Alas Roban tidak pernah diciptakan untuk manusia. Ia adalah luka lama di punggung Jawa yang dipaksa terbuka oleh peluh dan darah. Di siang hari, ia berpura-pura menjadi hutan jati yang patuh, berdiri kaku di sisi aspal yang membelah Batang. Namun, ketika matahari tergelincir di ufuk Barat dan warna langit berubah menjadi ungu memar, hutan itu mulai bernapas.
Damar tidak pernah mempercayai takhayul hingga malam itu. Baginya, mesin diesel Isuzu Panther miliknya adalah satu-satunya realitas yang ia butuhkan. Namun, malam itu, pukul 01.17, realitas itu mulai retak.
Radio mobilnya tidak sekadar mati; ia mengeluarkan suara statis yang aneh. Bukan suara kresek-kresek biasa, melainkan suara seperti ribuan orang yang sedang berbisik serentak di bawah air. Damar mematikan audionya, tapi bisikan itu tetap ada, seolah-olah berasal dari dalam pori-pori dasbor mobilnya.
Lalu, kabut itu datang. Bukan kabut pegunungan yang putih bersih, melainkan kabut abu-abu keruh yang beraroma seperti tembakau kering dan besi berkarat.
Di tikungan itu, ia melihatnya. Perempuan berkebaya cokelat kusam.
Ketika perempuan itu masuk ke mobil—tanpa suara pintu, tanpa gesekan kain—suasana kabin langsung berubah. Oksigen seolah dihisap keluar, digantikan oleh rasa sesak yang dingin. Damar menyetir dengan tangan gemetar, sementara dari kursi belakang, sebuah tembang mulai mengalun. Sangat pelan, hampir tidak terdengar, namun setiap nadanya seperti jarum yang menusuk saraf.
Perempuan itu tidak menoleh. Ia menunduk, namun bibirnya yang pucat bergerak-gerak kecil. Sebuah tembang Jawa kuno, Lingsir Wengi, namun dengan lirik yang melenceng, lebih gelap, dan lebih purba.
"Lingsir wengi... sliramu dudu memedi..."
(Menjelang malam... dirimu bukanlah hantu...)
"Nanging lemah kang ngelih, nunggu mangsa sing lali..."
(Melainkan tanah yang lapar, menunggu mangsa yang lupa...)
"Tak jemput nganggo gending, tak gawa menyang kene..."
(Kujemput dengan gending, kubawa ke sini...)
"Saben jangkahmu, dadi balung sing dikubur ing kene..."
(Setiap langkahmu, menjadi tulang yang dikubur di sini...)
Suara itu tidak keluar dari tenggorokan manusia. Itu adalah suara gesekan antar tulang. Damar merasa air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ia ingin menginjak rem, tapi kakinya terasa seperti sudah menyatu dengan pedal gas. Ia ingin berteriak, tapi lidahnya terasa kaku seperti kayu jati.
Di kaca spion tengah, ia melihat sesuatu yang lebih mengerikan daripada wajah hantu. Ia melihat dirinya sendiri di kursi pengemudi, namun dalam keadaan yang berbeda. Damar yang di spion itu tidak memiliki mata. Lubang matanya kosong, mengucurkan tanah hitam yang subur.
"Mbak... kita sudah sampai?" suara Damar pecah, parau seperti diamplas.
Perempuan itu berhenti menembang. Ia perlahan mengangkat wajahnya. Matanya bukan lagi hitam pekat, melainkan berubah menjadi cermin yang memantulkan pemandangan Alas Roban di tahun 1800-an. Damar melihat ribuan orang bertelanjang dada, kurus kering hingga tulang rusuk mereka terlihat seperti jeruji penjara, sedang mencangkul tanah di bawah cambuk kompeni.
Ia melihat mereka mati satu per satu. Ia melihat tubuh-tubuh itu tidak dikubur, melainkan dicampur ke dalam adonan aspal yang sekarang sedang ia injak dengan ban mobilnya.
"Kamu tahu kenapa jalan ini tidak pernah rusak di bagian ini, Mas?" suara perempuan itu kini terdengar seperti ribuan suara orang mati yang bicara bersamaan.
"Karena kami yang menopangnya. Kami bosan terus-menerus memikul aspal ini. Kami butuh pengganti."
Tiba-tiba, mobil itu melambat dengan sendirinya meskipun Damar menginjak gas sedalam mungkin. Di luar jendela, hutan jati itu tidak lagi diam. Pohon-pohon itu tampak merunduk, dahan-dahannya yang kering memanjang seperti jemari yang ingin membelai mobil Damar.
Di pinggir jalan, ratusan sosok mulai bermunculan. Mereka tidak berteriak. Mereka hanya berdiri kaku. Ada yang membawa cangkul berkarat, ada yang membawa rantai. Dan semuanya menatap ke arah kursi pengemudi. Ke arah Damar.
"Saya tidak mau mati di sini," isak Damar.
Perempuan itu tersenyum. Kali ini bibirnya robek hingga ke telinga, menampakkan barisan gigi yang menghitam. "Siapa bilang kamu akan mati? Di Alas Roban, tidak ada yang benar-benar mati. Kami hanya... dipindahtugaskan."
Perempuan itu mengulurkan tangannya yang dingin ke arah leher Damar. Kulitnya terasa seperti kulit pohon yang kasar. Saat jemari itu menyentuh kulit Damar, memori asing membanjiri kepalanya. Damar merasakan rasa sakit yang luar biasa di punggungnya, seolah-olah ada beban seberat berton-ton aspal yang mendadak diletakkan di sana.
Pandangannya mulai kabur. Lampu depan mobilnya mulai meredup, beralih menjadi cahaya obor yang remang-remang.
Ia melihat mobilnya perlahan-lahan tenggelam ke dalam aspal. Bukan jatuh ke jurang, tapi terhisap masuk ke dalam pori-pori jalanan seolah aspal itu adalah cairan yang hidup.
Tembang itu kembali terdengar, kali ini lebih keras, bergema di seluruh hutan:
"Siji maneh... kanggo nambal dalan sing pecah..."
(Satu lagi... untuk menambal jalan yang pecah...)
"Turua sing lali, dadiya pondasi sing abadi..."
(Tidurlah yang nyenyak, jadilah pondasi yang abadi...)
Pagi harinya, seorang sopir truk kontainer berhenti di kilometer yang sama. Ia melihat sebuah Panther perak terparkir rapi di bahu jalan. Mesinnya masih hangat, lampunya masih menyala redup.
Pintu pengemudi terbuka lebar.
Di kursi pengemudi, tidak ada orang. Hanya ada setumpuk tanah merah yang masih basah dan sebuah kebaya cokelat tua yang diletakkan rapi di atas jok. Di atas dasbor, terdapat sebuah jam tangan yang masih berdetak, namun jarumnya berhenti tepat di angka 01.17.
Sopir truk itu mendekat, mencoba mencari pemiliknya. Namun, ia tidak menemukan jejak kaki di tanah. Hanya ada bau tembakau kering yang sangat kuat.
Saat ia hendak kembali ke truknya, ia merasa aspal yang ia injak sedikit bergetar. Ia menunduk. Di bawah lapisan aspal yang retak, ia seolah melihat sebuah mata manusia yang menatapnya dari celah kecil—mata yang sangat ia kenali dari foto di SIM yang tertinggal di dasbor Panther itu.
Mata Damar.
Sopir itu lari ketakutan, meninggalkan truknya. Dan Alas Roban kembali sunyi. Menunggu mangsa berikutnya yang merasa bahwa mereka bisa melintas tanpa memberi "salam".