Suneta bukan sembarang nama, suneta adalah nama gabungan dari Syakila, Maya, dan Oktaviani. Tiga orang perempuan yang dipertemukan nasib dan perlahan-lahan menjadi sahabat dekat.
Dan inilah kisah kami, pada hari senin bulan Juli. Maya melakukan praktek pekerjaan lapangan (PKL) di sebuah konveksi jahit bernamakan 'Es Bordir Barokah'. Awalnya maya hanya bersama istri pemilik konveksi jahit tersebut untuk melakukan masa permulaan, dengan mencoba menjahit hal mudah terlebih dahulu.
Waktu berjalan dengan lambat, tapi lancar walau agak membosankan. Singkatnya pada siang hari, istri pemilik konveksi yang bernama Nirmala atau yang sering dipanggil bu irma mendatangi maya dan berkata.
"Maya, kamu istirahat dulu sana, sudah siang. Kalau mau makan pergi kebawah aja, jangan lupa sholat. Saya mau pergi ke pasar dulu untuk membeli bahan" Ucap bu irma sambil bersiap pergi.
"Iya bu irma, nanti saya kebawah. Ini sebentar lagi selesai menjahit nya" Balas maya
"Yaudah, terserah kamu. Intinya jangan lupa, nanti siang juga mba Syakila datang kesini-"
Belum sempat bu irma menyelesaikan ucapannya, Tiba-tiba ucapan salam terlantunkan dengan nada ruang dan terlihatlah seorang perempuan dengan jilbab merah marun dengan celana trening hitam dan kaos abu-abu dengan lengan pendek.
"Assalamu'alaikum, mba irma!!" Ucapnya dengan nada riang dan bersemangat
"Wa'alaikumussalam, mba syakila! Nah, kebetulan sekali datangnya. Saya mau pergi kepasar dulu, ini maya anak PKL-an baru. Jadi, tolong kau jaga ya mba, mungkin lagi dibawah untuk sholat zuhur" Ucap bu irma sambil bergegas keluar untuk mengendarai sepeda motornya.
"Anak PKL-an? Dari sekolah mana? Sampai kapan?" Tanya mba Syakila beruntung
"Iya, dia anak PKL-an dari sekolah SMK dekat sini, kalau nggak salah sampai 4 bulanan. Udah ya, saya mau berangkat. Kalau mau tanya, tanya aja sendiri sama anaknya. Mungkin masih dibawah" Ujar bu irma sambil mengendarai sepeda motor menjauh
Melihat itu, mba Syakila pun langsung turun kebawah untuk melihat maya. Sesampainya dibawah ia melihat maya baru selesai melaksanakan sholat.
"Jadi, kamu yang namanya maya?" Tanya mba Syakila dengan santai namun membuat maya sedikit tersingkap karena terkejut.
Melihat itu, mba Syakila tertawa kecil sedangkan maya cuman bisa tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Iya mba, saya maya" Ucap maya sedikit canggung sambil tersenyum pepsodent
"Owalah, kenalin aku Syakila. Pegawai disini, kamu kelas 12 ya? Biasanya kelas 12 PKL nya yang paling lama. Dan nggak sekali sih anak SMK PKL disini, ada juga dari sekolahan lain" Ucap mba Syakila santai sedangkan maya hanya mendengarkan sambil menganggukan kepala.
Setelah berbincang basa-basi, mereka pun keatas untuk melanjutkan bekerja. Maya hanya bisa diam, karena melihat mba Syakila dia terlihat seperti ibu yang punya satu atau dua anak membuat maya memutuskan diam dan hanya monolog di dalam hatinya.
//"ini pasti mba Syakila itu bakalan kek emak-emak, sukanya marah-marah atau judes. Kalau diajak bercanda mungkin aku bakal dilahap hidup-hidup. Apalagi mba irma, pasti sama aja. Bisa habis ini aku ... "// ungkap maya di dalam hatinya.
Tapi, tak sesuai yang disangka maya, mba Syakila dan mba irma ternyata sangatlah menyenangkan. Walau mereka seorang ibu-ibu tapi percakapan mereka dan candaan mereka cukup sesuai dan masuk untuk maya sendiri.
Hari pun telah berlalu dan tak disangka maya semakin akrab dan dekat dengan mba Syakila. Membuat mereka terlihat seperti kakak beradik daripada senior dan junior ditempat kerja.
Saat maya menjahit rok sekolah SMP, dia melihat seorang gadis dengan pakaian modis memarkirkan sepeda motornya di halaman Es Bordir Barokah. Dan, langsung masuk serta berbincang dengan bu irma dan suaminya. Karena konveksi jahit ini dikelola mereka berdua bersama dan mereka masih ikut bekerja menjahit.
Maya yang mendengarkan percakapan mereka hanya berdiam diri, dan tetap meneruskan menjahit dengan pelan karena penasaran dengan percakapan mereka.
//"aku belum pernah kenal dan baru sekalielihat gadis itu, tapi entah kenapa aku merasa namanya oktaviani, apa pikiranku lagi error ya?"// monolog maya dalam hati.
Mba Syakila yang melihat perangai maya hanya geleng-geleng kepala dan mendekatinya, karena mesin jahit nya kebetulan bersebelahan dengan maya.
"Nggak usah kek orang linglung maya, dia itu udah pernah PKL-an disini. Malah sebelum kamu PKL disini, dia sudah ada duluan. Tapi dia minggu ini dia kabur, entah ada apa dengannya dan kini kembali lagi" Ucap mba Syakila lirih
Maya yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya pertanda paham dan rasa pemasarannya pun sudah sedikit menghilang.
"Jadi dia kemungkinan sama kelas 12 sepertiku ya?" Tanya maya penasaran
"Yaiyalah, masa iya udah nikah" Celetuk mba Syakila sambil tertawa membuat maya ikut tertawa
Mereka berhenti tertawa ketika melihat bu irma masuk dengan gadis yang mereka bicarakan.
"Semuanya, kenalin ini oktaviani, kalian panggil saja okta. Dia ikut gabung menjahit bersama kita hari ini" Ucap mba irma
Sedangkan maya yang mendengar nama gadis tersebut, tiba-tiba terbatuk sendiri karena ternyata instingnya benar dan nggak meleset.
"Walah, yaudah sini jahit sebelahnya maya, itu ada mesin jahit kosong. Kenalin saya Syakila, nah ini maya" Ucap mba Syakila tanpa basa basi dengan nada santainya sambil menepuk pundak maya
Mereka pun melanjutkan kerja, sedangkan mba irma dan suaminya ada di ruangan bordir untuk membordir pakaian sesuai keinginan pelanggan.
"Kau itu orangnya cukup pendiam ya ta, nggak kayak maya yang baru kenalan langsung bisa bicara kek kereta api" Celetuk mba Syakila
"Lah,ya nggak masalah atuh mba Syakila. Malah rame, ketimbang sepi" Jawab maya sambil mendengus membuat okta terkekeh
"Iya, gimana lagi mba. Orang baru dateng, masa tiba-tiba langsung tancap gas kayak udah lama akrab" Timpal okta
"Ya, nggak apa-apa lagi, daripada diam kek orang asing aja. Yang datang tak diundang pulang pun tak diantar" Balas mba Syakila sambil terkekeh
"Iya, kalau itu definisi saya mba, orang PKL disini tanpa undangan pemilik, pulang pun naik motor sendiri" Celetuk maya yang membuat mereka semua tertawa sambil menjahit.
Hari berlalu, minggu pun berlalu. Tak disangka mereka bertiga semakin akrab dan mengenal satu sama lain.
Antara sikap maya yang bar-bar, bicara nggak bisa di rem, dan sikapnya yang masa bodo dan tingkahnya yang absurd. Sedangkan mba Syakila, sikapnya tak berubah dan meskipun dia seorang ibu-ibu. Faktanya dia jarang ngomel, malahan dia memiliki sifat humoris dan periang, layaknya hidup tanpa beban. Dan okta sendiri, dia sudah tidak pendiam lagi seperti sebelumnya. Tapi walaupun begitu, sikapnya masih sama saja kalem dan santainya.
Hari-hari yang mereka lalui di bulan Juli sungguh menyediakan dan tak seperti yang dibayangkan kalau PKL itu tidak se-membosankan itu, malahan bagi maya PKL sangat menyenangkan apalagi bu irma dan suaminya juga tak segalak yang dia bayangkan.
Bulan Juli berlalu dan bulan agustus pun datang, karena bulan agustus ada kegiatan agustusan pasti jahitan akan ramai. Itulah yang dipikirkan maya dan benar saja apa yang dikatakan maya.
Bulan Agustus mereka mendapatkan pesanan 800 bendera merah putih selama 5 hari, dan tentu saja itu membuat maya frustasi walaupun cuman menjahit lurus tapi tetap saja menyebalkan ketika mendengar totalnya.
"G*la!! Yang pesen bendera ini pasti nggak ngotak!! Yang bener aja 800 bendera dalam waktu 5 hari?!! Karyawan aja cuman lima!!" Teriak maya kesal sambil membakar tali untuk bendera merah putih tersebut
"Nggak usah teriak, aku pun tau maya!" Ucap okta kesal
"Fiks! Yang pesan bendera nggak punya otak! Ku doain sepeda motornya mogok!" Timpal maya kesal
Mba Syakila hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh, karena sudah biasa semenjak menjadi karyawan di konveksi ini.
"Ini itu katanya mba irma yang pesan itu ketua DPR kabupaten ini, tapi yang punya proyek ini. Itu adalah temannya suaminya bu irma" Tutur mba Syakila
"Oh pantes aja pesanannya segunung!! Lah yang pesen aja ternyata DPR!! Tapi, kenapa proyeknya bisa ada disini?" Ucap maya kesal
***Bersambung***