Arsenia menatap cermin. Wajah itu masih sama: mata hijau zamrud, rambut pirang pucat, dan ekspresi angkuh yang membuat semua bangsawan kerajaan membencinya. Namun, ini bukan hari eksekusinya.
Ia kembali ke masa lima tahun lalu. Tepat saat ia ditunangkan dengan Putra Mahkota yang dingin, Cedric.
"Arsenia, kau melamun lagi?" suara berat itu memecah lamunan. Cedric duduk di seberang meja teh, menatapnya datar.
Di kehidupan sebelumnya, Arsenia akan membanting cangkir, berteriak bahwa ia membenci Cedric, dan memohon untuk membatalkan pertunangan demi pria lain yang akhirnya meracuninya. Arsenia menunduk, menyembunyikan senyum tipisnya. Tidak lagi.
"Tidak, Yang Mulia. Saya hanya berpikir... teh ini terasa sedikit hambar," jawab Arsenia tenang.
Cedric menaikkan alisnya, terkejut dengan nada sopan yang jarang terdengar.
"Kalau begitu, minta pelayan menggantinya," balas Cedric acuh tak acuh.
"Tidak perlu," Arsenia memajukan tubuhnya. "Saya tahu Yang Mulia membenci saya. Saya juga tidak menyukai Yang Mulia. Bagaimana jika kita buat kesepakatan? Saya akan bertingkah sebagai tunangan yang baik di depan publik, dan Yang Mulia cukup abaikan saya. Setelah dua tahun, kita batalkan pertunangan dengan alasan 'perbedaan prinsip'. Saya berjanji tidak akan menyulitkan hidup Anda."
Cedric menatap Arsenia seolah baru pertama kali melihatnya. "Apa ruse yang sedang kau mainkan, Duchess?"
"Saya hanya lelah, Yang Mulia. Hidup terlalu singkat untuk mengejar cinta yang tidak ada," ujar Arsenia, mengingat rasa sakit racun yang merenggut nyawanya.
Mata Cedric menyipit, meneliti kesungguhan di mata hijau itu. "Baik. Tapi jika kau melanggar janji, aku sendiri yang akan memastikan kau tidak bisa berbuat ulah lagi."
Arsenia tersenyum lega. "Sepakat."
Dua tahun kemudian.
Cedric menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat. Arsenia—sang Duchess yang kini disegani karena kebaikannya—tidak pernah lagi meminta bertemu. Mengapa dadanya terasa sesak saat melihat Arsenia tertawa bersama kapten pengawal kerajaan di taman?
Rencana gila itu... bekerja terlalu baik, bukan?