Swiss terlihat seperti wallpaper ponsel mahal. Indah. Bersih. Diluar nalar.
Pegunungan Alpen berdiri tinggi, putih, dingin. Seolah dunia ingin pamer: lihat, hidup bisa setertata ini. Danau Zürich memantulkan langit dengan akurat, nyaris tanpa cela. Airnya tenang, tapi terlalu tenang, seperti orang yang sudah lama tidak menangis.
Di sanalah Sandi Pratama tinggal.
Mahasiswa S2. WNI. Tampan dan mapannya keterlaluan. Wong jowo yang hobi gym dan traveling.
Setiap pagi, ia membuka jendela apartemen kecilnya. Udara dingin masuk tanpa izin. Bau salju, kayu basah, dan kesepian. Tram melintas tepat waktu. Selalu tepat waktu. Seperti hidup yang tidak memberi ruang untuk salah.
Dari luar, hidup Sandi kelihatan ideal.
Beasiswa aman. Kerja part time bergaji besar. Kopi mahal jadi minuman harian. Alpen jadi latar Instagram.
Tapi setiap malam, setelah dunia tertidur rapi, Sandi terjaga.
Bukan karena tugas.
Bukan karena uang.
Melainkan satu pertanyaan sederhana yang terasa kejam:
“Kalau hidupmu sudah ‘jadi’, kenapa hatimu masih kosong?”
Pesan dari ibu datang hampir tiap minggu.
Nada lembut, tapi tekanannya terasa.
“Kapan pulang?”
“Kapan menikah?”
“Jangan kelamaan sendirian di negeri orang.”
Sandi menatap langit-langit. Putih. Bersih. Dingin.
Seperti hidupnya.
Di kampus, ada Adeline Claire Baumann. Rambut pirang, tawa ringan, hidupnya seperti playlist summer sepanjang tahun.
“Kamu terlalu mikir,” katanya sambil duduk di rumput kampus, Alpen berdiri gagah di belakang mereka.
“Love shouldn’t be heavy.”
Sandi tersenyum. Tapi di dadanya, cinta selalu terasa seperti tanggung jawab, bukan liburan.
Lalu ada Rania Sofea Binti Ahmad. Gadis Melayu. Bicara pelan. Senyumnya hangat. Ia membawa aroma Asia Tenggara ke negeri yang dingin.
“Aku rindu suara rumah,” kata Rania suatu malam di tepi danau.
Sandi mengangguk.
“Aku rindu… jadi punya tempat pulang.”
Dan yang paling mengganggu pikirannya adalah Ayesha Hana Al-Masri.
Perempuan Palestina. Dosen tamu. Bertemu di Islamic Center Zürich, bangunan sederhana di tengah kota yang terlalu modern untuk berdoa. Di luar, salju turun. Di dalam, ayat-ayat Al-Qur’an menghangatkan dada.
“Kebebasan di Eropa itu sunyi,” kata Ayesha pelan.
“Orang boleh memilih segalanya, tapi lupa memilih makna.”
Kalimat itu nempel di kepala Sandi seperti lagu sedih yang diputar ulang.
Swiss memang indah. Tapi keindahannya seperti mimpi yang terlalu sempurna dan justru terasa absurd.
Manusia di sini rapi. Hidup terjadwal. Tapi banyak yang patah diam-diam.
Sandi melihat teman-temannya tersenyum di siang hari, lalu minum obat penenang di malam hari. Ia melihat pasangan berganti seperti musim. Bebas, tapi rapuh.
“Wanita Barat itu baik,” pikirnya.
“Tapi aku dibesarkan oleh nilai yang tidak tumbuh di tanah ini.”
Masalahnya:
nilai itu jauh.
dan waktu tidak menunggu.
Suatu hari, Sandi naik kereta ke Interlaken. Pegunungan mengapit rel seperti dinding takdir. Salju turun perlahan. Sunyi. Indah. Menekan.
Di kereta, seorang perempuan tua duduk di sampingnya.
“Dari mana?”
“Indonesia.”
“Oh…” Ia tersenyum. “Anakku dulu juga belajar di luar negeri. Hebat. Tapi lupa pulang. Sampai akhirnya pulang… dalam peti.”
Kalimat itu menghantam.
Bukan keras. Tapi tepat.
Malam itu, di penginapan kayu kecil, Sandi duduk sendirian. Api perapian berderak. Alpen terlihat seperti bayangan raksasa di luar jendela.
Ia menulis.
Bukan ke ibu.
Bukan ke salah satu perempuan itu.
Ia menulis ke dirinya sendiri.
Tentang mimpi yang ternyata kosong.
Tentang hidup mapan yang terasa sepi.
Tentang cinta yang bukan soal siapa, tapi di mana ia bisa bertumbuh.
Ia jujur.
Kepada Adeline:
“Kamu mengajarkanku menikmati hidup. Tapi aku lahir dari keluarga yang memaknai hidup.”
Kepada Rania:
“Kamu seperti rumah. Tapi aku tidak ingin kamu menungguku yang belum selesai.”
Kepada Ayesha:
“Kamu membuatku ingin bertanggung jawab, bukan sekadar bahagia.”
Ayesha hanya berkata satu kalimat:
“Pulanglah. Jawabanmu tidak tinggal di negeri yang terlalu dingin.”
Sandi pulang ke Indonesia.
Bukan sebagai orang gagal.
Tapi sebagai orang yang selesai mencari ke luar.
Dan di bandara, alur hidupnya berbelok dengan sunyi.
Bukan Adeline.
Bukan Rania.
Bukan Ayesha.
Yang menunggunya adalah sahabat lamanya di SMA dan relawan pendidikan di desa. Pria sederhana. Tidak glamor. Tidak spektakuler. Tapi matanya tenang. Akarnya kuat. Ya, Si Aris sobat curhatnya itu yang akan membantunya membangun desanya.
"Padahal Rania atau Ayesha sudah cocok tuh! Gak kau bawa juga bantu kita bangun sekolah?" Aris menggoda Sandi.
"Tahun depan mungkin aku nikahnya dengan keduanya, hehehe" Sandi berkelakar.
Sandi lalu sadar: yang ia kejar di Swiss adalah mimpi orang lain, yang ia butuhkan adalah hidup yang masuk akal bagi jiwanya sendiri.
Di bawah Alpen, Sandi belajar satu hal yang pahit tapi jujur:
Swiss memang indah.
Tapi rumah adalah tempat di mana mimpi tidak perlu terlihat keren untuk terasa benar.
Dan mimpi paling absurd bukanlah hidup di negeri orang,
melainkan memajukan kampung halaman dan negerinya tempat ia berasal.
---