Di desa Wiesfeld, penyihir selalu menjadi hal tabu. Desas-desus mengatakan mereka membawa sial, kekuatan gelap, atau kontrak iblis. Anak-anak tahu: duduk terlalu dekat, berbagi makanan, atau sekadar menyebut nama mereka dengan lembut bisa membuat mereka ikut dicurigai.
Ema berjalan di jalanan tanah dengan kepala sedikit menunduk. Rambutnya kusut, pakaiannya terlalu besar untuk ukuran tubuh kecilnya. Suara orang berbisik selalu datang lebih cepat daripada langkah kakinya.
"Penyihir."
"Anak aneh."
Kata-kata itu tak pernah diucapkan tepat di hadapannya, tapi cukup dekat untuk dirasakan.
-
-
Suatu siang, anak-anak berkumpul di tanah lapang dekat gudang kayu. Teriakan dan tawa mereka memantul ke dinding kayu tua. Ema berjalan pelan, menatap mereka dari kejauhan.
Salah seorang anak melihat Ema berdiri.
“Eh, lihat tuh.”
"Penyihir. Monster."
"Ayo usir dia."
Ema berhenti ketika anak-anak berlari ke arahnya. Tangan mereka menggenggam batu dan kerikil.
"Pergi. Rasakan ini."
Kerikil pertama melayang tanpa aba-aba. Lalu kerikil lain menyusul—kecil, tapi cukup menyakitkan. Ema hanya terdiam, tangannya menutupi sebagian wajah. Suara kerikil menghantam tulang terdengar nyaring, saling bertubrukan di tanah. Wajahnya meringis setiap kali kerikil itu mengenai tubuhnya.
Di antara anak-anak itu, Dorian ikut mengangkat tangannya.
Batu di genggamannya terasa berat. Telinganya masih terngiang suara piring pecah dan bentakan keras di rumah. Ia melempar tanpa benar-benar menatap. Bahunya yang semula tegang perlahan mengendur. Tangannya berhenti mencari kerikil, sementara anak-anak lain masih tertawa.
"Anak-anak. Jangan dekat-dekat dengannya. Berbahaya."
Suara itu terdengar dari kejauhan, seorang wanita paruh baya dengan tubuh sedikit bungkuk menatap ke arah mereka.
"Benar. Ayahku juga bilang begitu."
Anak-anak itu serempak membuang kerikilnya. Mereka pergi menjauhi Ema yang berdiri memegangi kepala. Tubuhnya bergetar sambil sesekali melirik dari celah tangan. Debu tipis menempel di pipinya yang mulai membengkak.
Dorian masih berdiri saat semua anak telah pergi. Ia menatap Ema sedikit lebih lama, lalu menunduk, sebelum akhirnya berbalik menyusul temannya.
-
-
Sore hari, rumah Dorian kembali riuh.
Suara bentakan saling bertabrakan, piring dibanting, kata-kata yang tak dimaksudkan untuk telinga anak tetap menembus dinding tipis. Dorian berdiri di sudut ruangan, punggungnya menempel pada kayu dingin. Saat pintu depan akhirnya terbuka, ia keluar tanpa pamit, membiarkan suara itu terkunci di belakangnya.
Ia berlari ke tepian sungai.
Air sungai mengalir pelan di bawah cahaya senja yang mulai memudar. Di antara semak liar tak jauh dari tepian, Ema berjongkok, tangannya sibuk memetik buah kecil yang tumbuh rendah di batang berduri. Jemarinya bergerak hati-hati agar tidak tergores.
Suara langkah tergesa terdengar dari arah jalan tanah.
Ema berhenti. Kepalanya terangkat sedikit. Ia mengintip dari balik daun lebar.
Dorian muncul di antara ilalang dengan napas terburu. Langkahnya tidak teratur, terlalu cepat untuk sekadar berjalan, terlalu lambat untuk disebut berlari. Rahangnya terkatup rapat, jemarinya mengepal di sisi tubuhnya.
Dorian duduk di atas bebatuan di tepi sungai. Ia menarik lutut hingga ke dada, lalu mengusap wajah kasarnya. Bahunya bergetar saat menunduk lebih dalam. Suara sungai hampir menelan isak yang tertahan di tenggorokannya.
Ema memperhatikan dari jauh.
Ekspresi itu tidak asing. Sebuah ingatan singkat melintas—telapak tangan hangat menyentuh kepalanya saat ia kecil. Jemari yang mengusap rambutnya perlahan ketika ia menangis tanpa suara. Sentuhan itu tidak menghapus air mata, tapi membuatnya berhenti merasa sendirian.
Ingatan itu datang cepat, lalu memudar.
Jari Ema yang memegang buah liar mengendur. Satu buah jatuh ke tanah tanpa ia sadari.
Tangan Ema terangkat sedikit, menyingkap dedaunan di depannya. Ia ragu, lalu perlahan mulai berdiri. Langkahnya pelan ketika keluar dari balik semak.
Dorian tersentak saat menyadari ada bayangan di sampingnya. Ia menoleh dengan cepat.
“Pergilah. Monster."
Ema tak bergerak. Ia maju selangkah lebih dekat.
Dorian meraih batu di tanah sekitar dan melemparkannya. Batu itu mengenai pelipis Ema dengan bunyi tumpul. Tubuh Ema sedikit terhuyung. Darah segar mengalir tipis, melewati alis dan menuruni pipinya. Debu sungai menempel di garis merah itu.
Dorian membeku.
Tangannya masih terangkat. Matanya turun ke telapak tangannya sendiri, lalu kembali ke wajah Ema. Kilasan rumah yang gaduh menyambar cepat—piring pecah, suara kursi diseret, bentakan yang tak pernah benar-benar padam.
Ia mundur satu langkah. Tumitnya menginjak batu yang basah dan bergeser pelan. Tangannya terangkat spontan, mencari pijakan yang tak ada. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke sungai.
Air dingin menyergapnya, memaksa napasnya terhenti sesaat. Ia bangkit dengan susah payah, pakaian basah menempel di kulitnya.
Ema sudah berdiri di tepian. Tangannya terulur.
“Jangan sentuh aku!” Dorian memaki, menepis udara di depannya.
“Aku bilang pergi.”
Ema menurunkan tangannya. Ia melangkah mundur satu langkah, lalu berbalik. Langkahnya pelan menjauh dari tepi sungai. Jejak kakinya tertinggal sebentar di tanah lembap sebelum tertutup air yang merembes.
Dorian berdiri terhuyung di tepian, napasnya masih berat. Air menetes dari ujung rambut dan lengan bajunya. Ia tidak melihat ke mana Ema pergi.
Beberapa langkah kemudian, Ema berhenti lalu menoleh.
Ia mengangkat kedua tangannya perlahan. Dari jemari yang masih ternoda darah, cahaya kecil muncul. Satu titik, lalu beberapa yang lain menyusul. Kunang-kunang bercahaya lembut melayang keluar, bergerak pelan di udara senja.
Cahaya itu berputar di sekitar Ema, tenang, lalu memudar satu per satu.
Dorian mengangkat pandangannya.
Kilasan samar muncul—cahaya kecil di malam hari, suara tawa yang jauh, sebuah nama yang pernah dipanggil dengan lembut.
Suara sungai mengalir tanpa henti. Dorian menatap arusnya beberapa saat, lalu duduk kembali di atas batu. Jemarinya tidak lagi mengepal. Air mata turun dengan sunyi.
Ema mendekat perlahan. Tangannya yang semula ragu kini benar-benar menyentuh kepala Dorian. Sentuhannya hangat dan ringan.
Dorian tidak menepis kali ini.
-
-
Beberapa hari kemudian, pasar desa sedang ramai.
Ema berjalan di antara lapak-lapak, menatap buah-buahan dengan mata penasaran. Saat lengannya tak sengaja menyenggol keranjang, beberapa buah jatuh ke tanah. Pedagang itu langsung berteriak.
“Apa yang kau lakukan? Mau mencuri, ya?!”
Suara itu menarik perhatian. Anak-anak yang sedang bermain mendekat. Kerikil kembali muncul di tangan-tangan kecil.
Dorian ada di sana, berdiri paling belakang.
Seorang anak menyodorkan kerikil ke tangannya.
“Giliranmu, Dorian.”
Dorian menerimanya tanpa bicara. Permukaan batu itu kasar di telapak tangannya. Ia menimbangnya sebentar, lalu menarik tangan ke belakang.
Ema berdiri beberapa langkah di depan mereka, tubuhnya masih kaku. Seseorang melempar lebih dulu. Kerikil itu mengenai bahu Ema.
Tangan Dorian ikut terangkat.
Untuk sesaat, cahaya senja memantul di batu yang ia genggam. Sebuah bayangan singkat melintas. Di tepi sungai, cahaya kecil melayang di udara, sentuhan ringan di kepalanya.
Lengannya terangkat, berhenti di tengah ayunan. Jemarinya mengendur. Batu itu tetap di tangannya ketika lengannya turun kembali.
Dorian berbalik lebih dulu.
“Sudahlah,” katanya singkat. “Dia membosankan. Cari yang lain.”
Ia berjalan menjauh tanpa menunggu jawaban. Batu itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah. Anak-anak saling pandang, ragu, lalu satu per satu ikut bubar.
Ema berdiri di tempatnya. Debu masih menempel di pipinya. Ia menatap punggung Dorian sampai sosok itu hilang di antara orang-orang.
-
-
Hari-hari berikutnya mengalir seperti sungai—tenang di permukaan, namun menyimpan arus yang tak terlihat.
Mereka tak pernah sepakat untuk bertemu. Namun selalu saja ada waktu ketika Dorian duduk di batu yang sama, membelakangi dunia. Beberapa langkah darinya, Ema menggerakkan jemarinya pelan. Cahaya kecil muncul, lalu lenyap sebelum benar-benar terang.
“Dorian!”
Suara itu datang dari kejauhan.
“Ayo latihan!”
Ema mendengarnya dari balik semak. Bibirnya bergerak tanpa suara, menirukan bentuk yang sering ia dengar.
Do-ri-an.
Ia meletakkan rangkaian bunga kecil di atas batu dekat tempat duduk Dorian, lalu mundur satu langkah.
“Dorian!” teriak seseorang lagi dari jalan tanah.
Dorian menoleh ke arah suara itu, lalu melihat bunga di sampingnya. Kakinya bergerak lebih cepat dari pikirannya—menendangnya ke sungai sebelum berbalik pergi.
Ema tidak bergerak.
Beberapa saat setelah punggung itu menghilang, Dorian kembali. Ia turun ke tepi sungai, mengambil rangkaian bunga yang basah, dan menyelipkannya ke saku tanpa ekspresi.
-
-
Waktu terus bergerak.
Angin musim gugur membawa kabar dari akademi ksatria. Nama Dorian tertera di daftar penerimaan, kecil namun cukup untuk menggeser seluruh hidupnya dari poros lama.
Sejak hari itu, sore-sore di tepi sungai terasa seperti hitungan mundur.
Mentari turun perlahan di tepi sungai.
Ema berjongkok di antara rerumputan, memetik bunga liar kecil yang tumbuh rendah di tanah lembap. Jemarinya kotor oleh tanah, beberapa kelopak sudah terselip di sela-sela jari. Ia meniup serbuk halus yang menempel di satu tangkai, lalu menyusunnya pelan.
Langkah kaki terdengar di belakangnya.
Ema berhenti, tapi tak langsung menoleh.
“Hei.”
Suara itu membuat bahunya sedikit terangkat.
Dorian berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya lebih pendek sekarang. Bahunya lebih lebar. Tapi caranya berdiri masih sama—seolah selalu siap menolak sesuatu.
“Hei, bodoh.”
Ema menoleh.
“Jangan diam saja,” katanya, menatap ke arah sungai, bukan ke arahnya. “Cobalah lawan mereka yang ingin menyakitimu.”
Angin sore berhembus di antara mereka. Ema berdiri perlahan. Bunga-bunga kecil masih ada di tangannya.
Dorian merogoh sakunya, mengeluarkan jepit rambut kecil sederhana.
“Rambutmu berantakan.”
Ia mendekat satu langkah, menyelipkan jepit itu dengan gerakan cepat dan canggung. Ujung jarinya menyentuh pelipis Ema sepersekian detik, kulit yang dulu pernah memerah karena lemparannya.
Dorian menarik tangannya kembali lebih cepat.
Dadanya naik turun perlahan. Matanya menatap Ema sejenak, lalu segera berbalik.
"Lupakan aku."
Ia sudah berjalan sebelum Ema sempat mengangkat kepala.
Ema melangkah setengah langkah ke depan. Tangannya terangkat, bunga liar itu terjepit di antara jemarinya yang gemetar. Bibirnya terbuka sedikit, namun tak ada suara yang keluar.
Ia tetap berdiri di sana cukup lama. Beberapa kelopak berjatuhan dari tangannya.
-
-
Musim berganti pelan, seperti daun yang jatuh tanpa suara.
Sungai tetap mengalir seperti biasa. Ema masih datang ketika sore turun, duduk di batu yang sama. Kadang ia membawa bunga, kadang tidak membawa apa-apa. Jepit kecil itu tetap terpasang di rambutnya.
Tidak ada lagi langkah kaki yang datang dari belakang.
-
-
Beberapa hari terakhir, bau hangus sering terbawa angin dari arah hutan. Rumput di tepi ladang menghitam seperti disentuh bara. Orang-orang menutup jendela lebih cepat saat senja turun.
Sore itu, anak-anak bermain tak jauh dari batas hutan. Tawa mereka memantul di antara pepohonan. Ema berdiri cukup jauh, di bawah bayangan pohon tua.
Sesuatu bergerak di antara semak.
Seekor makhluk tinggi berkulit merah kusam melangkah keluar dari bayangan. Matanya menyala redup. Setiap embus napasnya mengepul tipis di udara.
Tawa anak-anak terhenti.
Seseorang berteriak.
Anak-anak berhamburan ke arah desa. Tanah beterbangan di bawah kaki kecil mereka. Namun satu anak tersandung akar dan jatuh. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu gemetar.
Makhluk itu mendekat.
Ema bergerak lebih dulu dari pikirannya.
Ia berlari ke arah anak itu. Tangan kecilnya terangkat. Cahaya tipis menyala di ujung jarinya. Sihir itu meleset, goyah, tapi tetap mengenai bahu makhluk itu.
Makhluk itu menggeram. Luka tipis membelah kulitnya. Ia mundur, lalu menyipitkan mata.
Alih-alih menyerang Ema, ia berbalik dan menyemburkan api ke ladang kering. Api menyambar cepat, menjilat pagar kayu dan jerami. Asap hitam membumbung tinggi ke langit.
Anak yang jatuh menjerit.
Ema berbalik hendak menariknya menjauh, namun semburan kedua melintas rendah, terlalu dekat. Panasnya membuat udara bergetar.
Teriakan orang dewasa terdengar dari arah desa.
Makhluk itu sudah menghilang ketika warga tiba. Api masih menjalar di ladang. Asap menggantung rendah. Anak kecil itu menangis dalam pelukan ibunya, tak mampu mengucapkan satu kata pun saat ditanya.
Beberapa pasang mata beralih pada Ema.
Cahaya di ujung jarinya belum sepenuhnya padam.
“Sudah kubilang…”
“Penyihir itu pembawa sial.”
Seseorang meraih lengannya.
“Ikat dia. Bawa ke desa.”
Tali kasar melilit pergelangan tangannya. Ema tak melawan. Kerikil beterbangan saat tubuh kecilnya didorong maju. Wajah-wajah yang dulu berbisik kini tak lagi ragu.
Di tengah desa, batu datang satu per satu. Lalu lebih banyak. Tak ada yang maju untuk menghentikannya.
“Enyahlah!”
“Bawa kutukanmu!”
Ema terhuyung, namun tetap berdiri. Jepit rambutnya terlepas dan jatuh ke tanah berdebu. Tak ada yang memperhatikan.
Lalu terdengar jeritan dari arah ladang.
Makhluk itu kembali.
Api menyambar lebih liar dari sebelumnya. Seekor bayangan merah melompat di antara atap-atap kayu. Kerumunan yang tadi rapat mendadak pecah. Teriakan berubah menjadi kepanikan. Batu-batu jatuh dari tangan.
Tali yang mengikat Ema terlepas setengah ketika seseorang tersandung dan menabraknya.
Di tengah kekacauan itu, Ema merangkak menjauh, menahan napas yang terasa seperti terbakar. Ia menyelinap ke balik gudang kayu yang setengah runtuh, bersembunyi di bayangan yang lebih gelap dari ketakutan siapa pun.