Rumah itu berdiri di ujung kota kecil yang bahkan Google Maps sering ragu menandainya. Jalannya sempit, lampu jalannya kuning redup, dan kalau hujan turun, bau tanah basah bercampur anyir besi tua langsung menyergap hidung. Bangunan peninggalan kolonial Belanda itu menghadap jalan dengan posisi agak miring, seolah sengaja menolak lurus dengan dunia modern.
Cat putihnya mengelupas. Jendelanya tinggi dan sempit. Pintu kayunya tebal, penuh bekas goresan, bukan bekas waktu, tapi bekas sesuatu yang pernah berusaha keluar.
Warga sekitar punya banyak nama untuk rumah itu.
Rumah Van Der Wijk.
Rumah Pesugihan.
Rumah Setan Jas Belanda.
Dan di kolom komentar TikTok:
“Rumah horor paling serem se-Indonesia (FIX BUKAN SETTINGAN 😱)”
Nama terakhir itulah yang bikin Dudung cs datang.
---
Dudung itu tipikal cowok yang hidupnya berputar di algoritma. Umur dua puluh enam, suka hoodie oversized, sneakers putih yang selalu kotor, dan satu prinsip hidup:kalau belum viral, berarti belum kejadian.
Akun TikTok-nya, @MistisSantuy, sudah tembus 400 ribu pengikut. Kontennya sederhana: eksplor tempat angker, baca urban legend, pura-pura berani, pulang dengan ketawa palsu.
Timnya kecil tapi solid, terdiri dari Ujang fomo, kameramen yang tangannya selalu gemetar tapi hasil videonya justru makin “real”. Ipul codet, tukang komentar receh dan pembaca live chat.
Rere kere, anak soleh yang entah kenapa nyasar ke tim horor—katanya, “Biar ada penyeimbang spiritual.”
Malam itu mereka parkir motor di pinggir jalan. Angin dingin. Jam hampir sebelas.
“Bro, ini vibes-nya beda sih,” kata Ujang sambil nelen ludah.
Dudung nyalain kamera. “Santai. Ini konten. Ingat, takut boleh, lari jangan.”
Ipul cek HP. “Live udah 20 ribu yang nonton, bang. Komentar nyuruh masuk semua.”
Rere berdiri agak belakang. “Gue cuma mau bilang… dari tadi gue nggak enak perasaan.”
“Perasaan lo kalah sama view count,” jawab Dudung sambil ketawa.
Pagar rumah itu terbuka sendiri.
KREEEK.
Komentar meledak.
---
Begitu kaki mereka menginjak lantai kayu, suara rumah seperti menarik napas panjang. Udara langsung dingin. Bukan dingin AC, namun yang bikin bulu kuduk naik tanpa alasan logis.
Di dinding ruang tamu, foto-foto tua berjajar. Orang-orang Belanda berpakaian rapi, tapi matanya… kosong. Terlalu kosong.
“Bang,” bisik Ujang, “mata fotonya kayak ngikutin kamera.”
“Lo halu,” jawab Dudung. Tapi suaranya nggak seyakinnya sendiri.
Tiba-tiba terdengar langkah dari lantai dua.
DOR. DOR. DOR.
Ipul refleks nyeletuk, “Anjir… ini rumah apa kosan hantu?”
Lampu berkedip. Kamera nge-freeze sesaat. Lalu muncul bayangan di ujung tangga: sosok tinggi, kurus, pakai jas hitam ala Belanda, lehernya miring, kepalanya seperti nggak ditopang tulang.
Komentar live langsung chaos.
“WOI ITU APA”
"FIX HANTU”
“KELUAR SEKARANG BANG”
Sosok itu melangkah turun.
Setiap langkahnya bikin lantai berderit seperti jeritan kecil.
“Apa yang kalian cari?” suaranya berat, campur bahasa Indonesia patah-patah dan logat asing.
Dudung menelan ludah. “Konten… maksud saya… kami cuma mau cerita sejarah.”
Sosok itu tertawa. Rumah ikut tertawa.
“Dulu orang datang ke sini cari uang,” katanya.
“Kalian datang cari perhatian.”
---
Di ruang bawah tanah, mereka menemukan altar. Lilin hitam, simbol aneh, mangkuk besi berkarat. Tapi Rere langsung menggeleng.
“Ini palsu,” katanya. “Pesugihan asli nggak kayak gini.”
Di sudut ruangan ada brankas tua. Dibuka paksa. Isinya bukan emas—tapi dokumen.
Surat jual beli tanah. Catatan utang. Berita kematian yang ditutup-tutupi.
Rumah ini bukan tempat pesugihan.
Ini tempat pembunuhan.
Pemilik rumah, Van Der Wijk, dibunuh rekan bisnisnya sendiri. Isu pesugihan sengaja disebar agar orang takut datang. Hantu jas Belanda itu bukan penjaga kekayaan, tapi saksi yang tidak pernah didengar.
Tiba-tiba suara keras meledak.
DARDERDOR.
Foto-foto jatuh. Dinding retak. Dari setiap sudut rumah, bayangan muncul—bukan satu, tapi banyak. Mereka berteriak, tertawa, memanggil nama.
Rere langsung duduk, buka sajadah.
“Allahu la ilaha illa Huwa…”
Begitu ayat itu dibaca, bayangan mundur. Rumah bergetar seperti menahan amarah.
Sosok jas Belanda menatap Rere lama.
“Yang ingat Tuhan,” katanya pelan, “tidak kami sentuh.”
---
Polisi datang malam itu, dipanggil oleh laporan tanpa nama dari akun Dudung sendiri. Padahal HP-nya nggak pernah lepas dari tangannya.
Kasus dibuka ulang. Rumah disegel.
Video mereka viral parah. Jutaan views. Headline di mana-mana.
Tapi ada efek samping.
Setiap penonton mengaku mendengar suara aneh di menit 13:13. Ada yang dengar namanya dipanggil. Ada yang mimpi rumah itu. Ada yang tiba-tiba kepikiran dosa lama.
Dudung berhenti bikin konten horor.
Ujang pindah kota.
Ipul delete akun.
Rere makin rajin ke masjid.
Dan Dudung?
Ia masih buka kamera kadang-kadang.
Tapi setiap layar menyala, selalu ada satu refleksi di belakangnya,jendela tinggi sempit.
Dan suara pelan berbisik:
“Kalau mau viral… siap tanggung akibatnya.”
---
TAMAT