Satria menyadari bahwa berpindah-pindah rumah hanyalah solusi sementara yang melelahkan. Paket berisi jari busuk dan kehadiran monyet di tanah kosong itu adalah peringatan: iblis pesugihan tidak mengejar raga Leni, melainkan ingin menguasai jiwanya melalui rasa takut.
"Leni," ucap Satria malam itu sambil menggenggam tangan istrinya yang dingin. "Kita salah. Selama ini kita lari ke manusia, ke Mbah Guno, ke jimat, ke tempat sembunyi. Kita lupa siapa pemilik nyawa kita yang sebenarnya. Kita harus hadapi ini dengan iman, bukan dengan ketakutan."
Leni menangis tersedu. "Aku takut, Mas. Aku merasa kotor karena pernah berada di tempat musyrik itu."
"Allah Maha Pengampun, Leni. Mari kita bersujud."
Perjalanan Penebusan
Satria memutuskan untuk membawa Leni kembali ke jalur ziarah yang pernah dilalui Bu Marni, namun kali ini tujuannya bukan untuk sesajen, melainkan untuk melakukan ruqyah mandiri di tempat fitnah itu bermula. Mereka tidak membawa bunga, kemenyan, apalagi sesajen. Mereka hanya membawa mukena, sarung, Al-Qur'an, dan air zam-zam.
Mereka tiba di perbatasan Garut-Tasik saat petang. Pohon beringin rindang itu masih berdiri tegak, tampak seperti raksasa hitam yang menelan cahaya. Suasana mencekam langsung menyergap. Suara geraman monyet terdengar dari segala penjuru, seolah memperingatkan mereka agar tidak mendekat.
"Mas... aku takut," bisik Leni.
"Bacalah Ayat Kursi, Leni. Jangan putus zikirmu. Iblis itu lemah jika kita bersandar pada Yang Maha Kuat," Satria menguatkan.
Malam Ketauhidan
Tepat pukul 00.00, mereka tidak mencari makam tanpa nama itu. Mereka mencari tanah yang bersih di bawah pohon beringin tersebut. Satria membentangkan sajadah. Ia mengumandangkan Azan dengan suara yang sangat lantang.
Setiap kali kalimat Allahu Akbar bergema, hutan yang tadinya gaduh dengan suara monyet mendadak sunyi. Angin kencang bertiup, mencoba menggoyahkan berdiri Satria, namun ia tetap teguh. Setelah Azan, Satria dan Leni melaksanakan shalat taubat dan shalat hajat langsung di bawah naungan pohon yang dianggap keramat itu.
Selesai shalat, Satria mulai membacakan ayat-ayat Ruqyah Syariyyah dari surah Al-Baqarah. Leni yang duduk di belakangnya mulai bereaksi. Tubuhnya bergetar hebat. Ia merasa sesuatu yang panas bergejolak di perutnya.
Tiba-tiba, dari kegelapan muncul sosok-sosok monyet hitam dengan wajah mengerikan. Mereka mengepung sajadah Satria, namun anehnya, mereka seolah terbentur dinding tak kasat mata setiap kali mendekat. Di dahan beringin, nampak bayangan Bu Marni yang compang-camping, berteriak tanpa suara, menuntut janji yang belum usai.
"Demi Allah yang menguasai langit dan bumi!" Satria berseru di sela bacaannya. "Segala ikatan syirik, segala kontrak iblis, dan segala persekutuan gelap ini batal demi kalimat Laa ilaha illallah! Pergilah kalian wahai musuh-musuh Allah!"
Leni memuntahkan cairan bening yang sangat banyak, hingga rasanya seluruh beban di perutnya luruh. Bersamaan dengan itu, pohon beringin tua itu tiba-tiba tersambar petir meski langit tidak sedang hujan. Suara pekikan monyet meledak, lalu hilang ditelan angin malam.
Cahaya di Subang
Mereka tidak berhenti di situ. Sebelum pulang ke Kebumen, Satria membawa Leni kembali ke Subang, ke rumah Bu Marni yang kini sudah disegel warga karena kasus penipuan dan kematian Marni yang misterius.
Rumah itu kini terasa gelap dan bau. Satria masuk ke dalam, bukan untuk mengambil barang, tapi untuk menyiramkan air yang sudah dibacakan doa ke setiap sudut ruangan yang dulu dijadikan tempat ritual. Ia membakar semua sisa-sisa kain kuning dan patung-patung aneh yang ditemukan di sana.
"Kita putus hubungan dengan tempat ini, bukan dengan cara menghapus kontak, tapi dengan cara membersihkan jiwa kita dari rasa takut kepada selain Allah," tegas Satria.
Leni merasa hatinya mendadak ringan. Bayangan Bu Marni yang selalu menghantuinya kini lenyap, berganti dengan perasaan tenang yang luar biasa.
Akhir yang Menggantung (Namun dalam Perlindungan)
Leni dan Satria kembali ke Kebumen. Mereka tidak lagi mencari dukun atau orang pintar. Setiap malam, rumah mereka kini menggema dengan suara pengajian. Pohon mangga di samping rumah mereka tetap ada, namun tidak ada lagi monyet yang bertengger di sana.
Suatu pagi, Leni menemukan sebuah surat di bawah pintu rumahnya. Ia sempat gemetar, mengira itu teror baru. Namun saat dibuka, isinya hanyalah selembar kertas putih kosong yang di tengahnya terdapat bercak tanah merah—tanah dari makam di Garut.
Leni terdiam sejenak, lalu ia tersenyum. Ia mengambil kertas itu dan membakarnya sambil mengucap, "Hasbunallah wa ni'mal wakil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung)."
Leni menatap ke arah cermin. Ia melihat dirinya yang kini berhijab rapi, matanya jernih, dan perutnya benar-benar rata. Namun, saat ia berbalik untuk keluar kamar, sayup-sayup ia mendengar suara bisikan dari arah lubang ventilasi udara... sebuah suara parau yang sangat ia kenal, memanggil namanya satu kali: "Leni..."
Leni tidak menoleh. Ia terus melangkah menuju sajadahnya untuk melaksanakan shalat Dhuha. Ia tahu, gangguan mungkin akan tetap ada, tapi ia juga tahu bahwa tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang bisa menyentuhnya selama ia berada di bawah perlindungan Sang Pencipta.
Di atas atap rumah, seekor monyet kecil duduk diam. Ia tidak menyerang, hanya mengamati. Ia seolah menunggu celah, menunggu saat di mana iman manusia di dalam rumah itu goyah sedikit saja. Pertarungan antara cahaya dan kegelapan ini mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai sampai akhir hayat, namun Leni sudah tahu senjata apa yang harus ia pegang.
TAMAT