Hai, aku Meidiana lebih akrab disapa dengan panggilan Mei. ini adalah cerita pendek dari kisah cinta yang aku alami
aku anak tunggal yang tinggal dengan nenek ibu dan ayahku berpisah sejak aku masih kecil dan tidak pernah menunjukkan batang hidungnya dihadapanku. Nenekku sangat sayang padaku dan sangat memanjakanku namun hal itu tidak cukup untuk membuatku merasa dicintai.
singkat cerita, aku sudah menginjak 3 SMA, aku adalah murid yang cukup pintar dan dikenal disekolah hingga sampai suatu hari... aku berkencan dengan seorang pria seumuranku yang bernama Tinn dia anak yang baik dan manis, dia membuatku merasa dicintai. Namun entah mengapa teman temanku sangat membencinya mereka bilang karena Tinn sikapku berubah.
aku tidak begitu peduli dengan ucapan teman temanku, aku yang sudah buta karena cinta lebih memilih untuk tetap bersama Tinn dan kehilangan banyak teman teman, Suatu hari aku mengajak Tinn untuk datang kerumahku dan bertemu dengan nenek, aku kira hanya teman temanku yang tidak menyukai Tinn... Ternyata nenek juga.
"jangan dekat dekat dengan cowo itu mei, nenek ga suka" Hanya itu yang diucapkan nenek tapi berhasil membuat emosiku meledak, "seterah akulah nek, nenek itu gatau apa apa!" kesalku terhadap orang yang sudah merawatku dari kecil. aku masuk kedalam kamarku dengan penuh amarah, "kenapa semua orang sok tau" pikirku saat itu.
aku merasa Tinn adalah orang yang baik dan benar benar manis, dia membuatku merasa tidak kesepian tapi kenapa orang-orang di sekitarku tidak menyukainya?. Aku tetap melanjutkan hubunganku dengan Tinn sampai kami lulus SMA, aku lanjut mencari cari kerja sedangkan Tinn melanjutkan Usaha dagangan ayahnya.
setiap malam kami selalu pergi keluar untuk berkencan, hubungan kami sudah berjalan kurang lebih 2 tahun, Sikap Tinn tidak pernah berubah ia bermulut manis dan suka bergombal. Tinn menjemputku untuk mengajakku kesuatu tempat... aku duduk manis dalam boncengannya hingga kami sampai disuatu tempat "Bar Pakdene" aku terkejut karena Tinn mengajakku ke bar, saatku tanya dia bilang dia ingin mengajakku mencoba hal baru.
aku dan Tinn memasuki Bar itu dan Tinn langsung memesan dua minuman, malam itu Tinn seperti berbeda ia tampak seperti sudah akrab dengan tempat ini namun aku lagi lagi menghiraukannya, aku minum dengan perlahan karena ini yang pertama kalinya bagiku.
Tinn memegang tanganku perlahan membuat perasaanku tidak enak.... "kamu mau mencoba hal baru ga?" aku terdiam bingung perasaanku campur aduk saat itu, namun sialnya aku malah mengiyakan saja pertanyaan itu. Tinn mengajakku kerumahnya yang sepi karena orang tuanya sedang pergi
kami lebih tepatnya Tinn, melakukan hal tak senonoh kepadaku, aku tidak memberontak karena aku takut Tinn akan meninggalkanku. setelah kejadian dihari itu aku terlalu takut untuk bertemu dengan Tinn, setiap malam aku selalu menangis menyesali perbuatan yang telah aku lakukan.
Aku takut nenek marah dan sedih jika aku cerita jadi aku memendamnya sendiri, hari terus berlalu dan aku masih mempunyai hubungan dengan Tinn, Tinn tampak biasa saja tidak ada beban kepala yang terlihat. Suatu hari tubuhku tidak enak badan dan mual mual, pikiranku sudah kemana mana "apakah aku hamil?!" aku mati ketakutan dan aku memutuskan untuk membeli testpack dengan sisa sisa uang tabunganku
"POSITIF" tubuhku jatuh lemas dilantai melihat hasil testpack itu bergaris dua, aku langsung menghubungi Tinn dan memberitahunya, Tinn terdengar kaget dan suaranya bergetar dia berkata untuk menyembunyikan testpack itu dari nenek Agar tidak ketahuan.
"mau kemana mei?" tanya nenek saat melihat aku terburu buru memakai sepatu, "mei ada panggilan Interview nek" bohongku dan langsung buru buru pergi dari rumah. aku bertemu dengan Tinn di taman biasa kita berkencan, aku dengan air mata yang tak tertahankan menangis sejadi-jadinya saat Tinn menyuruh untuk mengabrosi bayi yang ada ada perutku.
"gugurin bayi itu!, aku tidak ingin menjadi ayah diusia muda! apa kata keluarga besarku nanti?, kamu mah enak cuman punya nenek. kalo kamu gamau gugurin, kita putus!" Tinn mendorong tubuhku yang mencoba menghadangnya untuk pergi, aku terjatuh di aspal taman tetap menangis tak peduli orang sekitar.
aku pulang dengan tubuh yang sudah sempoyongan, nenek menyambut cemas "mei! kamu kenapa" ia menghampiriku dengan wajah yang sangat cemas, "hiks maaf nek" hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. nenekku menenangkanku dan menyuruhku duduk terlebih dahulu.
setelah tenang, aku menceritakan semua dengan air mata yang masih berlinang, nenek hanya bisa diam dan menarik nafas panjang. aku tau dibalik diamnya ada beribu-ribu rasa kecewa dan marah padaku. dia memelukku dengan sendu "yang sudah berlalu jalanin saja, apa yang kamu buat itu yang kamu tuai mei, nenek yakin kamu bisa ngerawat bayi itu sendiri".
nenek tidak menyalahkanku, ia hanya menyuruhku untuk bertanggung jawab dengan apa yang telahku perbuat. aku memutuskan untuk mempertahankan anak ini karena dia tidak salah apa apa. sekarang aku berjualan makanan dipasar dibantu dengan nenekku, nenek sekarang sangat mudah sakit karena ia semakin hari semakin tua.
Dan tepat pada usia kandunganku 5 bulan, nenek berpulang ke Rahmatullah membuatku sangat terpukul... satu satunya orang yang mencintaiku telah tiada. namun hidup harus tetap berjalan
anakku lahir danku beri nama Noe dia lelaki yang manis, sekarang usiaku menginjak 30thn dan anakku 10thn. aku tak lagi menyesali apa yang aku perbuat karena sekarang aku punya anakku yang selalu menyayangi dan menemaniku.
dari kisahku, kita bisa belajar hidup harus tetap berjalan, tak peduli apa yang telah kita lalui...
-meidiana