Gerimis mengguyur permukaan danau seperti deretan titik-titik tinta yang belum jadi kata. Elang menyandarkan punggung pada sandaran kursi kayu yang sedikit mengerut karena usia yang sudah tua, jengkalnya bersandar di atas meja besi yang penuh dengan noda embun dan jejak hujan. Cawan kopi di tangannya tetap hangat, uapnya melayang lalu hilang di antara tetesan yang menyapu tirai udara kelabu.
Di kejauhan, sebuah perahu kecil meluncur seperti kapal hantu di lautan kabut. Ia tidak tahu siapa yang mengendalikannya—mungkin hanya bayangan dari masa lalu yang pernah menyusuri relung ingatan. Seruni… Nama itu muncul tanpa pamrih, seperti bunga yang tumbuh sendiri di antara reruntuhan batu.
"Mas Kala bilang kamu sudah tiga hari duduk di sini, Elang." Suara lembut menerobos hiruk-pikuk hujan, disertai aroma kertas tua dan sedikit wewangian kamper—aroma yang ia kenal terlalu baik. Candra berdiri di tepi teras, bajunya sedikit basah di ujung lengan, tangannya memegang sebuah buku kulit yang sampulnya sudah mengelupas. "Perpustakaan akan tutup dalam sejam. Aku membawa yang kamu minta."
Elang mengangkat wajahnya, mata gelapnya seperti danau yang sama tak punya akhir. Ia menerima buku dengan hati-hati, jari jemari menyentuh lekukan kulit yang sudah mengeras akibat usia. 𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙏𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧, tertulis dengan huruf cetak tua di bagian dalam sampul. “Dia pernah bilang, hujan adalah cara langit untuk berbicara dengan bumi,” ujarnya pelan, suara menyatu dengan desir tetesan di atap. “Seruni selalu menyukai hujan seperti ini. Katanya, setiap tetes membawa cerita dari tempat yang jauh.”
Candra menarik kursi kecil, duduk di sisi Elang tanpa mengganggu jarak yang ia jagakan. Di bawah atap yang sedikit bocor, mereka menyaksikan danau yang semakin menghilang di balik tirai kabut. Kala muncul dari dalam restoran dengan nampan kecil, menaruh sebuah mangkuk sup hangat di meja. "Kamu harus makan sedikit, Elang!" katanya dengan nada yang tidak bisa ditolak, meskipun matanya penuh dengan rasa iba. “Hujan bisa membuat tubuh lemah jika hanya mengandalkan kopi.”
Setelah Kala kembali masuk, Candra membuka buku yang baru saja diberikan. Halaman pertamanya penuh dengan tulisan tangan yang rapi, warna tinta sudah memudar menjadi coklat keabu-abuan: “𝘋𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘢𝘪𝘳, 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢.”
Elang mengingat malam itu—seratus hari yang lalu, atau mungkin seratus tahun yang akan datang. Seruni berdiri di tepi danau yang sama, mengenakan gaun putih yang menyerap warna malam. “Aku harus pergi ke sana, Elang,” katanya saat itu, jari jemari menyentuh dagu lelaki yang ia cintai. “Tempat yang kita selalu bicarakan. Di mana semua cerita dimulai dan berakhir.” Ia memberikan sebuah cincin perak dengan ukiran bunga seruni, lalu hilang di balik kabut yang tiba-tiba menyelimuti seluruh danau. Tidak ada jejak, tidak ada kabar. Hanya angin yang membawa aroma bunga dan keheningan yang dalam.
“Mbak Candra,” ujar Elang perlahan, menatap perahu kecil yang kini hanya menjadi titik hitam di kejauhan. “Mbak Candra pernah merasa ada sesuatu yang menunggu di luar sana? Di tempat yang tak terlihat oleh mata, tapi hati tahu pasti ada?”
Wanita penjaga perpustakaan mengangguk perlahan, matanya tertuju pada buku di tangannya. “Perpustakaan penuh dengan cerita yang belum dibaca, Elang. Beberapa di antaranya hanya bisa ditemukan jika kita berani mencari jalan keluar dari halaman yang sudah ditentukan.” Ia menoleh padanya, senyumnya lembut seperti embun di pagi hari. “Mas Kala bilang, beberapa malam yang lalu dia melihat seorang wanita mengenakan gaun putih berdiri di tepi dermaga. Dia berpikir itu hanya khayalan akibat kelelahan, tapi…”
Elang meraih cincin yang selalu ada di lehernya, sentuhan logam dinginnya menjadi pelarian kecil dari panas cawan kopi. Hujan mulai reda sedikit, namun kabut semakin tebal, menyembunyikan danau, perahu, dan bahkan rerumputan di tepi teras. Suara sesuatu yang mengikis permukaan air terdengar jauh-jauh, seperti nyanyian yang terlupakan.
“Dia akan kembali,” bisik Elang, bukan kepada Candra, melainkan kepada hujan yang masih terus mengguyur dunia. “Atau aku akan pergi menemukannya. Di sana, di tempat di mana pikiran kita selalu jauh melayang.”
Candra menutup buku dengan hati-hati, lalu menggesernya ke arah Elang di atas meja. "Simpan saja dulu," ujarnya lembut. "Perpustakaan bisa menunggu beberapa hari lagi. Kamu butuh waktu untuk membacanya dengan tenang." Ia tidak membungkusnya seperti yang direncanakan, melainkan hanya menaruh sampul kulit yang sudah mengelupas dengan lembut di atas permukaan meja yang mulai mengering sedikit.
Kala muncul lagi, membawa sebuah kain lap untuk mengeringkan meja yang basah. Di kejauhan, titik hitam perahu sudah hilang sama sekali, namun rasa bahwa sesuatu sedang mendekat semakin kuat di antara mereka bertiga. Hujan mulai turun lagi dengan derasnya, menyembunyikan segala sesuatu di luar teras—kecuali harapan yang tetap bersinar di mata lelaki bernama Elang, yang terus menanti di tepi danau yang menyimpan rahasia dari tempat jauh di sana.
Setelah menyeka sebagian meja, Kala memberikan tatapan peduli pada Elang sebelum masuk kembali ke dalam. Tak lama kemudian, Candra pun berdiri untuk pulang.
...
Setelah Candra pergi menyusul Kala—kedua sosok itu menghilang ke dalam lorong hujan yang semakin gelap—Elang ditinggalkan hanya dengan irama tetesan dan bayangan yang mengambang di permukaan danau. Meja besinya kini basah sekali lagi, jejak cawan kopi dan mangkuk sup menjadi lautan kecil yang menyatu dengan titik-titik hujan baru, namun buku itu tetap aman di tempatnya.
Ia meraih 𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙏𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧, membukanya kembali ke halaman pertama. Tulisan tangan rapi itu seolah bergerak di bawah pandangannya—“𝘋𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘢𝘪𝘳, 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴…” Seruni pernah membacakan kalimat itu padanya, saat mereka masih duduk bersamanya di teras ini, jauh sebelum kabut menyambar dan membawanya pergi.
Saat matanya menatap tulisan itu, suara Seruni seolah muncul dari dalam kenangan.
“Kamu tahu kan, Elang?” Suara Seruni seolah masih menggelegar di antara genteng atap yang berdecit. “Mbak Candra dulu pernah punya orang yang pergi juga. Seseorang yang selalu mencari cerita di luar halaman buku.” Ia menoleh ke arah perpustakaan yang berdiri di balik rerumputan tinggi, wajahnya diterangi cahaya lilin yang terpampang di jendela. “Dan Mas Kala—dia selalu menyembunyikan sesuatu di balik senyumnya yang hangat. Katanya, dia pernah melihat perahu itu saat masih kecil, mengangkut seseorang yang tidak pernah kembali.”
Elang mengingat malam itu, ketika ketiganya masih berkumpul di sini. Candra membawa buku-buku tua tentang legenda danau, Kala menghidangkan teh jahe yang menghangatkan tenggorokan, dan Seruni duduk di sisinya, tangan mereka saling menyilang di atas meja. Mereka berbincang tentang masa lalu yang penuh dengan cerita hilang—tentang orang-orang yang pergi mencari tempat di mana awan bertemu air, tentang perahu yang hanya muncul saat hujan mengguyur dunia.
“Kita semua punya bagian cerita yang belum selesai,” ujar Candra kala itu, sambil menunjuk pada sebuah ilustrasi di buku—gambar seorang wanita berdiri di tepi dermaga, mengenakan gaun putih yang melayang seperti awan. “Hanya saja, sebagian dari kita memilih untuk menulis kelanjutannya, dan sebagian yang lain hanya menunggu agar cerita itu kembali mencari kita.”
Kala kemudian menyela dengan nada yang lebih ringan, namun matanya penuh dengan kesedihan tersembunyi: “Aku pernah melihat dia—wanita di gambar itu—saat hujan seperti ini turun tiga tahun yang lalu. Dia berdiri di tepi dermaga, menatap perahu yang sama seperti yang kamu lihat sekarang. Kemudian dia pun hilang.”
Elang menghela napas pelan, menutup buku perlahan. Candra sudah kembali ke perpustakaan yang sunyi, menyimpan buku-buku lain tentang cerita yang belum selesai, sementara buku itu tetap berada di sisi Elang. Sekarang, hanya dia yang tersisa di teras ini. Kala sudah masuk ke dalam restoran, menghapus meja dan menyusun kursi sambil menyanyi lagu yang tidak jelas kata-katanya. Sedangkan Seruni… Seruni ada di antara setiap tetes hujan yang jatuh, di setiap bayangan perahu yang meluncur jauh di sana.
Hujan mulai mereda sedikit, cukup untuk mengungkapkan puncak gunung yang tersembunyi di balik kabut. Di tepi dermaga yang kini terlihat jelas, ada sesuatu yang bersinar—sebuah titik perak kecil yang terpampang di atas batu basah. Elang berdiri perlahan, kakinya sedikit goyah setelah tiga hari duduk tanpa bergerak. Ia berjalan menuju sana, langkahnya tertatih-tatih di atas lantai kayu yang licin.
Itu adalah cincin—satu lagi cincin perak dengan ukiran bunga seruni, sama persis dengan yang selalu ada di lehernya. Seolah ada tangan yang menariknya, ia membengkokkan badan dan meraihnya. Saat logam dingin menyentuh kulitnya, ia mendengar suara nyanyian yang jelas sekali terdengar di antara heningan pasca hujan—suara yang ia kenal seperti kenalan dengan dirinya sendiri.
Di kejauhan, perahu kecil muncul lagi dari balik kabut yang mulai menyusut. Kali ini, ia bisa melihat sosok yang duduk di dalamnya—rambut panjang yang melayang seperti air, gaun putih yang menyerap cahaya senja. Tapi sebelum ia bisa lebih dekat, kabut kembali turun dengan tebalnya, menutupi segala sesuatu. Hujan mulai mengguyur lagi dengan deru yang menggema, menyapu dermaga, menyapu teras, menyapu seluruh danau yang menyimpan rahasia mereka semua.
Elang berdiri sendirian di tepi air, memegang dua cincin perak di tangannya. Ia tidak tahu apakah sosok itu benar-benar ada, atau hanya bayangan dari masa lalu yang kembali mengunjunginya. Yang ia tahu hanyalah—dia akan tetap berada di sini, menunggu di antara sisa-sisa waktu yang tertinggal. Tidak hanya sebagai orang yang menanti, tetapi juga mulai menulis catatan kecil di sudut buku yang sama—mencoba untuk menyampaikan cerita yang belum terucap, hingga akhirnya hujan membawanya pada jawaban yang selalu dicarinya.