Malam itu sunyi, seperti sudah tahu bahwa ia adalah malam terakhir.
Aku duduk di rumahnya, menatap ruang yang sebentar lagi tak lagi menjadi saksi apa pun tentang kami. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada larangan. Hanya keheningan yang terlalu dewasa untuk disebut perpisahan.
Aku tidak ingin terlalu sakit lagi.
Bagiku, melihatnya bahagia sudah cukup meski bahagia itu tidak lagi menyertakan namaku. Ia tampak santai, lebih rileks, seolah kepergianku adalah beban yang akhirnya bisa ia lepaskan. Aku sempat berharap, mungkin kali ini ia akan menahanku. Tapi harapan itu runtuh bahkan sebelum sempat berdiri. Ternyata, itu hanya mimpi yang terlalu sering kupeluk sendiri.
Namaku Adinda.
Namanya Abdul.
Kami pacar online selama satu tahun empat bulan
yang tak pernah benar-benar saling hadir. Tidak ada panggilan video. Tidak ada telepon panjang hingga tertidur. Hanya chat. Kata-kata. Dan sesekali, suara nyanyiannya lewat rekaman suara. Aku tak pernah tahu, apakah suara itu benar-benar miliknya. Segalanya terasa seperti tabu, samar, dan tak pernah utuh.
Di hubungan ini, aku yang paling sering bertanya kabar.
Aku yang paling protektif.
Aku yang paling sering memastikan ia baik-baik saja.
Sementara ia… datang dan pergi seperti jadwal yang tak pernah bisa kutandai.
Ia pernah menghilang dua bulan penuh.
Tanpa kabar. Tanpa penjelasan.
Saat kembali, ia berkata hanya ingin menjauh
sibuk dengan dunia nyatanya, tak ingin terganggu oleh keberadaanku. Saat itu, hatiku runtuh perlahan. Lebih sakit lagi ketika ia berkata, “Kita sudah tidak sejalan.”
Jika memang tidak sejalan, kenapa tidak berpisah sejak awal?
Mungkin karena ia tak enak.
Dan karena itu, aku yang memilih mengakhiri.
Setelah putus, ia berkata akan berhenti dari akun lamanya.
Namun di akun baru, aku melihat jejak lain
perempuan lain, tawa lain, harapan lain. Ia punya banyak pilihan. Dan aku… hanya luka yang belum sembuh.
Malam ini, aku memilih menghapus segalanya.
Jejakku. Jejaknya. Cerita yang tak pernah benar-benar hidup.
Bukan karena benci
tapi karena terlalu sayang pada diriku sendiri yang hampir hilang.
Jika suatu hari ia mengingatku,
semoga ingatanku tidak lagi melukainya.
Dan jika aku mengingatnya,
semoga kenangan itu tak lagi membuatku bertanya:
apakah aku pernah benar-benar berarti?
Malam ini, aku pamit.
Tanpa drama.
Tanpa larangan.
Hanya sebuah perpisahan yang akhirnya jujur.