TEMA PERTAMA >REINKARNASI JADI MONSTER DENGAN YANG KUAT MEMAKAN YANG LEMAH.
BAB 1: TELUR DAN LUMPUR
Cahaya hijau pucat menembus cangkang tipis. Cairan lengket membungkus seluruh tubuh. Sempit. Sesak. Insting mendesak untuk bergerak.
KRAK.
Moncong kecil memecah penghalang. Udara busuk masuk ke paru-paru. Bukan oksigen bersih. Ini udara lembap penuh bau amonia dan tumbuhan busuk.
Aku merangkak keluar. Tubuhku hanya sepuluh sentimeter. Kulitku hijau kusam dengan bintik hitam. Empat kaki kecil gemetar menapak lumpur hitam yang bergetar.
Di mana aku?
Ingatan terakhir adalah lampu mobil yang menyilaukan dan suara decit ban. Sekarang aku berada di bawah akar raksasa yang melilit seperti ular mati. Daun di atas sana selebar payung.
Sesuatu bergerak di sampingku.
Tiga telur lain pecah. Saudara-saudaraku keluar. Mereka tidak berpikir. Mereka hanya lapar. Satu kadal kecil langsung menyambar serangga air yang lewat.
SRAK.
Tiba-tiba sehelai akar halus turun dari atas. Akar itu bergerak seperti tentakel. Kecepatannya luar biasa.
Akar itu melilit saudaraku yang baru saja makan. Ujung akar yang tajam menusuk punggungnya. Saudaraku menggelepar. Cairan merah bening keluar dari tubuhnya yang mungil. Dalam hitungan detik tubuh itu mengering.
Diserap habis.
Aku membeku. Jantungku berdetak kencang di dada yang tipis.
Ini bukan bumi. Ini dunia Monsteris.
BAB 2: RANTAI MAKANAN BAWAH
Aku harus bergerak. Berdiam diri di sini sama saja dengan mengantre kematian. Aku merangkak di bawah bayangan daun busuk.
Langkahku pelan. Setiap kali kakiku menyentuh tanah aku merasakan getaran.
Di depanku ada seekor semut. Tapi ini bukan semut biasa. Ukurannya hampir setengah dari tubuhku. Mandibelnya hitam berkilat dan tajam. Semut itu sedang memotong bangkai lalat yang ukurannya sebesar burung merpati.
Aku merasa lapar yang membakar. Perutku perih. Kesadaran manusiaku berteriak untuk mencari senjata tapi aku hanya punya kuku kecil yang lunak.
Aku berputar ke belakang semut itu. Aku menggunakan logika manusia. Predator tidak menyerang dari depan.
Aku melompat.
Mulutku terbuka lebar. Aku menggigit bagian leher semut yang tidak terlindungi kitin keras. Rasa pahit dan cairan kimia menyengat lidahku. Semut itu memberontak. Kakinya yang berduri mencakar kulit perutku.
Perih. Darahku menetes.
Aku tidak melepaskannya. Aku menggoncang kepala semut itu dengan seluruh tenaga kecilku.
KRETEK.
Leher semut itu patah. Tubuhnya berhenti bergerak.
Aku segera menyeret bangkai itu ke bawah celah batu sempit. Aku makan dengan rakus. Daging semut itu keras tapi penuh nutrisi. Saat aku makan aku melihat ke atas.
Seekor burung dengan empat sayap melintas rendah. Matanya banyak di sepanjang leher. Ia menyambar kadal lain yang masih tertinggal di area penetasan.
Aku selamat karena aku bergerak lebih dulu. Di Monsteris kecepatan berpikir adalah pertahanan utama.
BAB 3: JAMUR DAN BAKTERI
Hujan turun. Tapi ini bukan air murni. Airnya berwarna kekuningan dan terasa panas di kulit.
Aku berlindung di dalam lubang pohon tumbang. Di dalam sana gelap. Bau jamur menyengat.
Aku melihat spora beterbangan di udara seperti debu emas. Jangan dihirup. Instingku memperingatkan. Aku menutup lubang hidungku dengan melipat kulit tipis di sana.
Di sudut lubang ada seekor tikus berbulu duri yang tampak sekarat. Tubuhnya ditumbuhi jamur berwarna ungu. Jamur itu tumbuh dari matanya dan mulutnya. Tikus itu masih hidup tapi sarafnya sudah dikendalikan oleh jamur.
Tikus itu perlahan berjalan menuju area terbuka agar tubuhnya dimakan burung sehingga spora jamur bisa menyebar lebih luas.
Siklus yang mengerikan.
Aku keluar dari lubang itu secepat mungkin. Kulit perutku yang terluka karena semut tadi mulai terasa panas. Luka itu membiru.
Bakteri Monsteris mulai menyerang.
Aku mencari tumbuhan spesifik. Aku ingat melihat lumut merah di dekat akar tadi. Lumut itu tumbuh di area yang bersih dari jamur lain. Biasanya itu tanda zat antibiotik alami.
Aku menemukan lumut itu. Aku mengunyahnya sedikit lalu memuntahkannya ke atas lukaku. Rasanya seperti terbakar. Aku mendesis kesakitan.
Luka biru itu perlahan memudar menjadi abu-abu. Aku harus terus beradaptasi atau aku akan membusuk sebelum sempat tumbuh besar.
BAB 4: PELARIAN DARI HUTAN MATI
Tanah bergetar hebat.
Bukan gempa bumi. Sesuatu yang besar sedang lewat.
Aku memanjat batang pohon besar yang kulitnya kasar. Dari ketinggian tiga meter aku melihat pemandangan yang menghancurkan mental.
Sekelompok monster herbivora seukuran gajah lewat. Tapi mereka bukan penguasa di sini. Di belakang mereka sesuatu mengejar.
Itu adalah salah satu Prajurit dari wilayah Gubernur. Makhluk berbentuk seperti serigala tapi dengan kulit sisik besi dan enam kaki. Di punggungnya ada penunggang. Seorang manusia? Bukan. Itu adalah makhluk humanoid dengan kulit pucat dan mata tanpa pupil.
Mereka sedang melakukan pembersihan wilayah.
"Cari semua bibit yang tidak berguna" teriak penunggang itu dalam bahasa yang tidak kukenal tapi aku mengerti maksudnya melalui niat membunuhnya.
Sebuah bola api dilemparkan ke arah semak-semak. Api itu berwarna biru. Api itu melahap segalanya.
Aku harus lari. Jika aku tertangkap aku hanya akan dianggap hama.
Aku melompat dari dahan ke dahan. Tubuh 10 sentimeterku adalah keuntungan sekarang. Aku terselip di antara celah kulit pohon yang dalam.
Seorang prajurit lewat tepat di bawahku. Hawa panas dari tunggangannya membuat kulitku kering. Aku menahan napas. Benar-benar tidak bergerak.
Setelah mereka lewat hutan menjadi sunyi. Sunyi yang mematikan.
Semua predator kecil bersembunyi. Hanya aku yang berani bergerak karena aku tahu prajurit itu tidak akan kembali ke jalur yang sama.
BAB 5: PERBATASAN EKSTREM
Dua bulan berlalu.
Tubuhku sekarang mencapai 30 sentimeter. Kulitku mengeras dan berubah warna menjadi abu-abu gelap seperti batu. Ekor duniaku lebih panjang dan kuat.
Aku telah membunuh ribuan serangga dan puluhan reptil kecil lainnya. Aku belajar cara menjebak pemangsa dengan menggunakan umpan bangkai.
Aku sampai di tepi hutan. Di depanku ada padang pasir kristal yang tajam. Di kejauhan langit tampak hitam pekat dengan kilat merah yang menyambar tanpa henti.
Agrolis. Super Topan yang memisahkan benua.
Angin di sini bisa merobek kulit jika aku tidak hati-hati.
Tiba-tiba bayangan besar menutupi daratan. Aku mendongak.
Sebuah kapal logam raksasa melayang di ketinggian. Kapal itu tidak menggunakan sihir. Mesinnya mengeluarkan asap hitam dan suara mesin yang menderu.
Itu kapal dari Benua Robotex.
Lampu sorot merah dari kapal itu memindai permukaan tanah. Mereka mencari sumber energi atau mungkin spesimen hidup.
Aku masuk ke dalam pasir kristal. Menggali dengan cepat menggunakan cakar depanku yang sekarang lebih tajam.
Dingin. Pasir kristal ini menyerap panas tubuhku.
Aku melihat melalui celah pasir. Kapal itu menembakkan laser ke arah seekor monster raksasa di dekatku. Monster itu hancur berkeping-keping dalam satu serangan.
Dunia ini terlalu luas. Dan aku masih terlalu kecil.
BAB 6: WILAYAH RAJA
Aku terus bergerak ke arah selatan menghindari jalur patroli Robotex.
Tanah berubah menjadi merah darah. Pohon-pohon di sini tidak memiliki daun melainkan tentakel yang terus bergerak mencari mangsa di udara.
Aku merasa ada sesuatu yang berbeda di udara ini. Tekanan yang berat. Oksigen terasa sangat padat hingga dadaku sesak.
Aku berdiri di atas sebuah tebing kecil.
Di bawah sana terbentang lembah tulang. Jutaan kerangka makhluk raksasa menumpuk menjadi gunung. Di tengah gunung tulang itu sebuah istana yang terbuat dari daging hidup berdenyut pelan.
Ini adalah wilayah salah satu dari 10 Raja Monster.
Raja Kematian Vorgath.
Aku melihat seekor naga kecil mendarat di depan istana itu. Naga itu langsung hancur menjadi debu hanya karena mendekat.
Tiba-tiba tubuhku kaku.
Sebuah mata raksasa terbuka di dinding istana daging itu. Mata itu berputar dan berhenti tepat ke arahku.
Jarak kami bermil-mil jauhnya tapi aku merasa mata itu berada tepat di depan wajahku.
Keberadaanku disadari.
Bukan oleh monster biasa. Tapi oleh penguasa benua ini.
Di langit timur sinyal cahaya dari Benua Manusiaz mulai terlihat. Pasukan mereka mulai mendarat di pinggiran Monsteris. Perang besar antar benua akan segera pecah.
Aku hanya seekor kadal kecil di tengah kiamat.
Aku memutar tubuh. Masuk ke dalam lubang gelap di bawah tebing.
Aku harus makan lebih banyak. Aku harus tumbuh lebih cepat.
Dunia tetap berputar dengan atau tanpaku. Dan aku memilih untuk tetap hidup selama yang ku bisa.
<>
<>
<>
TEMA KEDUA >> GAK TAU LAH BACA AJA🥲
Bab 1 Debu di Atas Meja.
Panel terbuka dengan bidikan luas koridor sekolah yang sepi di pagi hari Cahaya matahari tipis masuk melalui jendela kaca yang sedikit berdebu Suara sepatu beradu dengan lantai keramik menjadi satu satunya musik latar.
Raka berjalan dengan tas tersampir di satu bahu Matanya mengantuk Dia berhenti di depan kelas 12-B Papan kelas itu sedikit miring Raka masuk dan menemukan ruangan masih kosong Kecuali satu orang.
Alya duduk di baris ketiga dari belakang Dekat jendela Rambutnya diikat kuda rendah Beberapa helai anak rambut jatuh di pipinya Dia sedang fokus membaca buku catatan dengan dahi berkerut.
Raka menarik kursi di sebelah Alya Suara gesekan kayu kursi dengan lantai membuat Alya berjengit.
"Pagi Raka".
Suara Alya pelan Hampir seperti bisikan Raka hanya bergumam sebagai jawaban Dia meletakkan kepalanya di atas meja Menghadap ke arah Alya.
Panel close up mata Raka yang setengah tertutup Dia memperhatikan jemari Alya yang membalik halaman buku Kuku Alya bersih dan pendek Alya menyadari tatapan itu Pipinya sedikit memerah tapi dia tidak menoleh.
"Ada ujian sejarah jam pertama".
kata Alya sambil merapikan letak kacamatanya.
"Kamu sudah belajar?".
Raka memejamkan mata.
"Belum Semalam aku main game sampai jam dua".
Alya menghela napas Dia menggeser buku catatannya ke tengah meja Di antara mereka berdua.
"Baca ini mumpung guru belum datang".
Raka tidak bangun Dia hanya menggeser kepalanya sedikit agar bisa melihat tulisan tangan Alya yang rapi Tulisan itu kecil kecil dengan tinta biru.
"Terima kasih Alya".
Itu awal yang biasa Tidak ada kembang api Tidak ada musik romantis Hanya aroma kertas buku dan sinar matahari pagi yang perlahan menghangatkan punggung mereka
Bab 2 Jarak Sepuluh Sentimeter.
Minggu-minggu berlalu seperti gulungan film yang diputar lambat Rutinitas menjadi jembatan yang menghubungkan mereka Raka mulai terbiasa bangun lebih awal hanya untuk memastikan dia bisa duduk di samping Alya sebelum teman-teman yang lain datang.
Di perpustakaan sekolah suasana sangat tenang Panel memperlihatkan rak rak buku tinggi yang menciptakan lorong lorong gelap Raka dan Alya duduk berhadapan di meja kayu panjang.
Alya sedang menulis esai Raka seharusnya mengerjakan matematika Tapi matanya terus melayang ke arah tangan Alya yang bergerak lincah.
Tiba-tiba tangan Raka bergerak Dia ingin mengambil penghapus yang ada di dekat siku Alya Pada saat yang sama Alya juga bergerak untuk mengambil penggaris
Ujung jari mereka bersentuhan.
Panel fokus pada titik sentuhan itu Kulit bertemu kulit Hanya satu detik Alya menarik tangannya dengan cepat seolah terkena setrum Raka mematung Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang di balik seragam putihnya.
"Maaf".
kata Raka pendek
Alya menunduk menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas.
"Tidak apa-apa".
Dia menyelipkan rambut ke belakang telinga Sebuah gerakan kecil yang membuat Raka menelan ludah Raka melihat daun telinga Alya yang merah padam Dia menyadari sesuatu yang berbahaya Dia mulai menyukai gadis ini Lebih dari sekadar teman sebangku yang meminjamkan catatan.
Raka kembali menatap bukunya tapi angka-angka di sana mendadak tidak terbaca Dia hanya bisa merasakan sisa hangat di ujung jarinya.
Bab 3 Payung Biru Tua.
Hujan turun sangat deras saat bel pulang sekolah berbunyi Langit abu-abu gelap menelan cahaya sore Siswa-siswi bergerombol di lobi sekolah menunggu jemputan atau hujan reda.
Raka berdiri di dekat tiang beton Dia membawa payung biru tua miliknya Dia melihat Alya berdiri tidak jauh darinya Gadis itu tampak cemas berkali-kali melihat jam tangan dan layar ponselnya.
"Tidak bawa payung Alya?".
Alya menoleh.
"Ketinggalan di rumah Raka Tadi pagi cuacanya cerah sekali".
Raka membuka payungnya Bunyi klik saat payung terbuka terasa nyaring di tengah suara hujan
"Ayo ke halte Aku antar".
Alya ragu-ragu tapi kemudian mengangguk Mereka berjalan berdekatan di bawah satu payung Raka memegang gagang payung dengan tangan kanan Dia sengaja memiringkan payung itu ke arah Alya Bahu kiri Raka mulai basah kuyup terkena tempias hujan tapi dia tidak peduli.
Panel memperlihatkan mereka dari belakang Dua sosok remaja berjalan pelan di tengah hujan Lebar payung itu memaksa bahu mereka sering bersentuhan.
"Bahu kamu basah Raka" bisik Alya.
"Tidak apa-apa".
"Geser sedikit payungnya".
Alya menarik lengan seragam Raka agar cowok itu lebih masuk ke tengah Raka merasakan tarikan lembut itu Dia menoleh ke samping dan mendapati wajah Alya sangat dekat Dia bisa melihat bintik-bintik kecil di hidung Alya dan tetesan air di bulu matanya.
Hening menyelimuti mereka meski suara hujan sangat bising Raka merasa dunia hanya seluas lingkaran payung ini Dia berharap jalan menuju halte menjadi lebih panjang.
Bab 4 Cemburu yang Tak Bersuara.
Hari olahraga Lapangan basket sangat ramai Suara peluit dan teriakan siswa memenuhi udara Raka duduk di pinggir lapangan meneguk air mineral Matanya mencari sosok Alya.
Dia menemukannya di bawah pohon rindang Alya sedang bicara dengan Dimas ketua OSIS Dimas tertawa sambil mengacak rambut Alya pelan Alya tersenyum lebar Sebuah senyuman yang jarang Raka lihat
Raka meremas botol plastik di tangannya sampai mengeluarkan suara berisik Ada rasa pahit yang tiba-tiba muncul di pangkal tenggorokannya Dia ingin berdiri dan menarik Alya menjauh tapi dia sadar dia tidak punya hak.
Dia bukan siapa-siapa bagi Alya
Raka memalingkan muka Dia melihat ke arah lain dengan tatapan kosong Saat Alya berjalan menghampirinya beberapa menit kemudian Raka bersikap dingin.
"Ini air untukmu Raka Tadi kamu mainnya hebat".
Alya menyodorkan botol minuman baru.
Raka tidak melihatnya Dia berdiri dan menyampirkan handuk di leher.
"Aku sudah minum Berikan saja pada Dimas".
Raka berjalan pergi meninggalkan Alya yang terpaku bingung Panel close up memperlihatkan ekspresi terluka di mata Alya Dia tidak mengerti mengapa suasana hati Raka berubah dalam sekejap
Malam itu Raka mengetik pesan di ponselnya.
Maaf tadi aku sedang lelah.
Dia menatap layar itu selama lima menit Ibu jarinya menggantung di atas tombol kirim Namun akhirnya dia menghapus semuanya Raka melempar ponselnya ke kasur Dia menutupi wajahnya dengan bantal merasa bodoh karena rasa cemburu yang kekanak-kanakan.
Bab 5 Pertengkaran di Perpustakaan.
Ketegangan itu berlanjut hingga beberapa hari Suasana di meja mereka terasa kaku Dialog yang biasanya mengalir kini terputus-putus.
"Pinjam penggaris".
kata Raka tanpa menoleh.
Alya meletakkannya di meja tanpa suara
Hingga suatu hari saat tugas kelompok matematika yang rumit membuat saraf mereka tegang Raka terus melakukan kesalahan perhitungan sementara Alya mencoba memperbaikinya dengan sabar
"Bukan begitu Raka Rumusnya salah".
"Aku tahu Alya Aku hanya belum selesai menghitung".
"Tapi kalau dari awal sudah salah hasilnya tidak akan ketemu"
Raka meletakkan pensilnya dengan kasar
"Kenapa kamu selalu merasa paling benar?".
Alya terdiam Matanya berkaca-kaca Dia menatap Raka dengan tatapan yang membuat Raka langsung menyesal.
"Aku hanya ingin membantu".
Alya merapikan bukunya dengan terburu-buru Dia berdiri dan pergi meninggalkan perpustakaan Raka ingin mengejarnya tapi kakinya terasa berat Dia hanya bisa melihat punggung Alya yang menjauh melewati rak buku.
Panel memperlihatkan Raka yang duduk sendirian di meja besar Dia melihat ke arah kursi kosong Alya Di sana
tertinggal sebuah gantungan kunci kecil berbentuk kucing milik Alya yang jatuh.
Raka mengambilnya dan menggenggamnya erat Dia benci dirinya sendiri karena telah menyakiti gadis yang paling dia pedulikan.
Bab 6 Kata yang Tak Terucap.
Esok harinya Raka menunggu Alya di depan gerbang sekolah Saat Alya muncul Raka langsung mendekat Dia mengulurkan gantungan kunci kucing itu
"Maaf Alya Aku benar-benar minta maaf kemarin".
Alya mengambil gantungan itu Dia melihat Raka lalu tersenyum tipis.
"Aku juga minta maaf Raka Aku mungkin terlalu mengatur".
Mereka berjalan masuk bersama-sama Angin pagi berembus memainkan kerah seragam mereka Ada kelegaan yang luar biasa di hati Raka Namun di saat yang sama ada beban lain yang mulai muncul
Ujian akhir semester sudah di depan mata Dan setelah itu kelulusan.
Sore itu mereka belajar di kelas yang sudah kosong Raka memperhatikan Alya yang sedang menulis daftar universitas tujuan Alya menuliskan nama universitas ternama di ibu kota yang jaraknya ratusan kilometer dari kota mereka
"Kamu mau ke sana?" tanya Raka pelan
Alya mengangguk.
"Itu impianku sejak lama Raka Aku ingin mengambil jurusan sastra di sana Kamu sendiri?".
Raka melihat catatannya sendiri Dia hanya ingin masuk universitas lokal yang dekat dengan rumah.
"Aku mungkin tetap di sini".
Hening yang panjang terjadi Jarum jam di dinding kelas terdengar sangat nyaring Mereka berdua tahu apa artinya itu Jarak bukan hanya soal kilometer tapi soal masa depan yang mulai bercabang.
Alya menoleh ke arah jendela.
"Raka kamu pernah berpikir tidak? Kalau nanti kita lulus apakah kita masih akan seperti ini?".
Raka tidak menjawab Dia melihat profil wajah Alya yang terkena cahaya senja Dia ingin bilang bahwa dia ingin terus berada di samping Alya selamanya Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya Dia takut janji akan menjadi beban bagi Alya.
"Kita akan baik-baik saja".
hanya itu yang sanggup Raka katakan Meski dia tahu itu adalah sebuah kebohongan kecil.
Bab 7 Musim Ujian dan Jarak yang Nyata.
Hari-hari ujian terasa seperti badai yang tenang Semua orang fokus pada kertas ujian masing-masing Tidak ada lagi tawa di kantin Tidak ada lagi obrolan santai di koridor.
Raka dan Alya hanya sempat bertukar pandang sebentar sebelum masuk ruang ujian Kadang mereka bertemu di lorong hanya untuk saling memberikan semangat lewat senyuman singkat.
"Semangat Alya".
"Kamu juga Raka".
Tapi di balik itu ada kesedihan yang mulai merayap Raka melihat Alya semakin sibuk dengan urusan administrasi pendaftarannya ke luar kota Alya terlihat sangat bersemangat saat membicarakan asrama dan mata kuliah yang akan diambil.
Raka merasa dirinya perlahan-lahan mulai terhapus dari gambaran masa depan Alya Dia sering mendapati dirinya menatap Alya dari kejauhan memperhatikan bagaimana Alya tertawa dengan teman-temannya Seolah-olah dia sedang merekam setiap detail wajah Alya ke dalam ingatannya sebelum semuanya hilang.
Panel memperlihatkan Raka yang sedang menyendiri di atap sekolah Dia melihat ke arah lapangan di mana para siswa merayakan berakhirnya ujian Namun Raka tidak merasa bahagia Dia merasa seolah dia sedang berdiri di tepi tebing menunggu waktu untuk jatuh
Bab 8 Pengumuman dan Perpisahan yang Sunyi.
Hari kelulusan tiba Lapangan sekolah penuh dengan siswa yang memakai toga dan atribut perayaan Suara sorak sorai dan musik memenuhi udara Bau spidol permanen dan cat semprot tercium di mana-mana.
Raka berdiri di kerumunan mencari sosok Alya Dia melihat Alya sedang dikelilingi oleh keluarganya Alya tampak cantik dengan kebaya modern dan wajah yang dirias tipis Dia terlihat sangat bahagia Sangat bersinar.
Raka mendekat saat Alya sedang sendirian sebentar.
"Selamat Alya".
Alya menoleh dan tersenyum Sebuah senyuman yang paling indah sekaligus paling menyakitkan bagi Raka.
"Selamat juga Raka Kita berhasil".
Mereka berdiri berhadapan di tengah kebisingan Banyak orang berlalu lalang di sekitar mereka tapi mereka seolah berada di dalam gelembung sunyi
"Jadi kapan kamu berangkat?" tanya Raka
"Minggu depan" jawab Alya pelan "Tiketnya sudah dibeli".
Raka mengangguk Dia mencoba menahan getaran di suaranya.
"Baguslah Itu tempat yang bagus Kamu akan sukses di sana".
Alya menatap mata Raka lama Ada keraguan di sana Ada sesuatu yang ingin Alya katakan tapi dia menahannya Dia melihat ke arah orang tuanya yang memanggil dari kejauhan.
"Raka aku harus pergi".
Raka memaksakan senyum "Iya Pergilah".
Alya melangkah mundur perlahan "Terima kasih untuk semuanya Raka Untuk catatan ujian untuk payungnya untuk semuanya".
Raka hanya diam Dia melihat Alya berbalik dan berjalan menuju keluarganya Alya tidak menoleh lagi Dia terus berjalan menjauh menuju masa depan yang sudah dia bangun dengan susah payah
Bab 9 Panel Terakhir.
Panel memperlihatkan gerbang sekolah yang mulai sepi Sisa-sisa kertas konfeti berserakan di tanah Raka berjalan sendirian keluar dari gerbang itu Dia memasukkan tangannya ke saku celana
Dia menemukan gantungan kunci kucing milik Alya Dia lupa mengembalikannya atau mungkin dia sengaja menyimpannya Raka menggenggam benda kecil itu.
Tidak ada ciuman perpisahan Tidak ada pengakuan cinta yang dramatis Tidak ada janji untuk saling menunggu Hanya ada kenangan tentang duduk bersebelahan di kelas 12-B dan aroma hujan di bawah payung biru tua.
Raka berhenti sejenak dan melihat ke arah langit Sore itu langit berwarna jingga keunguan Musim sekolah telah berakhir Dan bersamanya berakhir pula sebuah bab yang tidak pernah benar-benar memiliki judul.
Raka terus berjalan menjauh dari sekolah Bayangannya memanjang di atas aspal Dia tidak tahu apa yang ada di depannya Dia tidak tahu apakah dia akan bertemu Alya lagi suatu hari nanti.
Tapi untuk saat ini itu sudah cukup
Cerita berakhir dengan panel close up tangan Raka yang melepaskan genggaman pada gantungan kunci itu lalu memasukkannya kembali ke dalam saku dengan tenang.
Dunia tetap berputar Masa depan memanggil dan mereka masing-masing melangkah ke arah yang berbeda Tanpa dendam Tanpa penyesalan Hanya sebuah perpisahan yang sunyi di bawah langit kelulusan.
<>
<>
<>
TEMA KETIGA >>>REINKARNASI, BALAS DENDAM, ICIKIWIR, HAKIM, HUKUM.
PROLOG: HUJAN YANG TIDAK PERNAH BERHENTI
Langit Seoul berwarna abu-abu pekat. Tidak ada matahari hari ini. Hanya rintik hujan yang menghantam payung hitam Florencia dengan irama yang monoton. Di hadapannya berdiri sebuah nisan beton yang dingin.
Jihoon
Nama itu terukir di sana. Sederhana. Tanpa gelar. Tanpa penghormatan besar. Hanya seorang polisi muda yang tewas saat mengejar pencuri di gang sempit Distrik Gangnam.
Florencia berdiri diam. Matanya kosong. Tidak ada air mata yang mengalir. Air matanya sudah habis setahun yang lalu saat jaksa mengatakan bahwa kasus ini ditutup karena kurangnya bukti.
"Kecelakaan tugas" kata mereka.
Tapi Florencia tahu. Pencuri itu adalah putra tunggal Anggota Dewan Park. Seorang pemuda yang mabuk dan memacu mobilnya di trotoar saat Jihoon mencoba menghentikannya. Jihoon terlempar sepuluh meter. Kepalanya menghantam aspal.
Dunia tetap berputar. Anggota Dewan Park tetap berpidato di televisi tentang integritas. Anaknya dikirim ke luar negeri untuk sekolah bisnis. Sementara Jihoon membusuk di bawah tanah.
Florencia meremas gagang payungnya hingga buku jarinya memutih.
Negara ini tidak butuh polisi jujur batinnya. Negara ini butuh hakim yang memegang leher mereka
BAB 1: AMBISI DI BALIK LUKA
Tiga tahun berlalu.
Lampu neon di perpustakaan universitas hukum berkedip pelan. Pukul dua pagi. Florencia adalah satu-satunya orang yang tersisa. Wajahnya terlihat tirus. Lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan tentang malam-malam panjang tanpa tidur.
Ia bekerja di kedai kopi saat pagi dan belajar hingga dini hari. Uang tabungannya hampir habis. Perutnya sering keroncongan. Tapi setiap kali ia merasa ingin menyerah ia akan menyentuh kalung perak di lehernya. Cincin tunangan yang belum sempat ia pakai.
"Aku akan sampai di sana" bisiknya pada kesunyian.
Ia membalik halaman kitab undang-undang dengan kasar. Ia tidak ingin menghancurkan mereka dengan senjata. Ia ingin menghancurkan mereka dengan kata-kata yang mereka ciptakan sendiri. Hukum.
Di sudut lain kota dalam sebuah mansion mewah yang menghadap sungai Han seorang pria terbangun dengan napas tersengal.
Namanya adalah Kang Minho.
Ia adalah bintang baru di dunia politik. Muda. Tampan. Kaya raya. Ia baru saja dilantik sebagai Wakil Menteri Kehakiman. Tapi pria yang ada di dalam tubuh itu sedang memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Di mana aku?" gumam Minho.
Suaranya berbeda. Tangannya terasa asing. Terlalu halus. Tidak ada bekas luka tembak atau kapalan karena memegang borgol.
Ia melihat ke cermin. Wajah yang menatapnya kembali bukan wajah Jihoon yang ia kenal selama dua puluh tujuh tahun. Ini adalah wajah pria yang paling ia benci saat ia masih menjadi polisi. Wajah seorang oportunis yang lahir dengan sendok emas.
"Tidak mungkin"
Ingatan Jihoon membanjir. Kecelakaan itu. Rasa sakit di kepalanya. Wajah Florencia yang menangis di ambang kesadaran terakhirnya. Dan sekarang ia terbangun di tubuh orang yang menandatangani perintah penghentian kasusnya sendiri.
Jihoon yang kini berada dalam tubuh Minho meninju cermin hingga retak. Darah mengalir dari tangannya.
"Kenapa harus tubuh ini?"
BAB 2: PERTEMUAN YANG SALAH
Ujian akhir sekolah hukum selesai.
Florencia lulus dengan predikat terbaik. Ia berdiri di podium dengan jubah hitamnya. Wajahnya tenang seperti air telaga yang dalam. Tidak ada senyum. Hanya sorot mata yang tajam dan dingin.
Ia menerima piagam penghargaan dari tamu kehormatan hari itu.
Wakil Menteri Kang Minho.
Saat nama Florencia dipanggil jantung Minho hampir berhenti berdetak. Ia berdiri kaku di atas panggung. Ia mengenali langkah kaki itu. Ia mengenali aroma parfum melati yang tipis dari rambutnya.
Florencia berjalan mendekat. Ia membungkuk hormat.
"Selamat Florencia" kata Minho. Suaranya gemetar. Ia ingin memeluk wanita itu. Ia ingin berteriak bahwa ini adalah dia. Jihoon.
Florencia mendongak. Matanya bertemu dengan mata Minho.
Dingin.
Benci.
Hina.
Itulah yang terbaca di mata Florencia. Baginya pria di depannya adalah simbol dari segala sesuatu yang salah di negara ini. Seorang pejabat muda yang naik karena koneksi. Seorang pria yang mungkin saja menutup ratusan kasus demi kepentingan politik.
"Terima kasih Tuan Wakil Menteri" jawab Florencia datar.
Tangannya bersentuhan saat penyerahan piagam. Florencia segera menarik tangannya seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan.
Minho merasakan dadanya sesak. Ia adalah pria yang paling dicintai Florencia. Dan sekarang ia adalah pria yang paling dibenci olehnya.
BAB 3: DI DALAM LABIRIN HUKUM
Florencia diterima magang di firma hukum bergengsi yang menangani kasus-kasus pemerintah. Ini adalah rencananya. Masuk ke dalam sistem untuk menemukan boroknya.
Ia sering lembur. Ia menggali arsip lama. Ia mencari nama Anggota Dewan Park. Dan ia menemukannya. Berkas kasus Jihoon yang sudah berdebu. Di sana ada tanda tangan Kang Minho. Perintah untuk mengarsipkan kasus karena "kurangnya saksi mata".
Florencia meremas kertas itu. Tangannya gemetar hebat.
"Kau membunuhnya dua kali" desisnya.
Sementara itu Minho mencoba menggunakan kekuasaannya untuk memperbaiki keadaan. Ia mencoba membuka kembali kasus-kasus lama secara diam-diam. Tapi ia diawasi. Ayah Minho adalah seorang taipan media yang kuat. Setiap gerak-geriknya dipantau.
Ia sering pergi ke apartemen lama Florencia saat malam hari. Ia duduk di dalam mobil hitamnya mengawasi jendela lantai tiga yang lampunya selalu menyala hingga pagi.
Ia ingin masuk. Ia ingin membawakan tteokbokki kesukaan Florencia. Tapi ia tahu Florencia akan meludahinya jika ia muncul di depan pintu.
Suatu malam hujan turun deras lagi. Florencia keluar dari kantor dengan mata sembab. Ia baru saja ditegur karena mencoba mengakses file rahasia. Ia berdiri di pinggir jalan menunggu bus.
Sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Kaca jendela turun.
"Masuklah" kata Minho.
Florencia tidak menoleh. "Saya bisa pulang sendiri"
"Hujannya deras Florencia"
"Saya sudah terbiasa dengan badai" jawabnya tajam. Ia menoleh ke arah Minho.
"Anda sebaiknya mengurusi urusan negara yang sedang hancur ini daripada mengurusi karyawan magang"
Minho turun dari mobil tanpa payung. Ia berdiri di bawah hujan membiarkan bajunya basah kuyup. Ia menatap Florencia dengan tatapan yang sangat dikenal wanita itu. Tatapan penuh perlindungan. Tatapan yang hanya dimiliki oleh Jihoon.
Florencia tertegun sejenak. Jantungnya berdegup tidak keruan. Kenapa orang ini menatapku seperti itu?
"Jangan sakit" kata Minho lirih.
"Jika kau sakit siapa yang akan menegakkan keadilan?"
Minho kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkan Florencia yang terpaku di trotoar.
BAB 4: RUANG SIDANG ITU PENUH KEBOHONGAN
Kasus besar muncul. Putra Anggota Dewan Park kembali berulah. Kali ini ia menabrak seorang lansia hingga tewas dan mencoba menyuap polisi di tempat.
Florencia ditunjuk sebagai asisten jaksa penuntut. Dan hakim yang memimpin sidang adalah orang kepercayaan Minho.
Ini adalah kesempatannya.
Di ruang sidang yang megah Florencia berdiri dengan tegak. Ia membacakan tuntutan dengan suara yang jernih dan tak tergoyahkan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pedang yang menebas udara.
Minho duduk di kursi pengamat di barisan paling depan. Ia memperhatikan Florencia. Ia bangga namun juga takut.
Ia tahu lawan Florencia bukan hanya pemuda mabuk itu melainkan seluruh sistem yang ada di belakangnya.
Di tengah persidangan pengacara pembela mengajukan bukti palsu. Florencia terpojok. Hakim mulai berpihak pada pihak lawan.
Florencia mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa dejavu. Kejadian tiga tahun lalu terulang kembali. Hukum sedang dipermainkan di depan matanya.
Ia menoleh ke arah kursi pengamat. Ia melihat Minho.
Minho memberi isyarat kecil dengan tangannya. Gerakan jari yang biasa dilakukan Jihoon saat mereka sedang memecahkan teka-teki bersama. Sebuah kode sederhana.
Lihat di bawah berkas biru
Florencia mengerutkan kening. Bagaimana pria itu tahu tentang kode mereka? Dan kenapa ia membantunya?
Florencia memeriksa berkas yang baru saja dikirimkan oleh staf anonim ke mejanya. Di bawah sampul biru ada sebuah flashdisk. Berisi rekaman CCTV asli yang selama ini disembunyikan.
"Izin interupsi Yang Mulia" suara Florencia menggema.
Ia memutar rekaman itu. Ruang sidang menjadi sunyi senyap. Wajah Anggota Dewan Park pucat pasi.
Florencia menang.
BAB 5: KECURIGAAN YANG MENYIKSA
Setelah sidang Florencia mengejar Minho di koridor pengadilan.
"Tunggu" teriaknya.
Minho berhenti tapi tidak berbalik.
"Bagaimana Anda tahu?" tanya Florencia.
"Bagaimana Anda tahu tentang kode itu? Dan kenapa Anda memberikan bukti itu kepada saya?"
Minho tetap diam. Bahunya naik turun.
"Tuan Wakil Menteri Kang Minho jawab saya" Florencia mendekat dan menarik lengan baju Minho.
Minho berbalik. Matanya merah.
"Karena aku tidak ingin melihatmu kalah lagi" jawabnya.
Florencia mundur satu langkah. "Lagi? Kita tidak pernah bertemu sebelum ini"
"Aku melihatmu setiap hari Florencia" kata Minho dengan suara serak.
"Di setiap mimpi dan di setiap penyesalan"
Florencia menatap pria itu dengan teliti. Ia melihat cara Minho berdiri. Cara ia memiringkan kepalanya. Dan bekas luka kecil di tangan Minho akibat pecahan cermin tempo hari. Lokasinya sama persis dengan bekas luka Jihoon saat mereka masih SMA.
"Siapa kau sebenarnya?" bisik Florencia. Suaranya gemetar karena takut dan harapan yang tidak masuk akal.
"Aku adalah orang yang paling kau benci" jawab Minho pahit.
EPILOG: KEADILAN YANG MENGHANCURKAN
Malam itu Florencia duduk di apartemennya. Di depannya tersebar dokumen-dokumen baru yang dikirimkan oleh Minho. Dokumen yang membuktikan keterlibatan keluarga Kang dalam kasus korupsi besar-besaran yang menutup kasus kematian Jihoon.
Jika Florencia menggunakan dokumen ini ia akan mendapatkan keadilan untuk Jihoon. Tapi ia juga akan menghancurkan Kang Minho. Pria yang baru saja membantunya. Pria yang entah kenapa terasa seperti bagian dari jiwanya yang hilang.
Florencia memegang ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Gunakan itu. Jangan ragu. Aku sudah mati sejak lama. Biarkan kebenaran yang hidup
Florencia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis tanpa suara. Isakannya memenuhi ruangan yang sempit dan dingin itu.
Besok adalah sidang putusan akhir.
Florencia akan berdiri di sana. Minho akan berdiri di sana.
Satu orang mencari kebenaran. Satu orang mencari penebusan.
Di bawah lampu kota Seoul yang gemerlap dua jiwa yang terpisah oleh takdir dan raga yang berbeda itu saling menatap dari kejauhan. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata cinta. Hanya ada beban hukum dan dendam yang harus dituntaskan.
Apakah keadilan sebanding dengan kehancuran orang yang mungkin adalah cinta sejatinya?
Florencia menatap foto Jihoon yang sudah usang. Lalu ia menatap layar televisi yang menampilkan wajah Kang Minho.
Ia mengambil napas panjang. Matanya kembali kosong. Kembali tajam.
"Keadilan tidak punya perasaan" bisiknya.
Layar menggelap.
<>
<>
<>
TEMA KE-EMPAT >>>>