Tidak ada yang benar-benar berubah di hidup Kirana Anastasia sampai wajahnya berubah karena oplas.
Sebelumnya, Kirana hanyalah satu dari sekian banyak perempuan Jakarta yang hidupnya habis di KRL, kopi sachet, dan mimpi kecil yang ditahan supaya tidak terlalu berharap. Ia bekerja sebagai admin media sosial sebuah online shop kecil, gajinya cukup untuk makan, pulsa, dan sesekali beli skincare diskon, tapi tidak pernah cukup untuk merasa “diakui”.
Di era algoritma, di mana wajah bisa lebih berharga dari ijazah, Kirana tahu satu hal: ia tidak jelek, tapi juga tidak cukup cantik untuk diperjuangkan oleh dunia.
Semua berubah sejak ia mulai sering muncul di kamera.
Awalnya cuma iseng, ikut live jualan, lalu konten OOTD murah, lalu skincare review jujur yang terlalu jujur untuk ukuran brand besar. Followers-nya naik pelan, tidak viral, tidak juga tenggelam. Sampai suatu malam, seseorang berkomentar:
“Kak cantik sih, tapi hidungnya bikin fokus ke situ 😅”
Komentar itu tidak kasar, tapi menancap.
Lebih dalam daripada hinaan terang-terangan.
Kirana mulai memperhatikan wajahnya dengan cara yang berbeda. Kamera depan terasa seperti cermin jujur yang kejam. Angle dicoba, filter dipelajari, tapi ada satu hal yang tidak bisa ditutup: ia merasa kurang.
Dari situlah kata oplas alias operasi plastik mulai terasa bukan lagi tabu, melainkan solusi.
Ia bilang ke dirinya sendiri, “Sekali aja. Biar pede. Biar karir naik.”
Dan Jakarta penuh tempat yang menawarkan mimpi instan.
Kirana mengambil pinjaman online, meminjam dari dua teman, dan sisanya dari kartu kredit yang seharusnya tidak ia sentuh. Klinik itu bersih, dokternya ramah, janjinya sederhana: perubahan kecil, dampak besar.
Saat perban dilepas, Kirana menangis.
Bukan karena sakit.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa layak.
Feed-nya berubah.
Kamera mencintainya.
Algoritma memeluknya.
Followers naik drastis. Brand mulai masuk. Endorse kecil, lalu sedang, lalu besar. Dalam waktu setahun, Kirana pindah dari kontrakan sempit ke apartemen studio, dari kopi sachet ke latte mahal, dari naik KRL ke ride-hailing premium.
Ia mulai dikenal sebagai beauty content creator.
“Dulu hidup gue susah banget,” katanya di sebuah podcast kecil.
“Tapi Tuhan itu adil.”
Kalimat itu dipotong, dijadikan klip, viral.
Namun sejak uang datang deras, ada yang pelan-pelan pergi.
Kirana jarang pulang. Jarang menjenguk ibunya yang masih tinggal di rumah petak pinggiran. Ia sibuk event, sibuk collab, sibuk mempertahankan citra. Setiap konten harus sempurna. Setiap wajah harus flawless.
Ia mulai oplas lagi. Sedikit. Lalu sedikit lagi.
Bukan karena perlu, tapi karena takut kehilangan.
“Sekali lagi aja,” katanya setiap kali ragu.
Dan dunia selalu memberi alasan.
Uangnya banyak, tapi hatinya tidak pernah tenang.
Tidurnya gelisah. Shalatnya terburu-buru. Sedekahnya selalu diposting. Doanya lebih sering tentang engagement daripada keberkahan.
Suatu hari, Kirana pingsan di lokasi syuting.
Dokter bilang tubuhnya kelelahan. Sistem imunnya turun. Stres kronis. Tapi yang paling mengejutkan adalah satu kalimat yang terdengar biasa, namun terasa seperti vonis:
“Secara fisik kamu kelihatan sempurna. Tapi tubuhmu capek mempertahankan itu.”
Kirana pulih, tapi kariernya mulai goyah. Algoritma berubah. Wajah-wajah baru bermunculan, lebih segar, lebih berani, lebih ekstrem. Endorse mulai berkurang. Brand minta konsep yang lebih gila.
“Bisa lebih berani gak?”
“Bisa lebih beda gak?”
Kirana melihat dirinya di cermin, dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu siapa yang ia lihat.
Ia tetap kaya.
Tapi kosong.
Puncaknya datang saat ibunya sakit.
Kirana pulang tergesa, membawa tas mahal, sepatu mahal, dan wajah yang dikenali orang kampung tapi terasa asing. Ibunya memandang lama, lalu tersenyum kecil.
“Kamu cantik,” kata ibunya pelan.
“Tapi kok matamu capek banget, Nak?”
Ibunya meninggal dua hari kemudian.
Di pemakaman sederhana itu, Kirana berdiri sendirian. Tidak ada kamera. Tidak ada filter. Tidak ada brand. Hanya tanah merah dan doa-doa lirih.
Malamnya, Kirana membuka rekeningnya. Angkanya besar. Sangat besar. Tapi ia merasa tidak punya apa-apa untuk dibanggakan pada Tuhan.
Di sudut hatinya sebuah kalimat sederhana itu menghantam:
Kirana sadar, rezekinya tidak pernah benar-benar berkah, apakah karena oplasnya? mungkin karena sejak awal, ia menukar syukur dengan validasi, dan ketenangan dengan pujian.
Wajah barunya memberinya dunia.
Tapi dunia itu mengambil pulang jiwanya pelan-pelan.
Beberapa bulan kemudian, Kirana menghilang dari media sosial. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada drama. Akunnya tetap ada, tapi kosong.
Orang-orang berspekulasi: bangkrut, depresi, atau menikah dengan crazy rich.
Tidak ada yang tahu kebenarannya.
Yang pasti, Kirana kini hidup sederhana, membuka usaha kecil tanpa wajahnya jadi jualan, dan setiap kali bercermin, ia tidak lagi bertanya “aku cukup cantik?”
melainkan “apa hari ini hidupku jujur ataukah penuh kepalsuan? "
Dan di dunia yang mabuk rupa dan materi, pertanyaan itu terasa jauh lebih menakutkan.
---