Ponsel itu berdering bising hingga seorang pria berjas biru yang sedang duduk bersama rekannya menghentikan aktivitasnya sejenak, di layar ponselnya tertulis jelas nama dari ibunya.
📞" Hallo...adik kamu gak bisa nunggu lagi Za" suara yang bergetar dan penuh helaan nafas berat terdengar.
Tanpa sepatah katapun dia bangkit dan meninggalkan kantornya, keluar dengan langkah tergesa-gesa.
Di tempat yang berbeda, ruangan putih dengan aroma obat- obatan menyengat hidung, pria tampan yang selalu menunggu karyanya di baca oleh Abangnya tengah terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat bantu yang menempel, dia belum sadarkan diri setelah rasa sakit menyerangnya, dia terlihat pucat dan tidak berdaya, ibunya duduk dengan harapan yang besar agar dia bisa sembuh.
"Raf..." Panggilnya pelan hingga matanya berkedut dan mulai terbuka perlahan.
"Bang...apa ceritaku dah Abang baca?" Suaranya yang lemah terdengar.
"Belum semuanya, baru sedikit" jawabnya pelan penuh ketakutan yang begitu nyata.
"Aku mau Abang baca jangan bilang nanti lagi...aku dah capek" suaranya begitu berat dan pelan.
Monitor berbunyi nyaring dan tidak ada jejak detak jantung lagi di sana , matanya tertutup rapat dan menyisakan Isak tangis yang menggema penuh penyesalan