Teriakan Leni malam itu bukan sekadar jeritan kesakitan, melainkan suara yang terdengar seperti gesekan antara logam dan tulang. Satria mendobrak pintu kamar mandi dan menemukan istrinya tersungkur di lantai ubin yang dingin, tangannya mencengkeram perut yang kini bergerak-gerak liar, seolah-olah ada sesuatu yang sedang berputar di dalamnya.
"Mas... perih, Mas! Di dalam ada yang mencakar!" Leni merintih, wajahnya pucat pasi dengan urat-urat biru yang menonjol di lehernya.
Satria tidak punya waktu lagi untuk berlogika. Ia segera membopong Leni ke mobil. Tujuan mereka adalah rumah Mbah Guno, seorang sesepuh di pinggiran Kebumen yang dikenal paham akan urusan "perjanjian gelap" yang dibawa dari tanah seberang.
Sepanjang perjalanan, teror tidak berhenti. Di atap mobil Satria, terdengar suara benda berat yang melompat-lompat. Buk! Buk! Buk! Lampu jalanan berkedip-kedip setiap kali mereka melintas, dan aroma busuk kembang melati yang sudah layu kembali memenuhi kabin mobil, padahal semua kaca tertutup rapat.
Tiba di rumah Mbah Guno, sang orang tua itu sudah berdiri di teras seolah telah menunggu kedatangan mereka. Wajahnya yang keriput tampak sangat serius.
"Bawa masuk! Cepat!" perintah Mbah Guno.
Leni dibaringkan di atas bale-bale bambu. Mbah Guno mengambil segelas air putih dan membacakan sesuatu. Begitu air itu dipercikkan ke perut Leni, rahimnya mengeluarkan suara desisan, seperti air yang disiram ke bara api. Leni melengkungkan tubuhnya, matanya memutih.
"Suamimu benar, Satria," ucap Mbah Guno pelan. "Ini bukan janin manusia. Ini adalah Sawat, benih ghaib yang ditanam di makam pohon beringin itu. Bu Marni tidak hanya butuh tumbal, dia butuh 'wadah' untuk melahirkan kembali entitas pesugihannya agar kekayaannya abadi."
"Tolong, Mbah... cabut kutukan ini," Satria memohon sambil memegang tangan Leni yang dingin.
Mbah Guno menggeleng lemah. "Memutus kontak di HP itu mudah, tapi memutus kontrak darah itu urusan nyawa. Leni sudah makan dan minum dari hasil pesugihan itu selama di Subang. Dia sudah 'terisi'."
Mbah Guno memulai ritualnya. Ia membakar kemenyan dan meletakkan sebuah cermin besar di depan Leni. "Leni, lihat ke cermin! Jangan kedip! Sebutkan namamu dan katakan bahwa kamu bukan milik siapa-siapa selain Gusti Allah!"
Leni menatap cermin dengan sisa tenaganya. Di dalam pantulan cermin, ia tidak melihat dirinya sendiri. Ia melihat sosok Bu Marni yang sedang tertawa, dikelilingi oleh monyet-monyet yang wajahnya mirip dengan mantan penghuni kosan yang hilang secara misterius.
"Leni... kembalilah ke Subang... bayimu sudah lapar..." Suara Bu Marni terdengar dari dalam cermin, menggema di seluruh ruangan.
"TIDAK! SAYA BUKAN MILIK KAMU!" teriak Leni.
Seketika, perut Leni mengeluarkan cahaya merah redup. Mbah Guno mengambil sebuah keris kecil dan menyentuh pusar Leni. Bau bangkai yang sangat menyengat memenuhi ruangan. Tiba-tiba, dari mulut Leni keluar cairan hitam kental dan segumpal rambut yang terikat dengan kain kuning—kain yang sama yang dilihat Leni di pemakaman Garut.
Mbah Guno segera mengambil bungkusan itu dan membakarnya di dalam sebuah periuk tanah liat. "Pergi! Kembali ke tuanmu!"
Kemarahan di Subang
Di saat yang bersamaan, di Subang, Bu Marni yang sedang melakukan ritual di kamar rahasianya tiba-tiba terjungkal. Kamar kos yang tadinya rapi mendadak hancur berantakan. Patung monyet emas koleksinya retak dan pecah berkeping-keping.
Marni berteriak histeris. Kulitnya yang tadinya kencang karena hasil pesugihan mendadak mengendur dan membusuk dalam hitungan detik. Ia merangkak menuju pintu, namun langkahnya tertahan oleh bayangan hitam monyet-monyet yang ia pelihara. Mereka tidak lagi melindunginya, melainkan menuntut hak mereka karena kontrak telah diputus secara paksa oleh pihak luar.
"Jangan! Ampun!" jerit Marni saat monyet-monyet itu mulai mengerubunginya.
Kembali ke Kebumen. Leni pingsan setelah mengeluarkan gumpalan hitam tersebut. Perutnya perlahan mengecil kembali ke ukuran normal. Mbah Guno menyeka keringat di dahinya.
"Sudah selesai, Mbah?" tanya Satria lega.
Mbah Guno terdiam lama, menatap periuk tanah liat yang isinya sudah menjadi abu. "Kontraknya sudah putus dari tubuh Leni... tapi..."
"Tapi apa, Mbah?"
"Dendam pesugihan itu seperti bayangan. Ia akan selalu mencari jalan pulang. Kalian harus pergi dari sini. Jangan tinggal di rumah yang ada pohon rindangnya."
Beberapa minggu kemudian, Leni dan Satria pindah ke sebuah perumahan baru yang gersang, tanpa pepohonan besar. Leni mulai pulih, meski ia selalu merasa ada yang mengawasinya dari balik kegelapan.
Suatu sore, saat Leni sedang melipat baju, ia menemukan sebuah kiriman paket tanpa nama pengirim di depan pintu rumahnya. Isinya adalah sebuah kotak kayu kecil. Leni membukanya dengan ragu. Di dalamnya terdapat sebuah kartu SIM lama miliknya yang sudah hancur—kartu yang dulu dibuang Satria di pinggir jalan tol Subang—beserta sepotong jari manis manusia yang masih memakai cincin yang sangat dikenal Leni.
Itu adalah cincin milik Bu Marni.
Di balik kotak itu ada tulisan darah yang sudah mengering: "Nomormu memang hilang, tapi bau darahmu sudah dicatat oleh penjaga beringin."
Leni menoleh ke jendela. Di seberang jalan, di sebuah tanah kosong yang baru ditanami bibit pohon beringin kecil, duduk seekor monyet besar yang terus menatap ke arah jendelanya sambil menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi manusia yang tajam.
Leni gemetar. Ia menyadari satu hal: Bu Marni mungkin sudah tiada, tapi "majikan" Bu Marni baru saja menemukan alamat barunya.
(Bersambung)