Gelap di Alas Purwo tidak pernah benar-benar hitam; ia berwarna ungu pekat yang berdenyut, seolah-olah kamu sedang berada di dalam perut raksasa yang sedang bernapas. Raka tahu itu. Sebagai seorang UI/UX Designer yang terbiasa hidup dengan presisi piksel dan logika algoritma, ia selalu menganggap ketakutan adalah bug dalam sistem saraf manusia yang bisa diperbaiki dengan narasi logis. Namun, malam itu, di jantung semenanjung Blambangan, logikanya mulai mengalami system crash.
Ia sedang melakukan perjalanan "healing" yang klise—sebuah istilah yang sekarang ia benci—setelah mengalami burnout hebat di Jakarta. Dengan mobil SUV sewaan, ia nekat memasuki kawasan taman nasional itu saat senja mulai memudar, mengabaikan peringatan penjaga gerbang tentang batas jam kunjung. Baginya, aturan adalah saran, dan mitos adalah konten.
Jalanan aspal di dalam Alas Purwo semakin menyempit, dikepung oleh jajaran pohon jati dan beringin yang dahan-dahannya saling mengunci di atas kepala, membentuk terowongan alami yang kedap suara. Raka melirik layar ponselnya yang diletakkan di dasbor. Google Maps-nya mulai bertingkah aneh. Garis biru yang seharusnya menuntunnya ke arah pantai Trianggulasi mendadak berputar-putar, lalu membentuk pola spiral yang mustahil sebelum akhirnya layar itu menjadi abu-abu total dengan tulisan: Searching for Soul.
Raka tertawa hambar, mencoba menenangkan debar di dadanya yang mulai berisik. "Sinyal sampah," umpatnya. Ia mencoba meraih kabel pengisi daya, namun saat tangannya menyentuh kabel itu, ia merasakan sengatan listrik statis yang sangat kuat hingga ujung jarinya mati rasa. Saat itulah, radio mobilnya yang tadinya mati, mendadak mengeluarkan suara dengungan frekuensi rendah yang membuat perutnya mual.
Dengungan itu perlahan berubah. Bukan musik, bukan siaran berita. Itu adalah suara gesekan benda keras di atas lantai batu, diikuti oleh suara embusan napas yang berat, tepat di belakang telinganya. Raka membeku. Ia tidak berani melihat ke spion tengah. Ia tahu ia sendirian di mobil itu, tapi jok belakangnya terasa berat, seolah-olah ada seseorang yang basah kuyup baru saja duduk di sana.
Tiba-tiba, dari kegelapan di depan sana, muncul seorang lelaki tua yang berdiri kaku di tengah jalan. Lelaki itu mengenakan pakaian serba hitam, khas petani Jawa kuno, namun wajahnya tertutup caping yang sangat lebar. Raka menginjak rem sekuat tenaga. Ban mobilnya berdecit, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter dari kaki lelaki itu.
Lelaki itu tidak bergerak. Tidak kaget. Ia perlahan mengangkat kepalanya, dan di bawah temaram lampu LED mobil yang putih pucat, Raka melihat bahwa lelaki itu tidak memiliki wajah. Hanya ada kulit rata yang licin, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Di tengah-tengah "wajah" rata itu, terdapat satu lubang kecil yang terus-menerus mengeluarkan cairan kental berwarna merah tua.
Raka mencoba memindahkan gigi mundur, tapi tuas transmisinya terkunci. Mesin mobilnya mendadak mati, meninggalkan keheningan yang begitu absolut hingga Raka bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang terdengar seperti ketukan pintu dari dalam dada. Di tengah keheningan itu, sebuah suara muncul. Bukan dari luar, tapi merayap masuk melalui lubang ventilasi AC. Suara itu adalah tembang Jawa yang dinyanyikan dengan nada minor yang sangat lambat, seolah setiap kata ditarik paksa dari tenggorokan yang penuh luka.
“Lir-ilir, lir-ilir, tandure wus sumilir...”
Suara itu lembut, tapi membawa hawa dingin yang luar biasa. Raka merasakan bulu kuduknya berdiri begitu hebat hingga kulitnya perih.
“Tak ijo royo-royo, tak senggo temanten anyar...”
Tembang itu berlanjut, tapi liriknya mulai berubah menjadi sesuatu yang asing dan mengerikan.
“Dalan mati, dalan sepi, ra ono sing bali...”
(Jalan mati, jalan sepi, tidak ada yang kembali...)
“Nyawamu tak silih, kanggo nambal bumi sing perih...”
(Nyawamu kupinjam, untuk menambal bumi yang perih...)
Raka mulai menangis tanpa suara. Ia mencoba membuka pintu mobil, tapi pintunya terasa seperti sudah dilas menjadi satu dengan bodi mobil. Di luar, lelaki tanpa wajah itu mulai berjalan mendekat. Gerakannya patah-patah, seperti boneka kayu yang digerakkan oleh benang yang kusut. Setiap langkah lelaki itu meninggalkan bekas telapak kaki yang terbakar di aspal.
Saat lelaki itu sampai di depan kaca depan mobil, ia menempelkan telapak tangannya ke kaca. Kaca mobil yang tebal itu mulai retak perlahan, membentuk pola seperti jaring laba-laba. Dan dari balik retakan itu, Raka melihat ribuan mata kecil mulai terbuka di batang-batang pohon di sekelilingnya. Pohon-pohon di Alas Purwo itu bukan tumbuhan; mereka adalah saksi bisu yang lapar.
"Kowe pengen 'healing', tho?" (Kamu ingin sembuh, kan?) bisik sebuah suara di dalam mobil.
Raka menoleh ke kursi penumpang di sampingnya. Di sana, duduk seorang wanita dengan pakaian yang sangat modern, sangat mirip dengan mantan kekasih yang baru saja ia tinggalkan di Jakarta. Namun, wanita itu memiliki lubang besar di dadanya yang memperlihatkan akar-akar pohon jati yang melilit jantungnya yang masih berdetak lemah.
"Di sini, nggak ada sinyal yang bisa bikin kamu cemas lagi, Raka," kata wanita itu sambil tersenyum hingga sudut bibirnya robek. "Di sini, kamu nggak perlu update status. Kamu bakal jadi status itu sendiri. Abadi."
Wanita itu mengulurkan tangan, menyentuh dahi Raka. Seketika, memori Raka mulai tersedot keluar. Ia melihat foto-foto di galeri ponselnya terbang keluar dalam bentuk cahaya redup, dihisap oleh kegelapan hutan. Semua identitas digitalnya, semua kecemasannya tentang karir, semua ambisi Gen Z-nya, menguap begitu saja, digantikan oleh rasa hampa yang dingin.
Raka merasakan tubuhnya mulai kaku. Ia melihat ke arah tangannya yang memegang setir, dan ia berteriak histeris saat melihat kulit tangannya perlahan-lahan berubah menjadi tekstur kayu jati yang kasar. Kakinya mulai memanjang, menembus lantai mobil, dan menghujam masuk ke dalam tanah Alas Purwo yang haus.
Lelaki tanpa wajah di depan mobilnya kini mulai menari. Sebuah tarian yang lambat dan menyakitkan, diiringi oleh suara gamelan yang sumbernya seolah berasal dari bawah tanah. Suara kendang itu adalah bunyi benturan tulang manusia, dan suara gongnya adalah jeritan ribuan orang yang tersesat sebelum Raka.
Malam itu, Alas Purwo mendapatkan satu penghuni baru. Bukan sebagai hantu yang bergentayangan, tapi sebagai sebuah pohon jati muda yang berdiri tepat di pinggir jalan.
Keesokan harinya, petugas taman nasional menemukan mobil SUV itu terparkir di tengah jalan dalam keadaan kosong. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tidak ada jejak kaki. Di dalam mobil, mereka hanya menemukan sebuah ponsel yang layarnya retak seribu. Di layar itu, aplikasi Instagram masih terbuka, menampilkan sebuah Story terakhir yang belum sempat terunggah.
Video itu hanya berisi kegelapan total selama 15 detik, namun jika volume suaranya diperkeras maksimal, akan terdengar suara Raka yang berbisik dengan nada yang sangat datar, seolah-olah ia sedang membaca mantra:
"Jangan cari aku di sini. Aku sudah menjadi bagian dari akarnya. Dan akarnya... sangat lapar."
Petugas itu segera mematikan ponsel tersebut, wajahnya pucat pasi. Ia tahu, setiap tahun, Alas Purwo selalu meminta "pembaruan". Dan tahun ini, hutan itu menginginkan seseorang yang merasa dirinya paling logis, agar ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi sesuatu yang selamanya tak masuk akal.
Di kejauhan, di antara rimbunnya daun jati, sayup-sayup terdengar suara tembang yang kini tak lagi asing, namun liriknya kini menyebutkan satu nama: Raka... Raka... wis mulih neng kene... (Raka sudah pulang ke sini).
Hutan itu kembali sunyi. Namun, jika kamu melintas di sana malam hari dan melihat sebuah pohon jati yang bentuk dahan-dahannya menyerupai tangan manusia yang sedang menggapai ke langit, jangan pernah berhenti. Karena di Alas Purwo, rasa kasihan adalah undangan, dan rasa ingin tahu adalah tiket menuju log-out permanen dari dunia nyata.
---