Realitas di Balik Etalase Kue
"Ran, kamu hemat-hemat ya kuliahnya. Ingat kita bukan orang kaya, harus tahu diri, sadar diri."
Bunda itu seperti kaset rusak yang terus berputar di kepala Rania. Di tengah kepungan hutang keluarga dan tuntutan orang tua, Rania hanya punya satu pelarian: menghayal. Ia membayangkan hidupnya seperti novel romance di ponselnya—bertemu CEO muda, kaya raya, yang akan melunasi semua beban hidupnya dengan sekali jentik jari.
Namun, realitas menghantamnya tepat di wajah saat ia harus menandatangani kontrak kerja tanpa gaji selama dua tahun di perusahaan Tuan Ardan.
Semuanya demi menebus hutang besar sang ayah.
"Kamu tenang saja. Jika kinerjamu bagus, saya akan berikan tanda terima kasih," ucap Tuan Ardan datar.
Rania tersenyum getir. 'Bisa gak tiba-tiba ada orang kasih uang 100 juta? Ah, menghayal terus,' batinnya sambil melangkah keluar dari ruangan CEO yang dingin itu.
Pertemuan dengan Sang Naga
Harapan Rania tentang "Anak CEO yang tampan dan baik hati" hancur saat ia bertemu Gibran Ardan. Pria itu tampan, memang, tapi mulutnya lebih tajam dari silet.
"Baru datang? Bagi gue, tepat waktu itu artinya telat," ketus Gibran pada hari pertama Rania menjadi asisten pribadinya.
Gibran memperlakukan Rania dengan kasar. Ia pernah menyuruh Rania mencari bunga langka Silver Suede Blue Rose hanya untuk dibuang ke tempat sampah di depan mata Rania. Rania menangis saat itu, bukan karena bunganya, tapi karena harga dirinya yang serasa ikut terinjak.
Namun, di balik sikap brengseknya, Gibran menyimpan luka yang sama. Suatu malam, Rania melihat Gibran dimarahi habis-habisan oleh Tuan Ardan. "Jangan jadi sampah yang cuma bisa foya-foya!" bentak sang ayah.
Saat itulah Rania sadar, mereka berdua sama-sama sedang "terpenjara". Satu terpenjara oleh kemiskinan, satunya lagi oleh ekspektasi yang menyesakkan.
Puncak Badai
Suatu malam saat mereka lembur bersama, sebuah telepon dari Bunda meruntuhkan pertahanan Rania. Toko kue keluarganya diserang penagih hutang. Tanpa pikir panjang, Gibran membawa Rania pulang dengan mobil mewahnya.
Di sana, Gibran menunjukkan taringnya sebagai seorang Ardan. Ia mengusir para penagih hutang dengan wibawanya. Namun, yang membuat hati Rania hancur bukanlah para penagih itu, melainkan sikap Bundanya yang justru sibuk memuja kekayaan Gibran saat tangan Rania sedang berdarah terkena pecahan kaca.
Gibran yang muak melihat Rania dimanfaatkan, akhirnya membawa Rania pergi ke sebuah hotel mewah agar gadis itu bisa beristirahat sejenak dari beban hidupnya.
Malam di Hotel dan Sebuah Pilihan
Di kamar hotel yang megah, Gibran memberikan sarapan mewah dan baju baru. Untuk sesaat, Rania merasa benar-benar menjadi Cinderella. Namun, saat Gibran menatapnya dengan pandangan yang mulai melunak, Rania justru menarik diri.
"Mas Gibran, terima kasih sudah jadi 'pangeran' buat semalam. Tapi aku sadar diri," ucap Rania lirih. "Mas Gibran setara dengan putri pengusaha. Sedangkan aku? Aku tetap Rania yang harus pulang beresin pecahan kaca. Hayalan itu ada batasnya, dan batasnya adalah pintu keluar hotel ini."
Mendengar itu, Gibran sadar ia tidak bisa memaksa Rania masuk ke dunianya. Maka, Gibran melakukan cara lain. Secara diam-diam, ia mendatangi keluarga Rania, melunasi sisa hutang mereka, dan mengancam kakak-kakak Rania agar mulai bekerja dan berhenti membebani adik mereka.
Garis Akhir yang Berbeda
Dua tahun berlalu. Masa kerja gratis Rania berakhir. Toko kue keluarganya kini stabil berkat kakak-kakaknya yang mulai mandiri karena takut pada ancaman Gibran.
Hari ini, kantor Ardan Group berpesta. Gibran Ardan resmi bertunangan dengan Clarissa, seorang wanita cantik yang merupakan putri rekan bisnis ayahnya. Rania berdiri di barisan staf, menyaksikan Gibran menyematkan cincin ke jari Clarissa. Ada binar cinta yang tulus di mata Gibran untuk wanita itu—binar yang menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan yang setara.
Rania merasakan perih yang halus di hatinya, namun ia tersenyum. Ia tidak berakhir di pelaminan bersama sang CEO. Ia tidak menjadi nyonya besar.
Clarissa menghampirinya, menjabat tangannya dengan hangat. "Terima kasih sudah menjaga Gibran selama ini, Rania."
Rania membungkuk hormat. "Sama-sama, Mbak. Semoga bahagia selamanya."
Malam itu, Rania berjalan kaki menuju kedai nasi goreng Pak Wandra. Ia menghirup udara malam dengan lega. Tidak ada lagi beban hutang, tidak ada lagi kejaran penagih.
Ia mengeluarkan ponselnya, menghapus aplikasi novel romance yang selama ini menjadi pelariannya. Rania sadar, kisahnya memang tidak berakhir seperti Cinderella yang mendapatkan pangeran. Namun, ia mendapatkan sesuatu yang lebih berharga: ketenangan hidup dan kemampuan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
"Pak, nasi goreng satu ya, pedas," ucap Rania pada Pak Wandra sambil tersenyum lebar.
Rania tahu, besok pagi ia akan bangun sebagai wanita biasa. Namun bagi Rania, realitas yang tenang jauh lebih indah daripada khayalan yang menyiksa.
Selesai.