Lampu neon diskotik yang berkedip brutal di depannya terasa seperti kilatan petir yang menyambar masa lalu Melati. Udara pengap bercampur aroma rokok dan parfum murahan, seolah semua kegaduhan ini adalah soundtrack sempurna untuk kehancuran yang pernah ia alami. Tiga tahun lalu, di tempat serupa, ia menemukan Bram alias Bramantyo Suprapto, suaminya, menari mesra dengan wanita lain. Malam itu bukan hanya akhir dari pernikahan, tapi juga awal dari realisasi mengerikan: kekerasan fisik yang sering ia alami di rumah bukan sekadar ‘emosi sesaat’, tapi pola. Dan perselingkuhan itu adalah penegasnya.
“Mel, lo bengong aja dari tadi. Ingat mantan pacar apa mantan suami?” Suara Dinda, sahabat karibnya, menusuk ke telinganya. Dinda, dengan rambut bob pink dan celana jeans ripped, selalu jadi alarm pribadi Melati. Alarm yang cukup berisik, kadang.
Melati hanya tersenyum tipis. “Lebih ke... flashback masa lalu yang norak dan gelap,” jawabnya sambil menenggak mocktail jeruk nipis. Ia sudah lama berhenti minum alkohol. Alasannya sederhana: alkohol itu seperti bensin untuk emosi. Dan Melati sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membiarkan emosinya terbakar.
Ia ingat jelas, pasca-perpisahan dengan sosok tinggi besar bernama Bram, dunianya sempat jungkir balik. Apartemennya terasa seperti sangkar. Suara bel pintu saja bisa bikin jantungnya berdetak kencang, takut itu Bram. Setiap hari adalah pertarungan. Pertarungan melawan bayang-bayang tangan yang melayang, melawan kata-kata kasar yang membakar harga diri. Tapi Melati bukan tipe yang meratap. Dia adalah seorang indoenden dan problem solver. Dengan semangat seorang arsitek yang merancang gedung baru dari puing-puing, ia mulai merancang ulang hidupnya.
"Gila ya, cowok kayak gitu kok dulu bisa bikin lo bucin setengah mati," Dinda geleng-geleng.
"Ya namanya juga cinta monyet yang nggak sadar udah jadi cinta badak," Melati terkekeh. Tapi tawa itu terasa hambar. Bagaimana bisa ia dulu sebodoh itu? Terjebak dalam ilusi ‘cinta’ yang menyakitkan. Untungnya, ia selalu bersyukur, belum ada anak dalam pernikahan itu. Setidaknya, hanya dirinya sendiri yang harus menanggung beban traumanya, bukan makhluk tak berdosa lainnya.
Di kantor, Melati adalah seorang profesional yang dihormati. Jabatan Head of Marketing di perusahaan startup teknologi itu bukan ia dapatkan dengan mudah. Ia bekerja keras, seringkali sampai larut malam, bukan karena ia workaholic, tapi karena ia menemukan kedamaian dalam produktivitas. Angka-angka, campaign, dan pitching klien adalah distraksi terbaik dari kenangan buruk. Ia bahkan sempat mengambil kursus coding dan data analytics secara online, sekadar untuk mengisi waktu luang agar pikirannya tidak kembali melayang ke masa lalu.
Suatu hari, saat meeting penting dengan investor dari Jepang, ponsel Melati bergetar. Nomor tak dikenal. Ia mengabaikannya. Getaran kedua. Ia melirik. Nama itu. Bram. Seketika, tenggorokannya tercekat. Jantungnya berdebar, bukan karena rindu, tapi karena alarm bahaya yang ia kira sudah mati. Ini adalah kali pertama Bram menghubunginya setelah lebih dari dua tahun. Melati memilih mengabaikannya.
Beberapa hari kemudian, saat Melati sedang jogging di taman dekat apartemennya, sebuah mobil hitam berhenti di sampingnya. Jendela turun. Paras bak model muncul, Bram! Rambutnya lebih panjang, wajahnya sedikit kuyu, tapi sorot matanya yang dulu pernah membuatnya luluh kini terlihat lebih... putus asa.
“Melati.” Suara Bram terdengar seperti desisan. “Bisa kita bicara?”
Melati berhenti. Ia tidak lari. Tidak gemetar. Hanya ada sensasi dingin yang menjalar di punggungnya. Ini adalah momen yang ia takutkan sekaligus ia nantikan. Momen untuk membuktikan pada dirinya sendiri, bahwa ia sudah tidak bisa lagi disentuh oleh bayang-bayang masa lalunya.
“Mau bicara apa, Bram? Tentang perselingkuhan lo yang lo sebut ‘khilaf’, atau KDRT lo yang lo anggap ‘cuma salah paham’?” Nadanya datar, menusuk.
Bram terlihat terkejut. “Mel, aku… aku minta maaf. Aku tahu aku salah besar. Aku nyesel banget.”
Melati tertawa. Tawa yang hampa, penuh sarkasme. “Nyesel? Lo tahu nggak, Bram, gue hampir hancur lebur gara-gara lo? Lo tahu gimana rasanya tidur sambil takut tangan lo bakal melayang lagi? Lo tahu gimana rasanya pas gue ngelihat lo sama cewek lain, dan yang gue pikirin cuma ‘oh, jadi ini toh rasanya dicampakkan setelah semua yang gue kasih’?” Ia menarik napas. “Untungnya gue nggak punya anak sama lo. Itu anugerah terbesar.”
Wajah Bram memerah. “Aku… aku cuma mau bilang, aku bangga sama kamu. Aku dengar kamu jadi COO sekarang. Hebat.”
Melati mendengus. “Pujian lo nggak ada harganya buat gue, Bram. Karena di masa lalu, lo pernah bilang gue nggak akan jadi apa-apa tanpa lo. Lo pernah bilang gue lemah, nggak mandiri.” Ia menatap mata Bram lurus. “Gue nggak butuh pengakuan dari lo. Gue butuh pengakuan dari diri gue sendiri. Dan gue udah dapat itu.”
Bram mencoba meraih tangannya. “Mel, kasih aku kesempatan. Aku udah berubah.”
“Berubah?” Melati menarik tangannya cepat. “Orang kayak lo nggak berubah, Bram. Lo cuma belajar cara menyembunyikannya lebih baik. Dan gue nggak akan jadi kelinci percobaan lo lagi.”
Ia melanjutkan jogging-nya, meninggalkan Bram yang terpaku di pinggir jalan. Kali ini, ia tidak menoleh ke belakang. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa sakit. Hanya ada kelegaan. Kemenangan.
Beberapa bulan kemudian, di sebuah acara award tingkat nasional, Melati berdiri di podium dengan gaun hitam elegan. Ia baru saja menerima penghargaan sebagai "Tokoh Pemasaran Inovatif Tahun Ini". Sinar lampu sorot menyorotnya, tepuk tangan bergemuruh. Dinda ada di barisan depan, tersenyum bangga.
Di sela-sela pidatonya, Melati mengambil napas dalam. “Hidup ini penuh kejutan. Kadang, kejutan itu pahit. Tapi dari kepahitan itu, kita bisa menemukan kekuatan yang tidak kita duga.” Matanya menyapu audiens, dan untuk sesaat, ia melihat sosok familiar di bagian belakang. Bram. Duduk sendiri, menatapnya. Kali ini, tatapannya bukan lagi putus asa, tapi... penyesalan murni.
Melati hanya tersenyum tipis. Senyum yang penuh arti. Senyum yang mengatakan, “Dunia ini luas, dan aku adalah ratu di dalamnya. Dan kau, kau hanya salah satu dari banyak kenangan yang sudah usang.” Ia memegang piala di tangannya. Berat. Bukan hanya berat fisiknya, tapi juga berat dari semua perjuangan yang telah ia lalui.
Ia bukan janda yang kesepian. Ia adalah Melati. Seorang perempuan yang memilih dirinya sendiri, membangun kerajaannya sendiri, dan membuktikan bahwa kehancuran bisa menjadi awal dari sesuatu yang luar biasa. Ia hidup, ia bernapas, ia sukses. Dan yang terpenting, ia bebas. Benar-benar bebas. Ia adalah definisi nyata dari glow up yang hakiki.