Ketika kehidupan tak lagi berpihak, rasanya seperti dunia iji telah runtuh. Ibarat rumah semua pintu dan jendela telah tertutup dan tak ada lagi jalan keluar. Tapi apakah harus tetap terperangkap dalam gelapnya kabut ketidak adilan ? Ataukah berusaha mendobrak pintu-pintu yang tertutup itu ?. Dilema, itulah yang dialami Riana ketika sang ibu telah pergi meninggalkannya dan kini sang ayah kembali bersama seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dari Riana. Menolak, jelas saja Riana pernah menolak, namun apa yang bisa ia perbuat ketika sang ayah bahkan dengan teganya mengangkat tangannya demi membela sang wanita pujaannya. Hancur, rasanya hati Riana, entah kepada siapa ia akan mengaduhkan luka hati yang terlanjur dalam. "Ibu, andaikan ibu masih ada" Riana bergumam dalam kesedirian. Rumah yang dulunya hangat dan penuh cinta, yang selalu membuat Riana betah, kini tak ubahnya penjara tak kasat mata. Sang ibu tiri telah menunjukan kuasanya dan sang ayah seolah menutup mata dengan semua yang Riana alami. "Riana, kamu harus jadi sosok yang kuat, jangan manja, hidup ini tidak selamanya indah, ibu mu hanya berusaha mengajarkan mu untuk mandiri" ujar sang ayah ketika Riana mencoba mengaduhkan sikap sang ibu tiri. "Kalau hanya belajar mandiri dengan melakukan pekerjaan rumah, Riana bersedia ayah, tapi semua ada batasnya. Riana juga masih sekolah, pulang sekolah Riana capek pengen sedikit istirahat" jawab Riana. " Kamu kebiasaan dimanja ibu kandung mu sehingga membuat mu baru bekerja sedikit saja sudah mengeluh capek" hardik sang ayah. "Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah sebelum ke sekolah ayah, bahkan aku berusaha bangun lebih pagi agar tidak terlambat ke sekolah". Riana berusaha menjelaskan kepada ayahnya. Namun karena sudah dibutahkan oleh pesona sang istri baru sang ayah seolah-olah tidak peduli terhadap apa yang dialami oleh putrinya. Kini tak ada lagi tempat Riana mengaduhkan semua yang dialaminya. Sang Ayah yang dikiranya dapat menjadi sandarannya seakan-akan berubah menjadi sosok yang sangat asing. "Riana,mana ini sarapannya" terdengar suara mengelegar sang ibu tiri dari meja makan. Riana bergegas menghampiri sang ibu tiri " Maaf bu, Riana tidak masak, Riana lagi sakit" " halahhh alasan saja kamu,memang dasarnya pemalas,jangan sengaja beralasan sakit" sang ibu tiri tak mau mendengarkan Riana" sekarang juga kamu masak,Aku tidak peduli mau kamu sakit kek,lemas kek,pusing kek,yang penting kamu harus masak,tapi ingat kamu tidak boleh makan semua makanan itu,kamu hanya boleh makan nasi putih tanpa lauk" sang ibu tiri dengan tak berperasaan tetap memaksa Riana untuk masak. " Tapi,buk" " tidak ada tapi,tapian Riana,kalau kamu tidak masak,aku dan ayahmu mau makan apa ? Enak sekali kamu bersantai-santai sedangkan kami kelaparan" sang ibu tiri dengan cepat membantah perkataan Riana. " Pokoknya dalam waktu 30 menit makan itu harus sudah tersedia,paham " sang ibu tiri pun bergegas meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya. " Ibu " Riana hanya mampu bergumam,tanpa mampu dicegah setets air mata jatuh,dengan cepat Riana menghapusnya,karena jika ibu tirinya tau ia menangis,maka akan ada hukuman yang ia terima. Riana pun segera memasak meskipun denga keadaan fisiknya yang lemas karena sakit. Hari demi hari Riana lalui denga penuh siksaan. Sang ayahpun semakin tidak peduli pada Riana,dunia sang ayah hanya ada istri barunya. "Riana,mana kopi buat ayah ? Kamu ini sangat lambat kalau disuruh" sang ayah pun tak segan menyuruh Riana dan memarahinya. "Maaf ayah,tadi Riana masih membersihkan dapur" Riana menjawab denga suara yang bergetar. Ayah yang dulu begitu mencintainya sekarang dengan tega membentaknya. "Memang benar kata ibu mu,kamu memang harus di didik untuk bisa bekerja" sang ayah semakin memarahi Riana. " Aku,bisa bekerja ayah,tapi aku lagi sakit makanya aku hanya bisa mengerjakannya pelan-pelan" Riana berusaha menjelaskan pada sang ayah. " Hala banyak alasan kamu Riana,Tadi ibu lihat kamu lagi duduk-duduk saja di dapur" sang ibu tiri berusaha memanas - manasi suaminya. " Benar apa yang di katakan ibu mu Riana ? Dasar anak tidak berguna" plak... Ucap sang ayah diiringi tamparan yang keras di pipi Riana. Tak tahan lagi Riana berlari sambil memegang pipinya" Ayah jahat." Riana berteriak. Sang ayah pun tertegun seakan baru tersadar jika ia baru saja melakukan kekerasan terhadap putrinya. Sang ibu tiri yang melihat itu berusah mempengaruhi suaminya,ia tidak mau suaminya merasa bersalah dan akhirnya kembali bersikap lembut terhadap Riana.
Di kamarnya Riana kembali menangis. Ditumpahkannya air matanya di balik bantal. Rasanya dadanya begitu sesak,seumur hidupnya sang ayah tak pernah kasar pada ia atau ibunya,tapi semenjak kematian ibunya dan kemunculan sang istri baru,ayahnya seolah-olah menjelma menjadi orang lain. Bahkan hari ini dengan teganya ia menampar Riana. Karena beban hati yang semakin berat,Riana memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia tak sanggup lagi untuk tetap menjalani hidup yang seperti ini. Pandangannyapun tertuju pada seutas tali yang kemarin di pakainya dalam kegiatan pramuka. Mungkin dengan aku pergi dari hidup ayah,ayah bisa sadar kalau selama ini aku terluka. Sebelum melaksanakan niatnya Riana mengambil sebuah kertas surat berwarna merah dan ia mulai menulis pesan terakhir buat sang ayah. Setrlah selesai menulis surat terakhirnya Rianapun bergegas naik ke atas mejanya dan mengantungkan tali d dekat meja belajarnya. Setelah selesai Riana pun menganti bajunya dengan baju kesayangannya. Baju pemberian sang ibu. Tak lupa ia memoleskan make up tipis di wajahnya. Ketika dirasakan penampilannya telah sempurna, dengan perlahan Riana naik ke atas meja dan memasuka kepalanya dilingkaran tali yang digantungnya. Dengan napas yang tersenggal Riana hanya mampu memanggil ibunya. " Ibu,akhirnya Riana bisa segera bertemu ibu,selamat tinggal ayah" sedangkan diluar sang ayah tengah murka karena riana yang di panggilnya tak kunjung menjawab. " Riana,Riana,Riana,jangan pura-pura tidak dengar yah,ayah tau kamu di dalam,cepat buka pintunya" sang ayah berteriak dengan geramnya di depan kamar Riana. "Riana,dasar anak durhaka cepat buka pitnunya,kalau tidak ayah dobrak" sang ayah semakin emosi karena Riana tak menyahuti panggilannya. Sang ayah tak tau jika di dalam sana sang putri telah tergantung pada seutas tali terkahir. Akhirnya dengan tak sabar ayahnyapun mendobrak pintu dan apa yang ia lihat membuatnya tertegun,untuk sesaat sang ayah tak mampu berkata-kata. "Rianaaaaa,putriku" Raung sang ayah sambil memeluk kaki putrinya yang tergantung. Para tetangga yang mendengar teriakan ayah Riana,segera lari mendekat ke rumah Riana,"Tolong-tolong,bantu Putriku,turunkan putriku" teriak sang ayah. Para tetangga segera menghubungi pihak keamanan dan menurunkan jasad Riana. Sang ayah menerima tubuh putrinya dan memeluk dengan sedihnya,teriakan dan air mata tak hentinya keluar. "Riana putiku,maafkan ayah nak,maafkan ayah yang tak pantas menjdi ayahmu,bangun nak,bangun riana putri ayah. " Namun meski di guncang berulang kali tubuh riana tetap kaku tak bergera. Riana telah pergi,ia telah mengakhiri penderitaannya di rumah yang seharusnya memberikan rasa aman untuknya. Sang ayah dalam penyesalan hanya bisa memeluk tubuh kaku sang anak. Semua telah usai,tak ada yang mampu di ubah. Keegoisan sang ayah membuat riana memilih pergi. Ia telah menutup matanya dari sang ayah dan dari dunia yang tak mampu Riana hadapi***