Malam itu, hutan Kalimantan menelan cahaya Jakarta. Vero, dengan iPhone 15 Pro Max di tangan, sibuk mencari angle terbaik untuk live TikTok-nya. "Guys, look at this view! Sumpah, ini mah bukan cuma healing, tapi reborn!" celotehnya. Di sampingnya, Bagas, anak mapala yang selalu logis, mengawasi drone-nya, sementara Dinda, si penakut dengan "radar" gaib, terus saja mengeluh. "Tapi kok... bau amis ya? Ver, balik yuk? Perasaan gue nggak enak." Dinda menutup hidungnya, raut wajahnya pucat.
"Dinda, please deh. Lo tuh negative vibes banget," Vero memutar bola mata. "Tante Lastri bilang ini bau pupuk organik buat kebunnya. Positive thinking dong!"
Mereka menginap di rumah kayu panggung milik Tante Lastri, kerabat jauh ibu Vero. Wanita paruh baya itu sungguh aneh. Wajahnya terlalu muda, kulitnya kencang dan glowing tanpa kerutan, seolah waktu tak mampu menyentuhnya. Ia selalu tersenyum, tapi tatapan matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan. Senyumnya seperti lapisan gula yang menutupi racun.
Saat jam dinding menunjukkan pukul 02.00 WITA, kegelapan menjadi pekat. Bagas terbangun oleh suara dengungan berat, seperti lebah raksasa yang terperangkap dalam botol kaca, tapi lebih mengerikan, lebih... basah. Drone-nya menyala sendiri di sudut ruangan, baling-balingnya berputar pelan, memantulkan cahaya hijau redup. Jantung Bagas berdebar. Ia tahu ia tidak menyalakannya.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Bagas mengendap-endap ke jendela, mengintip melalui celah papan kayu yang lapuk. Di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pemandangan itu menghantamnya seperti palu godam.
Sesosok kepala wanita melayang di udara, rambutnya panjang dan tergerai hitam kelam. Dari leher yang terputus, organ-organ dalam menjuntai mengerikan—jantung yang masih berdenyut perlahan, paru-paru yang mengembang kempis, dan usus-usus yang berkelok-kelok, memantulkan cahaya bulan dengan kilau merah pekat. Bau amis yang Dinda rasakan kini menyeruak menusuk hidung Bagas, bau darah segar dan kematian. Makhluk itu, Kuyang, terbang rendah, menuju kandang ternak di belakang rumah. Setiap kepakan organ dalamnya menciptakan suara "plap-plap" yang memilukan.
Bagas terpaku. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia ingin menjerit, membangunkan Vero dan Dinda, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap ngeri. Kuyang itu tidak menyerang ternak. Anehnya, ia mendarat perlahan di teras bawah, tepat di dekat pintu kamar Tante Lastri. Dan kemudian, perlahan, kepala dan organ-organ menjijikkan itu... menyatu dengan raga manusia yang sudah menunggu, tergeletak tanpa kepala. Raga itu berkedut, otot-ototnya menegang, sebelum akhirnya terdiam.
Pagi menjelang, membawa serta sinar matahari yang seolah menghapus kengerian malam. Vero bangun dengan wajah super segar, jerawatnya kempes, kulitnya tampak lebih glowing dari biasanya. "Sumpah, air di sini ajaib. Jerawat gue kempes!" serunya, tanpa menyadari bayangan gelap yang melingkupinya.
Bagas menarik Vero dan Dinda ke dapur, wajahnya sepucat mayat. "Kita cabut sekarang. Gue liat Kuyang semalem. Dan gue yakin itu Tante Lastri!" suaranya bergetar.
"Halu lo!" Vero tertawa, menepuk bahu Bagas. "Tante Lastri tuh cuma rajin minum jamu. Udah deh, jangan parno. Lo kurang tidur kali."
Saat itu, Tante Lastri masuk dapur, membawa nampan berisi tiga gelas jus merah pekat. Jus itu terlihat kental, dengan buih-buih merah muda di permukaannya. "Ayo diminum, anak-anak. Ini rahasia awet muda Tante. Khusus buat tamu dari Jakarta." Senyum Tante Lastri merekah, tapi matanya... mata itu seperti mata seekor predator yang mengintai mangsanya.
Dinda, yang sejak semalam sudah merasa tidak nyaman, melihat ada bercak merah kecoklatan di kerah baju Tante Lastri. Bercak itu tampak kering, tapi Dinda yakin itu bukan tanah. Ia menyenggol Bagas, matanya membelalak ketakutan.
Bagas, dengan keberanian yang entah datang dari mana, meraih drone-nya dan memutar rekaman semalam. Ia menunjukkannya ke Tante Lastri. Layar kecil drone itu menampilkan sosok mengerikan yang melayang, organ-organ yang menjuntai. "Ini Tante, kan?"
Senyum Tante Lastri perlahan memudar. Wajahnya yang cantik berubah dingin, matanya menajam. Suasana di dapur mendadak mencekam. Udara terasa berat, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik. "Kalian anak kota memang terlalu banyak tahu," bisiknya, suaranya menusuk tulang.
Vero, yang dari tadi hanya mengawasi dengan ekspresi bingung, tiba-tiba berdiri. Bukan karena takut, justru sebaliknya. Ia berjalan mendekat ke arah Tante Lastri, senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Bagas, chill," ujar Vero santai. Ia meraih salah satu gelas jus merah pekat itu, dan meminumnya sampai habis, tanpa ragu sedikit pun. Setetes jus menetes di dagunya, seperti darah yang mengering.
"Ver! Lo gila?!" teriak Dinda, wajahnya benar-benar ketakutan.
Vero menoleh ke arah Dinda dan Bagas. Matanya mendadak merah menyala, pupilnya melebar. Senyumnya semakin lebar, menampilkan deretan gigi putih yang terlihat terlalu tajam. Ia membuka tas skincare-nya, mengeluarkan sebuah botol kecil tanpa label. Cairan di dalamnya berwarna merah pekat, persis seperti jus yang baru saja ia minum.
"Tante Lastri itu bukan penjahat, Gas," kata Vero, suaranya berubah berat, dingin, dan asing. "Dia itu supplier." Vero tertawa kecil, tawa yang tak wajar, seperti suara garukan kuku di papan tulis. "Lo pikir gimana caranya gue bisa dapet 5 juta followers dengan muka 'template' kalau bukan pakai 'serum' khusus ini? Di Jakarta, beauty is pain. Di sini, beauty is... internal organs."
Rahasia itu akhirnya terkuak, lebih mengerikan dari yang bisa Bagas dan Dinda bayangkan. Vero sudah tahu sejak awal. Perjalanan ini bukan liburan, bukan mencari konten "Hidden Gem". Ini adalah perjalanan untuk "refill" langsung dari sumbernya.
Perlahan, dengan seringai mengerikan di wajahnya, Vero menarik kerah baju tidurnya ke bawah, memperlihatkan sesuatu yang membuat Bagas dan Dinda nyaris pingsan.
Di leher Vero, tampak jelas sebuah garis jahitan melingkar yang rapi, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan. Garis itu memanjang dari bawah telinga, melingkari tengkuk, dan bertemu kembali di sisi lain.
"Gue nggak butuh filter lagi, Gas. Gue cuma butuh... donor baru."
Vero dan Tante Lastri saling pandang, lalu menatap Bagas dan Dinda dengan tatapan lapar. Di luar rumah, suara dengungan lebah raksasa itu semakin kencang, semakin dekat, diiringi suara "plap-plap" organ yang menjuntai.
Bagas dan Dinda hanya bisa terpaku, menyadari bahwa mereka bukan lagi penonton, melainkan pemeran utama dalam horor yang sesungguhnya. Dan di live TikTok Vero, yang entah bagaimana masih menyala, komentar-komentar terus bermunculan, "Kak spill skincare-nya dong!" tanpa menyadari kamera telah jatuh ke lantai, merekam pantulan mata merah menyala dan senyum haus darah yang akan menjadi penampakan terakhir dari mimpi buruk yang nyata.