Hidup Rian Pratama setelah menikahi Mawar sebenarnya sudah mencapai level zen. Tidak ada lagi tagihan kartu kredit yang meledak atau drama lifestyle yang melelahkan. Namun, Calista Adiningrat rupanya belum bisa menerima kenyataan bahwa ia kalah telak dari seorang gadis yang hobi mengoleksi kupon diskon deterjen.
Bagi Calista, Rian adalah aset. Dan aset sehebat Rian tidak boleh jatuh ke tangan perempuan yang bahkan tidak tahu bedanya make up dan skincare.
Suatu malam, Rian harus menghadiri acara gala dinner bisnis. Calista tahu ini kesempatannya. Ia merancang rencana klasik yang biasanya hanya ada di sinetron atau naskah fiksi yang pernah dibaca Elena (sang penulis naskah selendang).
Calista berhasil menyelinap ke ruang tunggu pribadi Rian di hotel tempat acara berlangsung. Ia sudah menyiapkan minuman yang sudah dicampur "sesuatu" agar Rian limbung, lalu ia akan memapah Rian ke kamar, memotret keadaan mereka di tempat tidur, dan boom! Skandal terjadi, Rian terpaksa menceraikan Mawar karena tekanan publik.
"Rian, you look so stressed," ucap Calista sambil menyodorkan segelas wiski. "Minum dulu, biar rileks."
Rian yang memang sedang pening karena urusan saham, baru saja hendak menyentuh gelas itu. Namun, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan debuman yang tidak santai.
Mawar muncul. Ia tidak memakai gaun malam seharga ratusan juta. Ia memakai daster batik premium (yang paling bagus miliknya) yang dipadukan dengan jaket denim kekinian dan sneakers putih. Di belakangnya, Abah Jajang dan Emak Idah mengekor, masing-masing membawa tas kresek berisi buah tangan.
"Aduh, Cep Rian! Ulah dileueut eta teh!" (Jangan diminum itu!) teriak Mawar.
Calista berdiri, wajahnya memerah karena emosi. "Heh, perempuan kampung! Ngapain kamu ke sini bawa rombongan sirkus? Ini acara high-class!"
Mawar berjalan tenang, lalu merebut gelas dari tangan Rian. Ia mencium aromanya. "Neng Calista, Mawar mah emang orang kampung, tapi hidung Mawar ini terlatih nyium bau pesing di kandang ayam sama bau obat kimia. Ieu minuman teh baunya aneh, kayak obat tidur dosis tinggi yang biasa dipake Abah buat nenangin domba yang mau kawin!"
Abah Jajang mengangguk mantap. "Bener, Cep. Bau obat bius domba eta mah. Abah apal pisan!"
Calista panik. Ia mencoba merebut kembali gelas itu. "Jangan ngasal ya! Kamu cuma iri karena nggak bisa sekelas sama aku!"
PLAK!
Satu tamparan mendarat telak di pipi Calista. Bukan dari Rian, tapi dari Mawar. Ruangan mendadak hening. Calista memegang pipinya yang mulai panas, matanya melotot tidak percaya.
"Neng Calista, dengerin Mawar," suara Mawar mendatar namun menusuk, gaya bicara savage yang sangat disukai netizen. "Mawar diem bukan berarti Mawar bodoh. Mawar hemat bukan berarti Mawar nggak punya harga diri. Neng mau jebak suami Mawar biar tidur sama Neng? Di Sukabumi, kelakuan kayak gini namanya PELAKOR—Perebut Laki Orang. Dan pelakor di kampung Mawar biasanya dimandiin air got!"
Emak Idah menimpali sambil berkacak pinggang, "Enya! Pelakor teh penyakit masyarakat! Geulis-geulis tapi niatna busuk kayak terasi basi!"
Rian yang tadinya limbung kini tersadar sepenuhnya. Ia menatap Calista dengan pandangan paling dingin yang pernah ia miliki. "Calista, mulai detik ini, semua kerjasama perusahaan kita putus. Dan jangan harap kamu bisa masuk ke lingkungan bisnis manapun di Jakarta setelah rekaman CCTV ruangan ini saya sebar."
Calista gemetar. Ia sadar ia telah membangunkan macan yang salah. Rian bukan lagi CEO yang bisa dimanipulasi; ia sekarang punya "sistem pertahanan" yang tak tertembus.
"Mawar... maafkan aku," isak Calista, mencoba berakting melas.
"Maaf mah gratis, Neng. Tapi harga diri Mawar dan suami Mawar itu priceless, nggak bisa dibeli pake barang-barang mewah Neng," sahut Mawar sambil menggandeng lengan Rian. "Hayu, Cep, urang mulang. Di rumah Mawar udah masak sayur asem sama sambal dadak. Lebih sehat daripada wiski campur obat domba."
Mereka keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak. Abah Jajang sempat menoleh ke arah Calista yang masih menangis. "Neng, bilih hoyong tobat, di Sukabumi aya pesantren. Enak di sana mah, hatinya tenang, nggak usah mikirin suami orang."
Malam itu, di balkon apartemen sambil makan nasi liwet beralaskan daun pisang, Rian menatap istrinya dengan penuh kekaguman.
"Mawar, sejak kapan kamu jadi jago nampar gitu?" tanya Rian sambil tertawa kecil.
"Tadi mah reflek, Cep. Habisnya gemes, masa suami Mawar yang affordable dan limited edition ini mau dicuri sama barang KW kayak gitu," jawab Mawar sambil menyuapi Rian kerupuk.
Rian tersenyum. Hartanya memang aman di tangan Mawar, tapi yang lebih penting, hidupnya kini aman dari segala kepalsuan. Calista kini resmi menyandang gelar "Pelakor Gagal" di seluruh grup WhatsApp sosialita Jakarta, sementara Mawar tetap menjadi juara di hati Rian.