Aku adalah seorang gadis kecil yang baru berusia genap 12tahun, yang dimana usia itu adalah usia labil seorang anak. Dan anak yang mementingkan rasa egonya serta lebih menginginkan kasta tren saat ini.
Tapi tidak denganku.
Aku dituntut sedemikian rupa untuk terlihat lebih berotak dan lebih kuat. Dimana setiap harinya aku diharuskan untuk mendapatkan beasiswa dan juga uang dalam waktu yang bersamaan.
Bahkan tak sedikit aku merasakan rasa lapar dan juga harus menimpa disaat aku tidak mendapatkan semua itu.
Ibu akan menghukum ku.
Ibu tidak akan membiarkan ku makan dan minum jika aku tidak mendapatkan uang pada hari itu. Atau jika ibu di panggil ke sekolah dengan rincian biaya yang harus ibu bayarkan ke sekolah untuk ku.
Ibu akan marah dan memakiku, berkata aku bodoh dan tidak tahu diri menjadi seorang anak.
Dan aku selalu dibandingkan dengan kakakku yang berprestasi dalam dunia modeling nya.
Kakak cantik, dan itu berkat dukungan ibu. Tidak denganku. Bahkan sepatu ku usang pun. Ibu hanya berkata.
" Tunggu kakak mu beli sepatu baru, nanti sepatu lama kakakmu untuk mu. "
Lagi dan lagi aku mendapatkan barang bekas kakakku. Bahkan bisa juga barang tak layak pakai.
Tapi apa ibu peduli, jawabannya tetap sama. Aku lah yang akan disalahkan karena tidak ada rasa bersyukur dan terimakasih atas semua yang mereka berikan.
Ibu,,ibu,,, ibu,,,
Aku lapar Bu. Sudah tiga hari aku tidak makan.
Tapi apa ibu mau mendengar, tentu tidak. Ibu akan marah dan berkata. " Anak pemalas. Mau makan ya harus ada uang ! "
Aku hanya bisa menangis sambil mengikat perutku dengan seutas tali yang ku temukan dijalan sebelum pulang ke rumah.
Tapi lagi dan lagi aku hanya bisa terdiam dengan Isak tangis dalam dadaku.
Dan aku pun bangkit dengan tubuh yang bergetar unntuk mencari sedikit nasi diluar sana.
Tak lama, mataku pun berkaca kaca tat kala aku melihat seseorang yang tidak lagi mau makan dan membuangnya ke tong sampah.
aku pun mengambil kotak nasi itu dengan mata yang berbinar.
" Untung saja tidak jatuh semua. " Kataku dengan rasa yang sangat bersyukur karena aku bisa makan hari ini.
Aku memakan dan menelannya.
Aku tidak peduli ini bekas atau sudah kotor sekalipun. Aku tetap akan memakannya karena perutku sudah tidak bisa menahan rasa lapar lebih lama lagi.
Apa aku marah dengan ibuku ?
Apa aku berhak marah atas perlakuannya ?
Aku menjawab,, tidak. Karena lagi dan lagi. Dalam hatiku. Aku sangat menyayangi ibuku. Walaupun aku tahu bahwa ibuku belum tentu menyayangi ku.