukannya," bisiknya.
Itulah kata-kata terakhirnya. Sebuah kesopanan terakhir di tengah kebiadaban yang luar biasa. Bahkan di ambang kematian, etiket aristokratnya tidak goyah. Voltaire pasti akan tersenyum kecut melihat ini; betapa manusia lebih mementingkan tata krama saat nyawanya akan dicabut oleh mesin yang dirancang untuk kesetaraan.
Dia dibaringkan di atas papan kayu. Lehernya diletakkan di bawah lengkungan pisau baja yang berat. Langit Paris yang kelabu adalah hal terakhir yang ia lihat. Dia memikirkan anak-anaknya—Louis-Charles yang malang, yang kini dicuci otaknya untuk membenci ibunya sendiri. Kesedihan itu jauh lebih tajam daripada pisau yang menggantung di atasnya.
Crak!
Suara itu singkat. Tidak ada drama panjang. Pisau jatuh dengan kecepatan gravitasi yang tidak memihak. Dalam satu detik, identitas "Marie Antoinette", Ratu Prancis dan Navarre, berakhir.
Algojo mengangkat kepala itu. Rambut putih yang berlumuran darah merah pekat. Massa bersorak, "Vive la République!" Mereka mengira bahwa dengan jatuhnya kepala ini, kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan akan otomatis lahir. Mereka lupa bahwa revolusi sering kali seperti Saturnus—ia memakan anak-anaknya sendiri.
Darah sang Ratu meresap ke dalam kayu guillotine, lalu menetes ke tanah Paris. Jasadnya dilemparkan ke dalam lubang tanpa nama di pemakaman Madeleine, ditutupi kapur agar cepat hancur.
Ironinya, kematiannya tidak membawa roti yang mereka dambakan. Kematiannya hanyalah katalis untuk periode Reign of Terror yang jauh lebih gelap, di mana mereka yang bersorak hari ini, mungkin akan menjadi korban di atas mesin yang sama esok hari.
Marie Antoinette bukan martir, tapi dia juga bukan monster yang digambarkan sejarah. Dia hanyalah manusia yang terjebak dalam pergulatan zaman yang tidak ia pahami. Dia adalah pengingat bahwa kekuasaan itu fana, dan kebencian massa adalah gelombang yang bisa menenggelamkan siapa saja yang gagal membaca arah angin.
Sebagaimana kutipan satir yang sering diatribusikan pada Voltaire: "Manusia akan bebas hanya ketika raja terakhir dicekik dengan usus pendeta terakhir." Namun di hari itu, di Paris, yang terlihat bukanlah kebebasan, melainkan hanya kesedihan mendalam yang dibungkus dalam sorak-sorai penuh dendam.
Mahkota itu telah hancur dan jatuh ke lumpur nan pekat!