Bel masuk berbunyi seperti biasa. Tidak terlalu keras, tidak terlalu peduli. Anak-anak mulai masuk kelas dengan wajah yang sama setiap hari—lelah, kosong, dan sedikit waspada. Papan tulis masih bersih. Kapur tergeletak utuh di atas meja guru. Pelajaran pertama hari itu Matematika, tapi bukan angka yang bikin perutku mual.
Aku duduk di bangku belakang, tempat yang aman sekaligus berbahaya. Aman karena guru jarang menoleh. Berbahaya karena di sanalah hal-hal sering terjadi tanpa saksi. Ketika guru belum datang, kelas tidak benar-benar kosong. Suara kursi digeser, tawa kecil, dan bisikan yang tidak pernah terdengar ramah.
“Eh, sini lo,” kata seseorang dari belakangku.
Aku pura-pura tidak dengar. Menatap buku, meski halaman itu kosong. Tangan dingin. Napas dipendekkan. Lalu tas ditarik.
Bukan pertama kali. Dan mungkin bukan yang terakhir. Aku tidak berteriak. Tidak pernah. Aku sudah belajar bahwa suara hanya membuat segalanya lebih lama.
Dorongan kecil ke bahu. Pukulan ringan, cukup untuk mengingatkan bahwa aku lebih lemah. Tertawa pelan. Tidak ada yang menoleh. Kelas ini penuh, tapi rasanya seperti aku sendirian.
Guru akhirnya masuk. Semua kembali rapi dalam hitungan detik. Bangku diluruskan. Wajah berubah polos. Seolah-olah barusan tidak terjadi apa-apa.
“Buka buku halaman 23,” kata guru.
Aku membuka buku dengan tangan gemetar. Angka-angka menari, tapi kepalaku masih tertinggal di belakang, di momen saat aku didorong, saat aku dipilih karena diam.
Guru menjelaskan dengan semangat. Tentang rumus. Tentang nilai. Tentang masa depan. Tak ada satu pun yang membahas cara bertahan hidup di dalam kelas.
Jam pelajaran terasa panjang. Bukan karena sulit, tapi karena aku menunggu bel istirahat dengan rasa takut yang sama seperti menunggu bel masuk. Saat istirahat, sebagian anak keluar kelas. Sebagian tetap tinggal. Termasuk aku. Aku pikir aman. Ternyata tidak.
“Ngapain lo diem terus sih?”
Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi nadanya tidak. Aku mengangkat bahu. Salah. Jawaban apa pun selalu salah. Siku menghantam meja di depanku. Bukan keras, tapi cukup membuat jantungku berhenti sepersekian detik.
“Becanda doang,” kata mereka sambil tertawa.
Becanda adalah kata yang paling sering dipakai untuk menyembunyikan kekerasan. Aku menunduk. Menghitung detik. Sampai bel berikutnya berbunyi, menyelamatkanku tanpa benar-benar menyelamatkan.
Hari berjalan seperti itu terus. Pelajaran datang dan pergi. Guru mengajar. Murid mencatat. Dan di sela-selanya, luka kecil dikumpulkan rapi, disimpan di tempat yang tidak terlihat. Aku tidak benci sekolah. Aku benci bagian yang tidak tertulis di buku.
Tidak ada pelajaran tentang bagaimana rasanya duduk di kelas sambil berharap tidak dipilih hari ini. Tidak ada ujian tentang menahan marah dan takut bersamaan. Tidak ada nilai untuk bertahan tanpa melawan. Saat pulang, seragamku masih rapi. Tak ada darah. Tak ada lebam yang terlihat. Orang-orang bilang aku baik-baik saja.
Mereka tidak tahu bahwa yang ku takuti bukan pelajaran. Bukan nilai.Bukan ujian. Yang ku takuti adalah suara tawa di belakang, tarikan tas yang tiba-tiba, dan hari esok yang terasa sama persis seperti hari ini.