Hampir satu tahun perjalanan rumah tangga Hana dengan sang suaminya Brian.
Tak ada yang berubah semuanya masih sama seperti diawal pernikahan.
Perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Brian membuat ia membenci semuanya termasuk Hana.
Pagi hari
"Kak, kakak mau sarapan udah Hana siapin" ucap Hana lembut.
Brian hanya diam tak menanggapi dan berlalu pergi.
'Huuhhhh aku ngerasa ga sanggup lagi buat terusin rumah tangga ini' lirih Hana menatap kepergian Brian.
Kantor
"Haii sayang" Vania sekertaris sekaligus kekasih Brian.
Brian masih merasa kesal dan marah pada kehidupannya saat ini.
"Pasti gara-gara istri kamukan."
"Aku mau pisah sama dia, tapi gimana caranya mama pasti ga akan setuju."
"Aku punya caranya" Vania tersenyum pada Brian.
"Gimana?."
"Kamu harus jujur ke dia kalo kamu itu selingkuh sama aku, dan kita udah berhubungan jauh aku yakin dia bakalan minta pisah" jelas Vania.
"Kamu yakin ini berhasil."
"Yakin sayang, mana ada perempuan yang rela diselingkuhin aku aja tu yang mau sabar" Vania memasang wajah cemberutnya.
"Maaf sayang, aku ga bisa nolak perkataan mama aku juga ga mau kehilangan semuanya cuma gara perempuan rendahan kayak dia."
Hana adalah seorang guru disalah satu sekolah dasar, ia juga menjadi guru favorit anak-anak didiknya.
Jam makan siang
Ruang guru
"Han, kamu kenapa?" Farah menepuk pelan bahu Hana.
Hana hanya terdiam dan tersenyum pada Farah.
"Soal suami kamu lagi."
Hana membalas dengan anggukan.
"Han, aku juga ga tau kasih solusi apa karena semuanya ada ditangan kamu."
"Tapi kalo aku jadi kamu, aku bakalan milih nyerah Han bahkan ini hampir satu tahun dia bersikap acuh ke kamu walaupun karena perjodohan kalo sama-sama mau terima dan buka hati pasti bisa membangun rumah tangga ya harmonis Han."
"Aku juga bingung Far, aku bakalan coba bertahan dimana sampai aku nyerah sama rumah tangga ini satu tahun bukan waktu yang sebentar."
14:00 WIB
Setelah pulang mengajar Hana akan pergi ke toko kuenya, hanya sebuah toko kue kecil dengan 2 orang karyawan.
'Berarti malam tadi dia udah denger dan liat gue sama Vania bagus deh.'
Hari ini Hana izin tidak masuk sekolah karena kepalanya pusing dan matanya juga bengkak karena menangis.
Brian tak tau jika Hana pulang ke rumah sederhananya, Brian hanya tau Hana pergi mengajar.
Kantor
"Aku yakin kali ini pasti berhasil sayang" ucap Vania percaya diri.
"Tapi aku harus tetap ancam dia supaya posisi aku aman sama mama."
"Aku yakin semuanya akan berjalan lancar, bukankah dia perempuan yang baik" Vania tersenyum meremehkan.
21:10 WIB
'Kurang ajar tu anak kabur kemana dia juga ga kasih tau gue' kesal Brian.
Esok harinya
22:00 WIB
Brian membanting pintu utama rumah. Suasana gelap gulita menyambutnya. Biasanya, sesore apa pun ia pulang, lampu teras dan ruang tamu selalu menyala. Aroma masakan Hana yang lembut biasanya tercium hingga ke pintu depan. Tapi malam ini, rumah itu terasa seperti bangunan tak berpenghuni. Dingin dan hampa.
"Hana!" panggil Brian dengan nada tinggi.
Tak ada jawaban. Brian melangkah ke dapur, berharap menemukan Hana sedang mencuci piring atau menyiapkan air minum untuknya. Meja makan bersih, hanya ada tudung saji yang menutupi piring kosong. Hana tidak memasak.
Brian bergegas menuju kamar. Ia mendapati tempat tidur tertata rapi, sangat rapi seolah tidak ada yang menyentuhnya seharian. Ia membuka lemari, pakaian Hana masih ada, tapi tas kerja dan beberapa buku pegangan gurunya tidak terlihat.
"Ke mana dia? Berani-beraninya keluar malam-malam tanpa izin," gumam Brian. Ada rasa jengkel yang aneh di dadanya. Bukan karena ia khawatir, tapi karena rutinitasnya terganggu. Tidak ada yang menyiapkan baju ganti, tidak ada yang menata kopi. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam setahun, Brian harus mengurus dirinya sendiri, dan itu membuatnya sangat kesal.
Esok Harinya: Konfrontasi Dingin
Pagi harinya, Brian menunggu di meja makan dengan wajah ditekuk. Hana muncul dari pintu belakang, wajahnya pucat, matanya masih bengkak namun tatapannya jauh lebih datar dari biasanya. Ia baru saja kembali dari rumah lamanya untuk mengambil sisa keberanian.
"Dari mana kamu?" tanya Brian ketus tanpa menoleh.
Hana tidak menjawab. Ia justru meletakkan sebuah map cokelat di atas meja, tepat di samping tangan Brian.
Brian mengerutkan kening. "Apa ini?"
"Surat permohonan cerai," jawab Hana tenang. Suaranya tidak bergetar lagi. "Bukannya ini yang Kakak dan selingkuhan Kakak inginkan? Kakak sengaja membiarkan aku melihat kalian malam itu agar aku menyerah, kan?"
Brian tertegun. Ia tidak menyangka Hana akan bergerak secepat ini. Padahal semalam ia sudah menyusun kalimat ancaman agar posisi hartanya aman, tapi Hana justru mendahuluinya.
"Kamu sadar apa yang kamu lakukan?" Brian mencoba menutupi kegugupannya dengan suara keras. "Kalau Mama tahu kamu yang minta cerai, jangan harap kamu bisa hidup tenang. Kamu harus bilang ke Mama kalau ini kesalahan kamu!"
Hana menatap Brian dalam-dalam, tatapan yang membuat Brian merasa sangat kecil.
"Aku tidak akan memfitnah diriku sendiri, Kak. Di depan Mama, aku akan bicara jujur. Tentang Kakak, tentang Vania, dan tentang satu tahun yang seperti neraka ini," ucap Hana. "Ternyata benar kata Farah, bertahan dengan orang yang tidak punya hati hanya akan membunuhku perlahan. Aku menyerah."
"Hana! Jangan sok suci!" Brian berdiri, menggebrak meja.
"Silakan urus surat itu. Aku sudah menandatanganinya," potong Hana. Ia berbalik, melangkah menuju pintu. "Terima kasih sudah mengajariku bahwa pernikahan bukan sekadar status, tapi tentang menghargai manusia. Dan Kakak... tidak pernah melakukan itu padaku."
Hana pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan Brian yang berdiri mematung memegang map cokelat tersebut. Rencana yang ia susun bersama Vania berhasil, tapi kenapa hatinya justru terasa diremas oleh rasa bersalah yang tak ia mengerti?
Hana melangkah perlahan menuju kediaman megah milik mertuanya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena ia tahu kata-katanya hari ini akan mengubah segalanya. Di ruang tamu yang elegan, Mama Brian sudah menunggunya dengan senyum lebar, tanpa tahu badai apa yang dibawa menantunya.
"Hana? Tumben sekali ke sini pagi-pagi, Sayang. Brian mana?" tanya Mama Brian hangat sembari mencoba memeluk Hana.
Hana membalas pelukan itu dengan lembut untuk terakhir kalinya, lalu ia mengeluarkan map cokelat yang sama. Ia meletakkannya di atas meja marmer.
"Ma... Hana ke sini untuk berpamitan. Hana sudah menyerah. Hana ingin bercerai dari Kak Brian."
Seketika, raut wajah Mama Brian berubah pucat. "Apa maksud kamu? Brian berbuat ulah lagi? Katakan pada Mama, biar Mama cabut semua fasilitasnya! Dia tidak tahu diri kalau sampai menyakiti istri sebaik kamu!"
Hana menggeleng pelan, ia meraih tangan mertuanya, menatapnya dengan mata yang teduh namun penuh ketegasan.
"Jangan, Ma. Jangan ambil apa pun dari Kak Brian. Hana ke sini bukan untuk mengadu agar Kak Brian dihukum, tapi untuk meluruskan semuanya," ucap Hana tenang. "Selama setahun ini, Kak Brian tidak pernah bahagia. Ada wanita lain yang ia cintai, dan Hana tidak bisa terus-menerus menjadi tembok di antara mereka."
"Wanita lain? Kurang ajar anak itu! Mama akan buat dia miskin seketika jika dia berani selingkuh—"
"Ma, dengarkan Hana," potong Hana lembut. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan keikhlasan.
“Cinta tidak bisa dipaksakan, Ma. Ia hanya akan menjadi luka dalam hidup. Ancaman juga tidak diperlukan, cukup jalani hidup dengan semestinya.”
Hana menarik napas dalam, mencoba meredakan sesak di dadanya.
"Memaksa Kak Brian bersamaku dengan ancaman harta hanya akan membuat dia semakin membenciku, dan membuat Hana semakin merasa bersalah karena menghalangi kebahagiaannya. Biarkan dia pergi, Ma. Biarkan dia memilih jalannya sendiri."
Mama Brian tertegun. Matanya berkaca-kaca menatap menantu yang selama ini ia banggakan. Keikhlasan Hana justru membuatnya merasa sangat berdosa karena telah menjodohkan mereka.
"Hana... kamu terlalu baik untuk dia," bisik mertuanya dengan suara bergetar.
"Hana hanya ingin tenang, Ma. Memiliki raga tanpa jiwa itu sangat melelahkan. Hana ingin Kak Brian bahagia, walau bahagianya bukan bersama Hana. Tolong, jangan benci Kak Brian. Dia hanya seorang pria yang ingin jujur pada perasaannya, meski caranya salah."
Hana berdiri, ia mencium tangan mertuanya dengan takzim. Ia meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi. Tidak ada amarah di wajahnya, hanya ada sinar lega. Ia telah memerdekakan Brian, dan yang terpenting, ia telah memerdekakan dirinya sendiri dari harapan yang sia-sia.
Beberapa jam setelah Hana meninggalkan kediaman mamanya, Brian datang dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tegang, ia sudah menyiapkan mental untuk dimarahi, diteriaki, atau bahkan diusir dari silsilah keluarga karena surat cerai itu.
Namun, saat ia masuk ke ruang keluarga, ia justru mendapati mamanya sedang duduk terdiam menatap foto pernikahan Brian dan Hana dengan mata sembab.
"Ma..." panggil Brian ragu. "Hana sudah ke sini?"
Mama Brian mendongak. Tidak ada amarah meledak seperti yang Brian bayangkan. Yang ada hanya tatapan kecewa yang sangat dalam.
"Hana sudah menceritakan semuanya, Brian. Semuanya. Tentang selingkuhanmu, tentang caramu memperlakukannya, dan tentang betapa menderitanya dia setahun ini," ucap Mama pelan.
Brian menunduk, ia sudah bersiap untuk ancaman penarikan aset. "Ma, Brian minta maaf. Brian memang mau cerai, Brian nggak bisa maksa perasaan Brian. Silakan kalau Mama mau ambil mobil, kartu kredit, atau jabatan Brian di kantor. Brian terima."
Mama Brian tertawa getir, tawanya terdengar menyakitkan. "Kamu pikir Mama akan melakukan itu? Kamu tahu apa yang istrimu katakan tadi?"
Mama Brian bangkit dan berjalan mendekati putranya.
"Dia memohon pada Mama untuk tidak mengambil apa pun darimu. Dia bilang, 'Cinta tidak bisa dipaksakan, Ma. Ancaman tidak diperlukan.' Dia membela kamu, Brian! Dia memastikan kamu tetap punya segalanya setelah kamu menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang istri!"
Brian mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Dia... membela Brian?"
"Dia pergi tanpa membawa satu sen pun dari rumah ini. Dia hanya membawa luka yang kamu buat," lanjut Mama dengan suara bergetar. "Selama ini Mama pikir kamu pria hebat, tapi ternyata kamu bahkan tidak lebih besar dari bayangan kebaikan hati istrimu sendiri. Kamu mendapatkan kebebasanmu, Brian. Tapi ingat ini... kamu baru saja kehilangan satu-satunya orang yang akan tetap membelamu bahkan saat kamu mengkhianatinya."
Brian terdiam di tengah ruangan yang luas itu. Kebebasan yang selama ini ia impikan bersama Vania kini terasa begitu hambar. Rasa menang yang ia bayangkan justru berubah menjadi rasa malu yang membakar dada.
Ia melihat ke arah meja, di sana ada sebuah bungkusan kecil berisi bekal sarapan yang sempat Hana siapkan tadi pagi sebelum ia pergi—sarapan yang tidak sempat Brian sentuh.
Untuk pertama kalinya, Brian merasakan sesak yang luar biasa. Ia mendapatkan hartanya, ia mendapatkan kekasihnya, tapi entah kenapa, ia merasa seperti orang paling miskin di dunia karena telah membuang permata demi sebuah kerikil.
Pertemuan itu terjadi di sebuah kafe netral, seminggu sebelum sidang perdana perceraian mereka digelar. Hana datang lebih awal, duduk dengan tenang sambil menatap sebuah kotak kayu berukuran sedang di atas meja.
Saat Brian datang, langkahnya tidak lagi seringan biasanya. Ada beban yang tampak jelas di pundaknya. Ia duduk di hadapan Hana, menatap wajah istrinya—yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya—yang tampak jauh lebih bersinar dan damai.
Hana menggeser kotak kayu itu ke hadapan Brian.
"Terima kasih sudah datang, Kak. Aku ingin mengembalikan semua ini," ucap Hana lembut.
Brian membuka kotak itu. Di dalamnya ada cincin pernikahan mereka yang berkilau dingin, serta beberapa potong pakaian bermerek dan perhiasan yang dulu Brian belikan dengan wajah terpaksa karena paksaan Mamanya.
"Kenapa dikembalikan, Han? Ini milikmu. Simpan saja," suara Brian terdengar parau.
Hana tersenyum tipis, menggeleng perlahan. "Aku kembalikan semua yang aku punya, yang dibeli dengan uang Kak Brian. Sekarang kita sudah bebas dan lega, tanpa ada yang tersakiti dan tanpa ada yang terpaksa menjalani."
Brian menatap cincin itu, lalu menatap Hana dengan tatapan penuh sesak. "Hana... Mama bilang kamu membelaku di depannya. Kamu melarang Mama mencabut fasilitas dariku. Kenapa? Padahal aku sudah membuangmu demi Vania. Aku sudah memperlakukanmu seperti sampah, sedangkan kamu menganggapku permata?"
Hana terdiam sejenak, menatap ke arah jendela.
"Jika aku permata dan kekasihmu kerikil itu salah, dan aku pun tak tahu mana yang benar," ucap Hana pelan, suaranya mengalun seperti melodi yang menyedihkan namun indah. "Tapi kekasihmu adalah orang yang kamu sayangi dan cintai, dan aku sudah menjalani takdirku dengan baik."
Hana kembali menatap Brian, kali ini dengan tatapan yang benar-benar melepaskan.
"Jangan merasa berhutang budi padaku. Aku melakukan itu agar aku bisa pergi dengan tenang. Aku tidak mau membawa benci, Kak. Karena benci hanya akan membuatku tetap terikat denganmu."
Hana berdiri, merapikan tasnya. "Semuanya sudah selesai. Bahagialah, dan aku juga akan bahagia."
Hana melangkah pergi tanpa menunggu balasan dari Brian. Brian ingin memanggilnya, ingin menahannya, tapi lidahnya terasa kelu. Ia melihat kotak berisi barang-barang mahal itu—barang yang dulu ia beli dengan gerutu dan amarah.
Kini, barang-barang itu terasa sangat berat. Brian menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang membelikan barang untuk Hana, tapi sedang menyia-nyiakan satu-satunya hati yang tulus mencintainya tanpa syarat.
Di tengah keramaian kafe itu, Brian merasa sangat sepi, menyadari bahwa kebebasan yang ia dapatkan adalah awal dari penyesalan panjang yang tak akan pernah lunas.
Setahun telah berlalu sejak ketukan palu hakim mengakhiri ikatan yang pernah menyiksa itu. Langit sore tampak cerah, seolah ikut merayakan kedamaian yang akhirnya menyelimuti hati masing-masing jiwa yang pernah terluka.
Di sebuah perumahan elite, Brian Allaric Ganetrra berdiri di balkon rumahnya, menatap matahari yang mulai tenggelam. Di dalam, ia bisa mendengar suara Vania, wanita yang kini resmi menjadi istrinya, sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Brian mendapatkan apa yang ia inginkan—pernikahan atas dasar cinta, tanpa paksaan, tanpa bayang-bayang Mama.
Namun, di setiap sudut rumah itu, Brian sering kali merasa asing. Ada bagian di ruang hatinya yang tetap kosong, sebuah lubang yang perih dan berdenyut setiap kali ia melihat sudut meja makan atau mencium aroma kopi di pagi hari. Vania mencintainya, tapi ia tidak seperti Hana yang mampu meredam badai tanpa kata. Brian menyadari satu hal yang menyakitkan: ia memang mendapatkan kebebasan, tapi ia kehilangan ketenangan.
Sementara itu, di sebuah toko kue kecil yang dicat dengan warna-warna pastel yang ceria, tawa renyah terdengar. Hana Pricisya Wardah tampak sibuk menata cupcake di etalase. Kehidupannya sebagai guru SD dan pemilik toko kue berjalan dengan sangat manis.
Hana belum ingin mencari pengganti Brian. Bohong jika ia berkata tidak ada rasa takut di hatinya untuk kembali membuka pintu pada pria lain. Luka setahun itu masih meninggalkan bekas, namun Hana tidak membiarkannya membusuk. Ia memilih untuk mencintai dirinya sendiri dulu, menikmati setiap detik kebebasan yang ia perjuangkan dengan air mata.
Di salah satu kursi toko, duduk Mama Brian. Mantan mertuanya itu kini menjadi pelanggan setia sekaligus sahabat terdekat Hana. Meskipun Mama Brian berusaha menerima Vania dengan baik demi putranya, di dalam hatinya, Hana adalah pemenangnya—menantu yang tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun.
"Hana, kue jahenya jangan lupa buat Mama bawa pulang ya," ucap Mama Brian sambil tersenyum tulus.
Hana membalas dengan senyum paling cerah yang pernah ia miliki. "Siap, Ma. Sudah Hana siapkan."
Ending Penutup
Brian menunduk, menatap cincin di jarinya yang tak lagi sama. Ia memiliki segalanya, namun jiwanya tetap merasa hampa.
Brian sering kali memarkir mobilnya di seberang jalan, agak jauh dari toko kue milik Hana. Di balik kaca mobil yang gelap, ia duduk diam, memandangi sosok wanita yang dulu pernah ia abaikan. Dari kejauhan, Brian menatap wajah Hana yang kini tampak begitu tenang. Tidak ada lagi gurat kesedihan atau mata sembab yang dulu selalu ia lihat di rumah mereka.
Hana sedang melayani pelanggan dengan senyuman ramah dan manis—senyum tulus yang dulu tidak pernah Brian hargai. Melihat itu, ada rasa perih yang menghujam dada Brian. Ia rindu, tapi ia sadar ia tidak punya hak lagi bahkan untuk sekadar menyapa.
Untuk menebus rasa bersalahnya, Brian diam-diam menyuruh asisten kantornya untuk membeli kue di toko Hana setiap minggu.
"Beli semua jenis yang ada, tapi jangan bilang itu dariku," perintah Brian singkat.
Tak hanya itu, Brian bahkan menyuruh beberapa orang untuk memesan kue Hana dalam jumlah banyak untuk acara-acara kantor yang sebenarnya bisa dipesan di tempat lain. Ia hanya ingin membantu ekonomi Hana, ingin melihat toko kecil itu semakin maju sebagai bentuk penebusan dosanya yang tak termaafkan.
Hingga suatu sore, asisten Brian tanpa sengaja meninggalkan slip pesanan yang mencantumkan nama perusahaan Brian di meja kasir. Hana melihatnya. Ia terdiam sejenak, namun tidak ada kemarahan di wajahnya.
Beberapa hari kemudian, saat asisten itu kembali untuk mengambil pesanan besar, Hana menitipkan sebuah kartu kecil yang terselip di antara kotak-kotak kue.
Brian membuka kartu itu di ruang kerjanya dengan tangan gemetar. Di sana tertulis tulisan tangan Hana yang rapi:
“Aku tidak lagi membutuhkan bahagia darimu, namun terima kasih sudah berbelanja di toko kueku.”
Brian menatap kalimat itu lama. Di bawah tulisan itu, Hana menggambar sebuah lengkungan senyum kecil. Hana benar-benar sudah bahagia, dan bahagianya adalah saat ia tidak lagi membutuhkan apa pun dari Brian—termasuk maafnya.
Brian menyandarkan punggungnya, memejamkan mata erat. Ia berhasil memberikan Hana materi, tapi ia sadar ia telah kehilangan tempat di hati wanita itu selamanya.
“Aku kehilangan permataku yang indah.”
—Brian Allaric Ganetrra—
Di tokonya, Hana menatap bayangannya di kaca. Ia melihat seorang wanita yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih bahagia dari sebelumnya.
“Dan aku mendapatkan pengalaman berharga untuk mempersiapkan ke hidupanku selanjutnya.”
—Hana Pricisya Wardah—