"Ia hanya ingin dicintai, tapi yang pulang justru kutukan.”
---
Di Desa Kedungreja Lor, orang-orang percaya bahwa tidak semua sakit berasal dari tubuh. Ada yang datang dari hati orang lain, dari iri yang tak terucap, dari cinta yang ditahan terlalu lama hingga berubah bentuk. Desa itu tenang di siang hari, sawahnya hijau dan anginnya ramah, tetapi malam selalu menyimpan dengung cerita lama—tentang niat yang salah alamat dan doa yang melenceng.
Wira Satya Pradana adalah lelaki yang hidupnya sederhana dan terukur. Ia bangun sebelum subuh, menyusuri pematang dengan langkah pasti, dan pulang saat matahari mulai condong ke barat. Ia dikenal jujur, pendiam, dan tak pernah macam-macam. Banyak yang menilai hidupnya lurus, seperti galengan sawah yang ia rawat sendiri.
Sekar Ayu Lintang datang sebagai warna baru. Perempuan itu pendatang, menumpang tinggal di rumah bibinya setelah ayahnya wafat. Senyumnya lembut, caranya berbicara halus, dan matanya menyimpan kesedihan yang tidak diumbar. Wira tidak pernah berniat jatuh cinta, tetapi rasa itu tumbuh pelan, tanpa permisi.
Mereka sering bertemu di jalan kecil menuju sawah.
“Panase kok ora keroso nek ketemu kowe,” kata Wira suatu sore, setengah bercanda.
Sekar tersenyum tipis. “Ojo ngomong ngono, Mas. Wong desa bisa salah paham.”
Namun senyum itu bertahan lama di ingatan Wira, lebih lama daripada panas matahari.
Raras, perempuan yang sejak lama disebut-sebut sebagai calon istri Wira, melihat perubahan itu dari kejauhan. Ia tidak bodoh. Ia tahu bahasa tubuh, tahu jarak pandang, tahu kapan seorang lelaki mulai menyimpan nama lain di dadanya. Cemburu tidak langsung menjelma kemarahan, melainkan kegelisahan yang diam-diam tumbuh.
“Mas Wira saiki kok kerep meneng,” katanya suatu malam.
“Biasa wae, Ras,” jawab Wira. “Mungkin aku mung kesel.”
Raras mengangguk, tapi hatinya tidak.
Ia mendengar bisik-bisik tentang Sekar, tentang kedekatan yang terlalu sering, tentang tatapan yang terlalu lama. Dalam kepalanya, kecemasan berubah menjadi tuduhan, lalu menjadi rasa takut kehilangan. Dan dari rasa takut itulah ia melangkah ke arah yang seharusnya tidak ia datangi.
Mbah Tarmo tinggal di pinggir desa, dikenal sebagai orang yang “bisa”. Raras datang dengan tangan gemetar dan niat yang belum sepenuhnya ia pahami.
“Kula namung kepengin tentrem, Mbah,” katanya lirih.
Mbah Tarmo menatap lama. “Tentrem ora iso dijupuk saka larahe wong liya, Nduk.”
Namun Raras sudah terlalu jauh melangkah untuk mundur.
Beberapa hari kemudian, Wira jatuh sakit. Tubuhnya panas dingin, matanya kosong, dan ia sering mengigau menyebut nama Sekar. Dokter desa tidak menemukan apa-apa. Obat habis, doa dibaca, tetapi sakit itu tidak beranjak.
Sekar merasa bersalah tanpa tahu sebabnya. Ia datang menjenguk, duduk di sisi ranjang dengan wajah pucat.
“Mas, nek aku sing dadi sebab, aku njaluk ngapura,” katanya sambil menunduk.
Wira menggenggam tangannya lemah. “Iki dudu salahmu.”
Namun desa tidak pernah sepenuhnya adil. Bisik-bisik mulai mengarah pada Sekar. Pendatang. Perempuan yang terlalu dekat. Perempuan yang datang membawa perubahan.
Sekar memilih pergi.
Ia meninggalkan desa tanpa pamit, tanpa penjelasan panjang, hanya surat pendek untuk ibunya: "Aku lunga kanggo nylametke akeh ati, kalebu atiku dhewe."
Setelah kepergian Sekar, sakit Wira perlahan mereda. Orang-orang menyimpulkan apa yang ingin mereka simpulkan. Raras menangis dalam diam, sebab di balik kelegaan, ada rasa bersalah yang mulai mengetuk-ngetuk.
Ia akhirnya menikah dengan Wira. Pernikahan itu sederhana, sah, dan diterima desa. Namun pada malam-malam tertentu, Raras terbangun dengan dada sesak.
“Mas,” katanya pelan, “kowe tau kelingan Sekar?”
Wira diam lama. “Ana wong sing ora iso dilalekke, Ras. Nanging ora ateges ora setya.”
Raras menoleh, matanya basah. Ia tahu, ada kemenangan yang menyisakan luka.
Sekar hidup di tempat lain, dengan nama lain. Ia membantu di surau, bekerja di ladang orang, dan bangun sebelum subuh untuk berdoa. Ia tidak mencari kebahagiaan besar, hanya ketenangan yang jujur.
“Gusti,” bisiknya setiap malam, “kula nate salah dalan. Mugi kula diparingi kekuatan kanggo tetep eling.”
Desa Kedungreja Lor kembali tenang, tetapi kisah itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia menjadi pelajaran yang diceritakan pelan-pelan, tentang cinta yang tidak dijaga, tentang niat yang salah arah.
Orang-orang tua berpesan pada anak-anak mereka, “Ojo dolanan ati wong liya. Ati kuwi dudu lemah kosong.”
Teluh itu akhirnya benar-benar berakhir bukan karena ilmu dipatahkan, melainkan karena orang-orang belajar membayar kesalahan dengan hidup yang lebih hati-hati.
Dan Sekar Ayu Lintang, yang namanya perlahan memudar dari ingatan desa, tetap hidup sebagai gema sunyi: bahwa cinta yang dipaksakan akan selalu kembali, dan hati yang gelap akan selalu menagih terang.
TAMAT