"Fiks! Yang pesan bendera nggak punya otak! Ku doain sepeda motornya mogok!" Timpal maya kesal
Mba Syakila hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh, karena sudah biasa semenjak menjadi karyawan di konveksi ini.
"Ini itu katanya mba irma yang pesan itu ketua DPR kabupaten ini, tapi yang punya proyek ini. Itu adalah temannya suaminya bu irma, kalau nggak salah namanya pranowo" Tutur mba Syakila
"Oh pantes aja pesanannya segunung!! Lah yang pesen aja ternyata DPR!! Tapi, kenapa proyeknya bisa ada disini?" Ucap maya kesal
***The last of part 1//end***
---//part 2//---
"Ya karena pranowo nya nggak sanggup jadi dilempar ke sini" Ucap mba Syakila
Sedangkan maya yang mendengarnya hanya bisa senyum tertekan sambil bersiap-siap untuk menjahit. Okta yang melihat itu hanya bisa menghela nafas lelah
"Kayaknya kita bakal lembur nih" Celetuk maya sambil mulai menjahit secepat dan serapi yang ia bisa
"Ya harus toh! Waktunya aja cuman 5 hari, mana jumlahnya 600 pula" Timpal okta kesal sambil terus menjahit
Mba Syakila yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil, karena dia sudah biasa dengan proyek besar-besaran ini.
Waktu telah berlalu dan jam dinding menunjukkan pukul 4 sore, okta sudah berpamitan pulang karena jarak rumah yang jauh, sedangkan maya dan mba Syakila masih tetap menjahit.
Hingga jam 5 sore tiba, mba Syakila pun pulang dengan membawa pulang beberapa bahan untuk dijahit di rumah. Sedangkan, maya masih tetap di tempat dia PKL bersama dengan bu irma dan suaminya untuk terus menjahit.
Maya mau pulang tapi karena kondisi waktu maghrib, dia tetap memutuskan masih ditempat PKL. Dan pada saat itu hanya suami bu irma yang pergi untuk sholat.
Dan tiba-tiba, ada suara motor yang berhenti di teras lalu tak lama kemudian muncullah sosok pria tinggi berbadan kurus. Dan itulah dia pak pranowo
"Gimana mba? Udah dapet berapa?" Tanyanya santai sambil masuk ke ruang jahit
"Baru dapat 97 tapi belum dikasih tali" Jawab bu irma sambil bersiap kebawah untuk membuat minuman
"Sebentar, aku mau kebawah dulu ya maya" Pamit bu irma, sedangkan maya hanya mengangguk lesu karena emang capek ditambah sedang datang bulan
Saat bu irma turun kebawah pak pranowo melihat bendera yang telah dijahit, dan bertanya pada maya untuk menghilangkan suasana canggung.
"Pegawai baru ya mba? Udah punya anak berapa?" Tanya pak pranowo santai
Sedangkan maya yang mendengar itu hanya melotot kesal, dan langsung menjawab dengan nada kesal.
"Anak berapa?! Your eyes! Nikah aja belum masa dah punya anak?! Aku disini PKL, masih belum lulus sekolah!" Jawab maya kesal
Sedangkan pak pranowo yang mendengar itu hanya terkekeh
"Habisnya kalau PKL, jam segini kok belum pulang?" Tanya pak pranowo
"Ya itu gegara anda! Anda tahu nggak? Meny**sa anak SMK dengan lembur itu dosa besar loh, mana aku lagi kedatangan tamu pula!" Jawab maya kesal
"Ya, jangan salahin aku to mbak, yang mau nerima kan bos mu. Salahin aja dia noh, lagipula katanya sanggup kok"
"Iya sanggup, sanggup sakit pinggang maksudnya!" Celetuk maya kesal yang kemudian langsung membereskan barang-barangnya
Pak pranowo hanya terkekeh sambil menaruh jahitan bendera kembali ke meja.
"Mau pulang ya?"
"Kagak!! Nginep saya! Udah tahu mau pulang masih aja nanya! Udah lembur mana red day pula" Ucap maya kesal dan turun kebawah untuk berpamitan pulang pada bu irma dan mengabaikan pak pranowo
//"ku doain sepeda motornya mogok tuh orang, soalnya ngeselin banget orangnya apalagi tampangnya pula"// batin maya sambil berlalu pergi
Dua hari telah berlalu, dan kini hari ketiga untuk menjahit bendera. Di ruang jahit, terlihat maya yang tidur diatas bahan bendera merah putih dengan raut lelah beserta okta disampingnya. Sedangkan mba Syakila, dia masih belum datang.
"Gi*a ya ta,kita udah kayak pekerja rodi gegara njahit nih bendera... " Ucap maya lirih
"Huh, mana bener lagi. Padahal bentar lagi mau agustusan tapi kota PKL nya malah disuruh njahit bendera segunung" Celetuk okta kesal
"Mungkin ini yang namanya definisi kerja rodi sebelum merdeka" Timpal maya lirih karena lelah dan punggungnya terasa pegal
Okta yang mendengar itu pun tertawa kecil, karena memang mungkin itu metafora yang sesuai untuk keadaan mereka saat ini.
"Untung aja, suaminya bu irma sama bu irma pergi, kalau enggak pasti kita masih tancap pedal jahit" Tutur maya disela re bahannya sambil bermain ponsel.
Okta hanya menganggukan kepala sambil bergumam. Disaat mereka berdua sibuk dengan dunia mereka sendiri, Tiba-tiba terdengar lah salam.
"Assalamu'alaikum, mba irma!" Ucap mba Syakila yang baru saja datang
"Wa'alaikumussalam" Jawab okta dan maya bersamaan
"Mba irma pergi kemana?"
"Pergi beli bahan" Jawab okta
"Udah selesai mba, jahit benderanya?" Tanya maya
"Udah dong, ini jahitan nya udah ku bawa, tinggal pasang tali aja" Jawab mba Syakila dengan nada bangga
"Fiks, kita kayak pekerja rodi ya mba, mana targetnya nggak ngotak pula. Kasihan nih punggungku, masih muda tapi dah encok,mana lagi datang bulan pula" Ucap maya kesal
"Iya, tadi malam aja aku lembur sambil vc an Okta ya ta" Ucap mba Syakila
"Ihhh, curang masa aku nggak diajak? Okay, fine!" Ucap maya berpura-pura kesal
"Tadinya mau ku ajak, tapi takutnya kau udah tidur" Celetuk Okta yang dibalas dengan oleh maya
"Eh iya, kenapa kita nggak bisa grup aja gitu? Buat ngabarin masing-masing" Usul mba Syakila
Okta dan maya yang Saling pandang satu sama lain sebelum mengangguk antusias.
"Okey, siapa yang mau buat grupnya?" Tanya maya
"Maya lah!" Jawab Okta dan mba Syakila serempak
Maya hanya bisa memutar mata malas sambil mulai membuat grup untuk mereka bertiga, karena kebetulan dia sedang bermain ponsel
"Ini nama grupnya mau apa dah?" Tanya maya
"Grup anak buahnya mba Syakila" Celetuk Okta sambil terkekeh
"Heh! Pelanggaran" Ucap mba Syakila
"Terus ini nama grupnya apa dah?!!" Tanya maya kesal
"Terserah!" Jawab Okta dan mba Syakila serempak
"Dih? Dasar cewek, entar bilang terserah ternyata salah" Ucap maya kesal
"Lah? Emang situ nggak cewek, maya?"
"Berarti dia cowok ta, soalnya bilang kayak gitu" Timpal mba Syakila sambil terkekeh
"Mana ada?! Aku tuh cewek tulen, pure dari lahir ya!" Sakit maya kesal
"Noh, udah jadi tuh grup, cek aja sendiri"
Okta yang mendengar itu langsung bergegas membuka HP untuk melihat grup yang telah dibuat maya. Saat melihat nama grup itu Okta pun terkekeh pelan
"Nama grupnya kok trio pekerja rodi? Mana pp grupnya bocil tepar dengan tulisan '1% kuat 99% kuat-kuatin aja'." Ucap Okta sambil tertawa dan mba Syakila pun langsung mengecek ponselnya
"Fakta cuyy, soalnya kita lembur terus, udah kayak pekerja rodi. Cocok ama definisi rodi sebelum merdeka" Celetuk maya yang dibalas suara tertawa Okta dan mba Syakila
"Udah-udah, yok kota kerja lagi. Takutnya keburu bu irma pulang sama suaminya" Tutur mba syakila yang langsung dibalas anggukan oleh kedua bocah SMK tersebut.
Saat mereka sedang asik menjahit sambil bercerita, tiba-tiba ada sepeda motor yang memarkirkan sepedanya tepat diteras konveksi jahit. Dan ternyata..
***Bersambung***