Wajah itu terpampang di billboard raksasa di pusat kota. Bibirnya merah sempurna, matanya berbinar penuh binar buatan, dan kulitnya sehalus porselen. Revanita Salsabila. Nama itu adalah jaminan rating, magnet bagi iklan, dan pujaan bagi jutaan penggemar. Namun, bagi gadis yang kini duduk meringkuk di sudut kamar mandi apartemennya yang mewah, nama itu adalah kutukan.
Reva memandangi tangannya yang gemetar. Di luar, suara manajernya, Mbak Tari, menggedor pintu dengan panik. "Reva! Sepuluh menit lagi kita harus berangkat ke Gala Premiere! Tolong, Va, jangan begini lagi!"
Reva tidak menjawab. Dia sedang berada di fase rendah—fase depresif dari gangguan bipolar yang didiagnosis psikolognya setahun lalu. Dunia terasa berat, oksigen terasa tipis, dan prestasi yang dipuji-puji orang di luar sana hanyalah beban yang meremukkan tulangnya.
Semua ini dimulai saat Reva berusia enam tahun. Saat anak-anak lain sibuk mengejar kupu-kupu atau menangis karena es krimnya jatuh, Reva sudah harus menghafal naskah iklan sereal. Ibunya, Widya, adalah seorang single parent yang keras hati. Ayah Reva pergi entah ke mana saat Reva masih balita, meninggalkan hutang yang menumpuk dan luka yang menganga.
Widya melihat kecantikan Reva sebagai tiket keluar dari kemiskinan. Reva tidak pernah diajak bermain ke taman, dia diajak dari satu casting ke casting lain.
"Senyum, Reva! Kalau kamu nggak dapet peran ini, kita nggak makan!" bisik ibunya tajam di belakang kamera.
Reva kecil belajar satu hal: kasih sayang ibunya berbanding lurus dengan jumlah uang yang ia bawa pulang. Dia bukan seorang putri di mata ibunya; dia adalah mesin ATM. Setiap kali Reva mengeluh capek, Widya akan selalu mengungkit pengorbanannya sebagai ibu tunggal yang dikhianati suaminya. Reva merasa bersalah atas kemalangan ibunya, dan rasa bersalah itulah yang memborgolnya di dunia hiburan.
Memasuki masa SMP, hidup Reva semakin terbelah. Dia adalah bintang sinetron remaja yang naik daun, tapi di sekolah, dia adalah orang asing. Karena jadwal syuting yang padat, Reva jarang masuk. Kursinya lebih sering kosong daripada terisi.
Hal ini memicu kecemburuan dan kebencian teman-temannya. Setiap kali Reva masuk sekolah, bisik-bisik tetangga di koridor terdengar seperti desis ular.
"Liat tuh, si artis sombong masuk juga akhirnya," sindir segerombolan siswi di kantin.
"Pasti nilainya hasil nyuap guru. Mana mungkin anak yang kerjaannya cuma dandan bisa pinter?"
Pernah suatu hari, tas Reva disembunyikan dan buku-bukunya dicorat-coret dengan kata-kata kasar: "Anak Kurang Kasih Sayang", "Cari Muka", "Artis Karbitan". Reva tidak melawan. Dia hanya menunduk. Di lokasi syuting dia dipuja, tapi di sekolah, dia dikucilkan layaknya penderita kusta. Dia merindukan sosok ayah yang bisa melindunginya, yang bisa memarahi orang-orang yang menjahatiny, namun sosok itu hanya ada dalam naskah sinetronnya.
Kini, di usia 23 tahun, Reva berada di puncak segalanya. Dia bisa akting, menyanyi, dan menari. Tapi prestasinya adalah bensin bagi api kecemburuan rekan sesama artis. Di depan kamera, mereka memeluk Reva dengan hangat, namun di belakang, mereka menyebarkan rumor jahat tentang temperamen Reva yang naik-turun.
Mereka tidak tahu bahwa temperamen itu adalah Bipolar. Ada hari di mana Reva merasa sangat bersemangat, bekerja 20 jam tanpa lelah, tertawa keras, dan menghabiskan uang secara impulsif—fase manik. Namun, keesokannya, dia bisa jatuh ke lubang gelap yang sangat dalam, menangis tanpa henti, dan ingin mengakhiri segalanya.
Masalah asmara? Reva adalah tembok yang tak tertembus. Banyak aktor tampan dan pengusaha kaya mencoba mendekat, tapi Reva ketakutan. Baginya, laki-laki adalah sosok yang akan pergi saat segalanya sulit, persis seperti ayahnya. Dia takut jika dia menunjukkan sisi rapuhnya, mereka akan jijik dan meninggalkannya. Dia merasa dirinya rusak, dan orang rusak tidak pantas dicintai.
"Reva, kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai," kata dr. Aris, psikolognya, dalam sesi mingguan mereka.
Reva tertawa getir, air mata menetes di pipinya yang tanpa riasan. "Dok, kalau saya tidak sempurna, ibu saya tidak akan melihat saya. Kalau saya tidak sempurna, penggemar saya akan pergi. Dan kalau saya tidak sempurna, musuh-musuh saya akan menang."
Batinnya lelah. Dia rajin meminum obat, mencoba menyeimbangkan zat kimia di otaknya, tapi luka masa kecilnya terlalu luas untuk ditutup oleh sebutir pil.
Malam itu, setelah Gala Premiere yang melelahkan, di mana dia harus berpura-pura bahagia di depan ribuan orang, Reva pulang ke apartemennya. Dia melihat ponselnya. Ada pesan dari ibunya: "Reva, cicilan rumah mewah yang baru jangan lupa dibayar besok. Ibu juga butuh tas baru buat acara arisan."
Tidak ada tanya "Kamu capek?" atau "Apa kabar batinmu?".
Reva berjalan ke balkon apartemennya di lantai 32. Angin malam metropolitan yang penuh polusi terasa dingin menyentuh kulitnya. Di bawah sana, lampu kota berkelap-kelip, mirip dengan lampu kilat kamera yang selama ini memburunya.
Dia berdiri di tepian balkon. Menatap langit tanpa bintang. Antara ingin menyerah pada kegelapan atau terus bertahan dalam sandiwara yang menyiksa.
Reva mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat di media sosialnya yang memiliki 50 juta pengikut. Pesan itu hanya berisi satu kata:
"Maaf."
Dia meletakkan ponselnya di lantai balkon. Reva memejamkan mata, merentangkan tangannya, merasakan angin kencang menerpa wajahnya. Dia teringat wajah ayahnya yang samar, wajah ibunya yang menuntut, dan wajah teman-temannya yang mencibir.
Tiba-tiba, pintu balkon terbuka dengan keras. Mbak Tari atau mungkin seseorang yang lain berteriak histeris memanggil namanya. Reva tidak menoleh. Dia condongkan badannya ke depan, berat tubuhnya kini sepenuhnya ditopang oleh gravitasi...