Sejak pindah ke rumah tua peninggalan neneknya di pinggiran kota, Alina selalu terbangun tepat pukul 00.13.
Awalnya ia mengira hanya kebiasaan tidur yang berantakan. Sampai suatu malam… ia mendengarnya.
Ting… ting… ting…
Suara piano.
Pelan. Ragu. Seperti dimainkan oleh seseorang yang belum terlalu mahir.
Alina duduk di ranjang. Jantungnya berdebar. Rumah itu hanya dihuni dirinya seorang diri. Ia bahkan tidak punya piano.
Suara itu datang lagi.
Ting… tang… ting…
Berasal dari ruang tengah.
Dengan langkah pelan, Alina membuka pintu kamarnya. Lorong rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu redup berkelap-kelip seperti hampir mati.
Saat sampai di ruang tengah… suara itu berhenti.
Sunyi.
Tak ada apa-apa. Hanya sofa tua, lemari kayu, dan foto-foto keluarga yang menatapnya dari dinding.
Alina menghela napas panjang.
“Mungkin cuma tetangga…” gumamnya mencoba menenangkan diri.
Namun malam berikutnya… suara itu kembali.
Dan malam setelahnya.
Selalu pukul 00.13.
Selalu lagu yang sama.
Selalu berhenti saat ia mendekat.
Rasa penasaran mulai mengalahkan takut.
Suatu malam, ia memutuskan tidak keluar kamar. Ia hanya duduk diam di ranjang, mendengarkan dengan saksama.
Ting… ting… tang…
Lagu itu terdengar… sedih. Seperti seseorang yang mencoba mengingat sesuatu.
Alina tiba-tiba merasa lagu itu familiar.
Sangat familiar.
Seolah… ia pernah memainkannya.
Pagi harinya, Alina mengobrak-abrik gudang. Ia menemukan sebuah piano tua tertutup kain tebal di sudut ruangan. Tutsnya berdebu, beberapa bahkan patah.
Saat ia menyentuh salah satu tuts…
Ting.
Nada yang sama dengan suara tengah malam.
Di bawah piano, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil berisi foto seorang gadis remaja. Rambut panjang hitam. Mata kosong. Wajahnya… sangat mirip dengannya.
Di belakang foto tertulis:
“Untuk Alina. Semoga suatu hari kamu ingat lagi.”
Alina merinding.
Ia bertanya pada tetangga lama tentang rumah itu. Wajah mereka langsung berubah pucat.
“Dulu… ada anak nenekmu,” kata seorang ibu tua pelan.
“Namanya juga Alina. Dia jenius piano… tapi meninggal di rumah itu. Katanya… bunuh diri setelah mengalami gangguan mental.”
Alina tertawa gugup.
“Itu… pasti kebetulan.”
Malam itu, pukul 00.13… denting piano terdengar lebih keras dari biasanya.
Bukan dari ruang tengah.
Dari dalam kamarnya.
Alina perlahan menoleh.
Pintu kamar terbuka sedikit. Angin dingin masuk. Suara piano terdengar tepat di belakangnya… padahal ia duduk di ranjang.
Cermin di depannya memantulkan sosok lain.
Seorang gadis berdiri di belakangnya. Rambut panjang hitam menutupi wajah. Tangannya bergerak… seperti menekan tuts piano tak terlihat.
Alina menjerit dan menoleh cepat.
Tak ada siapa-siapa.
Namun saat ia melihat cermin lagi… gadis itu masih di sana.
Dan perlahan… wajahnya terangkat.
Itu adalah wajahnya sendiri.
Dengan mata kosong.
Tiba-tiba kepalanya terasa sakit luar biasa. Potongan-potongan ingatan menyeruak.
Ruang latihan piano.
Teriakan neneknya.
Suara kaca pecah.
Dan dirinya… duduk di depan piano, menangis sambil memainkan lagu yang sama berulang-ulang.
Ia jatuh terduduk.
Ingatan terakhir muncul.
Ia tidak pernah pindah ke rumah itu.
Ia tidak pernah pergi dari sana.
Ia adalah Alina yang dulu.
Gadis yang meninggal di rumah itu bertahun-tahun lalu.
Denting piano setiap malam… bukan dimainkan oleh hantu lain.
Melainkan oleh dirinya sendiri… yang terus mengulang malam terakhir sebelum kematiannya.
Cermin di depannya retak perlahan.
Dan untuk pertama kalinya… ia melihat tubuhnya yang sebenarnya.
Pucat.
Luka di pergelangan tangan.
Dan tak memiliki bayangan.
Suara piano berhenti.
Rumah kembali sunyi.
Keesokan paginya, seorang pembeli baru datang melihat rumah tua itu. Agen properti membuka pintu, tersenyum ramah.
“Rumah ini kosong sejak lama,” katanya.
Namun saat mereka melangkah masuk…
Dari dalam… terdengar denting piano pelan.
Ting… ting… ting…
Seolah seseorang… masih berlatih lagu yang sama.
Tepat pukul 00.13.