Pelajaran pertama hari itu di SMA Cakra Nusantara adalah matematika, dan yang seharusnya mengajar adalah Pak Jamal.
Tapi hari itu yang masuk adalah Ibu Lidwina, wali kelas XIA, bersama seorang gadis cantik berambut sebahu dengan mata belo, sangat belo bagi ukuran orang Jepang, dan berkulit putih mulus.
“Anak-anak, perkenalkan ini Ayako. Murid baru dari Jepang yang ikut program pertukaran pelajar,” kata Bu Lidwina.
“Ayako, silakan memperkenalkan diri kepada teman-teman.
“Terima kasih, Bu,” kata Ayako dalam bahasa Indonesia yang lancar dengan aksen Jepang.
“Nama saya Ayako Kobayashi, panggil saja Ayako. Asal saya dari kota Tokyo, dan berusia 16 tahun.”
“Ayako apanya Miyako?” celetuk Ronald.
Ibu Lidwina segera menaruh telunjuk ke bibirnya, menyuruh anak-anak tenang.
“Hobi saya olahraga basket, berenang, memasak, dan berjalan-jalan,” kata Ayako lebih jauh. “Kalau ada pertanyaan lain, silakan langsung tanya saya.”
“Terima kasih, Ayako. Silakan duduk,” kata Bu Lidwina. “Roldy, bangku sebelahmu kosong?”
“Kosong, Bu,” jawab Roldy. “Bangku ini bekas bangku Diana yang barusan pindah ke Lampung.”
“Silakan duduk di bangku sebelah Roldy yang kosong itu, Ayako,” kata Bu Lidwina sambil mengacungkan telunjuknya ke bangku kosong sebelah Roldy.
“Baik, terima kasih, Bu,” jawab Ayako dengan sopan, lalu duduk di sebelah Roldy.
“Huuu, Roldy dapat rezeki,” kata Ronald si tukang nyeletuk itu.
“Sudah ya, Ibu tinggal. Jadikan Ayako sebagai teman baru kalian. Dia sangat ramah dan suka bergaul kok,” kata Bu Lidwina. “Yang cowok-cowok, jangan berebut ya.”
Kemudian Bu Lidwina meninggalkan kelas sambil tersenyum.
Pak Jamal masuk, memberikan pelajaran matematika, tapi pelajaran yang dibawakannya sama sekali tidak dimengerti oleh para murid. Mereka sibuk berkenalan dengan sang murid baru yang cantik dari Tokyo itu, Ayako.
Agenda, buku tulis, kertas, dan lain-lain menumpuk di meja Ayako. Semua menyuruh Ayako menuliskan kata-kata puitis dan nomor WhatsApp-nya. Termasuk Roldy.
Bahkan Roldy mendapat bonus alamat tempat tinggal Ayako selama dia tinggal bersama keluarga Subarkah selama setahun program pertukaran pelajar itu.
Untunglah Ayako ramah. Dia menulis semua yang diinginkan oleh teman-temannya itu, kebanyakan yang cowok, sih.
Celetukan-celetukan iseng silih berganti seperti “Apa Ayako cucunya Kakek Sugiono?”, “Apa benar Maria Ozawa tante-mu?”, atau “Kenal Yura Kano?”, dan lain-lain.
Pelajaran selanjutnya adalah olahraga. Roldy berusaha menarik simpati dari Ayako dengan mendribble bola basket dan menceploskannya ke dalam ring basket.
Tidak disangka, Ayako juga sangat hebat dalam bermain basket. Dari tengah lapangan dia berhasil melewati tiga pemain lawan sekaligus, selanjutnya melompat tinggi dan menceploskannya ke dalam ring.
Semua anak, baik cowok maupun cewek, berdecak kagum atas kepiawaian Ayako.
“Hebat sekali permainanmu,” puji Roldy.
“Di Tokyo, aku adalah anggota tim basket sekolah,” jawab Ayako.
“Oh, pantas,” kata Roldy yang masih tak mampu menyembunyikan kekagumannya.
Sekarang giliran Billy yang coba caper kepada Ayako. Anak jangkung itu merebut bola dan melakukan slam dunk, lalu tersenyum lebar kepada Ayako.
Ayako membalas senyuman itu sambil bertepuk tangan dan berteriak, “Hebat! Slam dunk!”
Giliran Roldy masuk lagi. Dengan lincah dia merebut bola dan shooting langsung ke ring, namun gagal.
“Semangat, Roldy!” pekik Ayako. Billy tampak tak senang Ayako memberi semangat Roldy.
Pada kesempatan berikut, kembali Roldy merebut bola dari Billy. Kali ini Roldy tidak men-shoot langsung, tapi memberikan bola kepada Wawan dan dia segera berlari ke bawah ring basket. Wawan memberinya bola itu kembali, dan Roldy berhasil melakukan alley oop dan bola langsung masuk.
“Plos!”
Namun Roldy jatuh tergeletak. Pak Sudarsono, guru olahraga, segera meniup peluit untuk menghentikan pertandingan sementara. Kebetulan Tono merekam momen alley oop cantik Roldy dengan kamera HP-nya.
Tampak dengan gerakan cepat, hampir tak kelihatan, Billy melakukan tindakan tak terpuji dengan menyikut dada Roldy sekeras mungkin yang langsung membuat Roldy ambruk tak berdaya. Pingsan.
Pak Sudarsono segera melarikan Roldy ke rumah sakit dengan tandu dan mobil sekolah. Ayako yang melihat itu tampak khawatir dan cemas, lalu menutup mulutnya.
Hasil rontgen di rumah sakit, Roldy dinyatakan menderita beberapa patah tulang rusuk. Untung tulang rusuk patah itu tidak melukai paru-parunya. Tapi sikutan keras itu sudah cukup membuat Roldy tidak berdaya, bahkan pingsan di tengah lapangan.
Sepulang sekolah, beberapa anak dari kelas XIA menjenguk Roldy yang terbaring di rumah sakit akibat rusuk yang patah itu, termasuk Alya. Mereka membelikan buah untuk oleh-oleh.
Tapi Billy yang menyebabkan cedera itu menolak ikut menjenguk Roldy. Katanya, “Halah, caper saja dia sama Ayako. Kejadian begitu wajar dalam olahraga keras seperti basket.”
“Billy, tidak boleh begitu,” ujar Ayako.
Di kamar rumah sakit, Roldy masih tergolek lemah. Dadanya tampak dibalut gips dan perban.
“Sudah tidak apa-apa kok, besok aku sudah boleh pulang,” ujar Roldy. “Tapi dilarang bergerak, apalagi main basket.”
“Kasar sekali Billy tadi, Rol,” kata Ayako.
“Dalam permainan seperti basket, hal itu biasa, Ayako,” balas Roldy.
Di dalam hati Ayako mulai timbul benih-benih kagum, karena Roldy yang jelas-jelas dicederai Billy tidak mau menganggap Billy musuhnya. Malahan Billy yang menganggap Roldy sebagai lawannya.
“Kapan masuk sekolah lagi, Rol?” tanya Ayako.
“Mungkin minggu depan, tapi nanti aku tanyakan ke dokter untuk kepastiannya,” jawab Roldy.
Hari-hari berikutnya Roldy semakin sembuh dan kuat, tapi dia belum berani melakukan hal yang berat-berat seperti olahraga basket, sepak bola, dan lain-lain.
Akibatnya Billy terus menyindir Roldy, “Biar diperhatiin ya lu sama Ayako?”
Tapi Roldy adalah Roldy. Dia tidak tersinggung dengan sindiran Billy dan tidak pernah menganggap Billy adalah musuhnya.
Ayako pun semakin dekat dengan Roldy karena jiwa Roldy yang besar hati itu. Tak jarang Roldy main ke rumah Ayako yang tinggal di rumah Pak Subarkah, keluarga angkatnya selama di Indonesia.
Sebulan setelah kejadian itu, Roldy sering mengajak Alya setiap hari Minggu pagi jogging di CFD di kawasan Jalan Jenderal Sudirman.
“Ramai sekali,” seru Ayako. “Di Tokyo juga ada car free day di Ginza.”
Bibit-bibit cinta mulai bersemi di antara insan beda negara ini. Namun Roldy belum berani berterus terang menyatakan cinta kepada Ayako. Demikian juga Ayako, yang juga mengagumi Roldy, tak berani mengakui bahwa benih-benih cinta itu mulai tumbuh di hatinya.
“Rol, kalau kamu tidak pengecut, aku tantang kau main basket one on one,” tantang Billy pada suatu hari.
“Bil, aku menyerah kalah. Kau lebih hebat dariku,” jawab Roldy merendah.
Ayako mendengar semua itu, dan jawaban itulah yang membuat Ayako semakin kagum akan kerendahan hati Roldy.
“Ayako, pacarmu ternyata tidak lebih dari seorang pecundang!” kata Billy. “Dia takut ketika aku tantang bermain basket one on one lawanku,” kata Billy sambil tertawa.
“Billy, tak sepantasnya kau ngomong seperti itu,” kata Ayako marah.
“Pertama, Roldy belum jadi pacarku, dan kedua, dada dia masih sakit, belum boleh berolahraga keras seperti basket!”
“Belum?” kata Roldy dalam hati. “Jadi sebentar lagi jadi sudah?”
“Billy, kamu lawan aku one on one,” tantang balik Ayako. “Roldy belum bisa!”
“Ayako, kau tidak perlu begitu,” kata Roldy.
“Tidak apa,” kata Ayako.
“Kau menantangku, Ayako?” tanya Billy.
“Baik, nanti sore di lapangan basket sekolah aku akan menunggumu.”
Sore hari Billy sudah siap dengan kostum basketnya, kemudian Ayako datang dengan seragam basket. Menyusul Roldy.
Duel sepertinya akan berlangsung dengan mudah. Billy memimpin 6–0 dengan beberapa kali melakukan slam dunk.
Ayako yang tampak mulai putus asa itu mendapat dorongan semangat dari Roldy, “Semangat, Ayako!”
Kemudian Ayako perlahan-lahan memperkecil ketinggalannya menjadi 6–4. Namun Billy tak mau kalah, kedudukan menjadi 8–4.
“Ingat, pertandingan selesai jika ada yang mencapai angka 10 dulu!” teriak Billy yang merasa akan menang. “Pemenang yang mencapai skor 10 dulu.”
Ayako semakin terbakar semangatnya. Dia berhasil mengejar ketinggalan menjadi 8–7. Namun skor 8–7 tak bertahan lama, skor menjadi 9–7 ketika Billy melesakkan bola ke ring dengan slam dunk yang cantik.
Roldy meminta time out dan membisikkan sesuatu ke telinga Ayako, “Semangat, Ayako. Kau pasti bisa. And I love you.”
Roldy seperti tidak sadar mengucapkan kata terakhir itu, tapi efeknya sungguh dahsyat. Ayako berhasil melesakkan bola ke ring tiga kali berturut-turut dengan skor akhir 10–9 untuk Ayako.
Begitu semangatnya Ayako, lalu dia segera memeluk Roldy dan membisikkan, “I love you, too.”
Billy yang melihatnya hanya bisa tertunduk lunglai. Seakan sore itu dia kalah dua kali dalam sebuah pertandingan. Pertama, dia kalah main basket one on one melawan Ayako, dan kedua, dia kalah dalam mendapatkan cinta Ayako dari Roldy.
Usai pertandingan sore itu, Roldy mengajak Ayako ke sebuah kafe sederhana di seberang sekolah untuk sekadar minum dingin melepaskan dahaga.
Kafe itu sederhana saja dengan interior seadanya dan beberapa buah meja kursi kayu. Jauh dari kesan mewah, apalagi romantis. Ayako memesan sebotol minuman isotonik dingin, sedangkan Roldy memesan segelas es jeruk.
“Ayako,” kata Roldy, “melanjutkan yang di lapangan basket tadi, aku serius mencintaimu.”
“Roldy, aku juga sudah lama mengagumimu. Kau beda dengan cowok lain,” bisik Ayako. “Aku juga mencintaimu.”
“Walau kita beda negara, hati kita satu,” bisik Roldy pelan, lalu mencium bibir Ayako yang mungil itu di bawah pandangan tante pemilik kafe yang jadi ingat masa mudanya.
“Kalau mobil Toyota Kijang katanya singkatan dari Kerja Sama Indonesia Jepang, kalau cinta kita Kasih Indonesia Jepang,” gurau Roldy yang disambut tawa manis Ayako.
(Tamat)
Tema :
Event GC Rumah Menulis