Kota Tua Jakarta selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan Arga pada hal-hal yang seharusnya sudah ia lupakan. Bangunan kolonial yang catnya mengelupas, jendela-jendela tinggi dengan daun pintu berat berengsel besi tua, dan aroma kopi pahit dari kafe-kafe kecil yang sengaja dibiarkan terasa vintage—semuanya seperti bersekongkol memanggil kembali masa lalu.
Arga duduk di bangku kayu panjang di depan Museum Fatahillah, mengenakan kemeja linen warna krem dan celana hitam sederhana. Gayanya khas cowok Jakarta Selatan: bersih, rapi, tidak berisik. Jam tangannya berdetak pelan, seperti sengaja memperlambat waktu. Di tangannya ada secangkir kopi susu gula aren, minuman yang dulu selalu ia pesan setiap kali datang ke sini—karena dia menyukainya.
“Tempat ini tuh vibes-nya beda ya, Gar,” kata suara itu dulu, sambil tersenyum kecil.
Namanya Nara Ayuningtyas.
Arga masih ingat jelas bagaimana pertama kali mereka ke Kota Tua. Bukan kencan yang direncanakan matang, hanya spontan di hari Sabtu sore. Nara mengenakan dress putih sederhana, rambutnya diikat rendah, wajahnya bersih tanpa banyak riasan. Mereka berjalan beriringan, kadang saling bertukar cerita, kadang hanya diam menikmati suara sepeda ontel yang lewat dan tawa turis yang berfoto.
Waktu itu Arga belum jatuh cinta. Ia tumbuh ke arah itu—perlahan, tanpa sadar.
Nara suka cara Arga mendengarkan. Bukan sekadar menunggu giliran bicara, tapi benar-benar hadir. Arga mengingat detail-detail kecil: Nara tidak suka kopi terlalu manis, takut naik wahana tinggi, dan selalu terdiam setiap melihat bangunan tua, seolah sedang berbincang dengan masa lalu.
Pendekatan mereka tidak meledak-ledak. Tidak ada drama. Tidak ada tarik-ulur. Arga selalu ada: menjemput tepat waktu, mengingatkan makan, mengantar pulang, membalas chat dengan sabar meski dibalas lama. Cowok baik—begitu kata semua orang.
Termasuk Nara.
Malam itu, di salah satu kafe kecil dekat Kali Besar, Arga akhirnya memberanikan diri. Lampu temaram memantul di permukaan air, musik jazz pelan mengalun, dan hujan baru saja reda.
“Aku suka sama kamu, Nar,” ucap Arga, suaranya tenang tapi jantungnya tidak.
Nara terdiam lama. Terlalu lama.
“Aku tahu,” jawabnya akhirnya. “Kamu baik banget, Gar. Terlalu baik.”
Kalimat itu jatuh seperti hujan yang salah musim.
“Aku nggak siap sama cowok sebaik kamu,” lanjut Nara, matanya menunduk. “Aku butuh yang… lebih menantang. Kamu terlalu aman.”
Arga tersenyum waktu itu. Senyum orang dewasa yang pura-pura paham, padahal baru saja patah tanpa suara.
Sejak malam itu, Kota Tua berubah fungsi. Dari tempat tumbuhnya rasa, menjadi gudang kenangan. Arga tetap datang sesekali—sendiri—seolah ingin membuktikan bahwa ia baik-baik saja. Padahal tidak.
Beberapa bulan kemudian, Arga tahu Nara jadian dengan cowok bernama Raka Pradipta. Tipikal bad boy: motor gede, tato tipis di lengan, story Instagram penuh rokok dan tawa keras. Semua yang bukan Arga.
Tiga tahun berlalu.
Arga berubah, tapi tidak menjadi pahit. Ia tetap baik—bukan karena ingin dipilih, tapi karena itu caranya hidup. Kariernya naik pelan tapi pasti. Hidupnya rapi. Lukanya? Ia simpan dengan dewasa.
Sampai suatu sore, di Kota Tua yang sama, Arga melihat seorang perempuan berdiri terpaku di depan Museum Bank Indonesia. Tubuhnya lebih kurus. Senyumnya hilang. Matanya menyimpan sesuatu yang tidak ada tiga tahun lalu.
Itu Nara.
Dan di balik lengan panjang bajunya, ada bekas lebam yang tak sepenuhnya tersembunyi.
---
Arga hampir tidak mengenali Nara kalau saja ingatannya tentang sorot mata itu tidak begitu kuat. Mata yang dulu penuh rasa ingin tahu, kini seperti jendela rumah tua yang lama ditinggalkan—retak, tapi masih berdiri.
“Nara Ayuningtyas?” sapa Arga, ragu.
Perempuan itu menoleh. Butuh dua detik sebelum ekspresinya berubah. Kaget. Canggung. Lalu senyum kecil yang dipaksakan.
“Arga…” suaranya lebih pelan dari yang ia ingat. “Kamu… masih ke sini?”
Arga mengangguk. “Kadang. Tempat ini susah dilupain.”
Kalimat itu terdengar biasa, tapi mereka sama-sama tahu artinya lebih dari sekadar bangunan dan jalanan batu. Mereka berdiri berhadapan, terpisah jarak satu meter dan tiga tahun kehidupan yang berbeda.
Nara memeluk tasnya erat-erat. Arga memperhatikan detail yang tak ingin ia lihat: kulit pucat, lingkar hitam di bawah mata, dan cara Nara sedikit meringis saat menggerakkan bahu kanannya.
“Kamu… menikah, kan?” tanya Arga akhirnya.
Nara mengangguk. “Setahun lalu.”
“Bahagia?”
Pertanyaan itu melayang lama di udara, lalu jatuh tanpa jawaban. Nara hanya tersenyum—senyum yang tidak sampai ke mata.
Mereka duduk di bangku yang sama seperti dulu. Kota Tua tetap romantis, tapi kini seperti pasangan tua yang tahu bahwa cinta tidak selalu berakhir bahagia. Angin sore berembus, membawa suara musik jalanan dan klakson jauh di luar kawasan wisata.
“Aku sering mikir,” kata Nara tiba-tiba, “kenapa dulu aku nolak kamu.”
Arga menoleh, tapi tidak langsung menjawab.
“Karena aku terlalu baik?” tanyanya pelan, tanpa nada menyindir.
Nara tertawa kecil. Getar. “Iya. Dan ternyata… aku salah.”
Kata-kata itu seperti membuka pintu yang selama ini terkunci rapat. Nara bercerita dengan potongan-potongan kalimat, seolah takut ceritanya terlalu berat untuk diucapkan utuh.
Tentang Raka yang awalnya penuh perhatian, posesif tapi terasa manis. Tentang cinta yang cepat, pernikahan yang dipercepat, dan perubahan yang datang tanpa aba-aba. Nada suara yang meninggi. Kata-kata yang melukai. Lalu dorongan kecil yang pertama—yang dimaafkan karena “dia lagi capek”.
“Sekarang?” tanya Arga, suaranya tetap tenang meski dadanya sesak.
Nara menarik napas. “Sekarang aku belajar nutupin lebam pakai lengan panjang.”
Arga mengepalkan tangannya. Ia ingin marah, ingin bertanya kenapa, ingin menyalahkan dunia—tapi yang ia lakukan hanya satu: mendengarkan. Seperti dulu.
“Kamu bisa pergi, Nar,” katanya akhirnya. “Kamu nggak sendirian.”
Nara menggeleng cepat. “Kamu nggak ngerti, Gar. Dia bilang aku nggak bakal bisa hidup tanpa dia. Katanya aku lemah.”
Arga menatap lurus ke depan. “Orang yang bikin kamu percaya itu… bukan orang yang kuat.”
Mata Nara berkaca-kaca.
“Aku menyesal,” bisiknya. “Aku nyakitin kamu dulu.”
Arga tersenyum tipis. “Kamu nggak nyakitin aku. Kamu cuma milih pelajaran yang paling keras.”
Sore itu berakhir tanpa pelukan. Tanpa janji. Mereka berpisah di ujung jalan batu, seperti dua orang dewasa yang paham bahwa tidak semua pertemuan ulang berarti kembali.
Malamnya, Arga pulang ke apartemennya di bilangan Senopati. Ia duduk lama di balkon, memandangi lampu kota. Ada perasaan aneh di dadanya—bukan cinta yang bangkit, bukan juga dendam. Lebih seperti kelegaan.
Untuk pertama kalinya, Arga sadar:
ditolak karena “terlalu baik” mungkin bukan kutukan.
Mungkin itu penyelamatan.
---
Beberapa minggu setelah pertemuan itu, Arga tidak kembali ke Kota Tua. Bukan karena ia takut bertemu Nara lagi, tapi karena ia tahu—beberapa tempat harus diberi jarak agar kenangan tidak tumbuh liar.
Namun Nara justru muncul di hidupnya dengan cara yang tidak ia duga.
Sebuah pesan masuk, pukul 02.13 dini hari.
Nara: Gar… maaf ganggu. Aku nggak tahu harus ke siapa.
Arga membaca pesan itu lama. Ia tahu jam segitu jarang membawa kabar baik.
Arga: Kamu di mana?
Jawabannya datang cepat, seolah Nara memang menunggu.
Nara: Stasiun Jakarta Kota.
Malam itu, Arga mengemudi tanpa banyak berpikir. Jalanan lengang, lampu-lampu kota seperti garis-garis panjang yang berlari mundur. Di kepalanya hanya satu hal: jangan terlambat.
Nara duduk di bangku stasiun, tas kecil di pangkuannya. Wajahnya pucat. Bibirnya pecah sedikit. Tidak ada Raka.
“Kali ini lebih parah?” tanya Arga, tidak perlu detail.
Nara mengangguk.
“Aku pergi,” katanya. “Aku benar-benar pergi.”
Arga tidak mengucapkan akhirnya. Ia tahu kalimat itu tidak membantu siapa pun. Ia hanya membuka pintu mobil, menyodorkan jaket, dan berkata, “Kamu aman sekarang.”
Hari-hari setelahnya berjalan pelan dan rapuh. Arga membantu Nara mengurus laporan, menemani ke konselor, mencarikan tempat tinggal sementara. Tidak ada sentuhan yang berlebihan, tidak ada janji yang ambigu. Arga tetap menjadi dirinya: hadir tanpa menuntut.
Tapi justru di situlah Nara semakin hancur.
“Kamu tahu apa yang paling nyakitin?” kata Nara suatu sore, duduk di lantai apartemen Arga, menatap hujan dari balik kaca. “Aku ninggalin kamu dulu karena kamu terlalu baik. Dan sekarang… kebaikan itu yang nyelametin aku.”
Arga tidak menjawab. Ada luka lama yang bergetar, tapi ia tidak ingin memeliharanya.
“Aku berharap bisa muter waktu,” lanjut Nara. “Aku salah pilih orang. Salah nilai cinta.”
Arga menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kadang bukan salah pilih. Kadang kita memang harus jatuh ke orang yang salah… supaya tahu mana yang benar.”
Nara menangis malam itu. Tangis yang tidak dramatis, hanya suara napas patah dan bahu yang bergetar. Arga duduk di sisi lain ruangan, memberi ruang, memberi aman.
Beberapa bulan berlalu. Proses hukum berjalan. Raka menjauh, tapi bayangnya masih menghantui. Nara perlahan membaik, tapi tidak pernah sepenuhnya pulih. Ada bagian dari dirinya yang tertinggal di pernikahan itu.
Suatu hari, Nara berkata, “Aku jatuh cinta lagi sama kamu, Gar.”
Kalimat itu sederhana. Terlambat. Dan berat.
Arga menghela napas panjang. “Aku tahu.”
“Kamu masih mau?” tanya Nara, hampir berbisik. “Aku sekarang rusak. Aku penuh takut.”
Arga tersenyum—senyum yang tidak pahit, tapi juga tidak berharap.
“Aku nggak mau jadi pelarian dari luka kamu.”
Nara menunduk. “Jadi… aku tetap kehilangan kamu?”
Arga menggeleng. “Nggak. Kamu kehilangan versi aku yang dulu. Yang menunggu dipilih.”
Hening jatuh di antara mereka. Tidak ada yang salah, tapi tidak ada yang bisa dipaksa.
Beberapa hari kemudian, Nara pindah kota untuk memulai hidup baru. Mereka berpisah baik-baik. Tanpa janji bertemu lagi. Tanpa drama.
Dan Arga kembali ke Kota Tua—sendiri.
Ia duduk di bangku kayu yang sama, memandang langit senja. Tidak ada lagi rasa ingin memiliki. Tidak ada dendam. Hanya satu kesadaran yang akhirnya utuh:
ditolak bukan berarti kalah.
Kadang itu satu-satunya cara hidup menyelamatkan kita diam-diam.
Arga berdiri, bersiap pulang, merasa cerita itu telah selesai.
Ia tidak tahu…
bahwa cerita ini
belum benar-benar dimulai.
---
TAMAT