Aku adalah lembaran terakhir dari sebuah buku tulis usang yang sampulnya sudah hilang entah ke mana. Tubuhku nampak kuning, lembap oleh udara kamar yang pengap, dan tepianku compang-camping. Selama berbulan-bulan, aku hanya diam di pojok meja kayu yang kakinya diganjal batu bata, menyaksikan seorang anak laki-laki bernama Yose menatapku dengan tatapan lapar, bukan lapar akan nasi, tapi lapar akan aksara.
Hari ini, Yose memegangiku dengan tangan yang gemetar. Di tangan kanannya, ada sebatang pensil yang panjangnya tak lebih dari puntung rokok. Ia harus menyambungnya dengan gulungan kertas bekas cabe dari warung, agar jemarinya bisa menggenggam kayu pendek itu.
"Maafkan aku," bisiknya pelan. Suaranya serak, seperti ada duri yang mengganjal di tenggorokannya.
---
Pagi tadi, aku melihatnya pulang dengan bahu merosot lelah. Di ambang pintu, ibunya sedang batuk-batuk hebat di atas bale-bale bambu. Ayahnya? Ayahnya baru saja pulang memulung, hanya membawa dua lembar uang ribuan yang sudah lecek dan bau sampah.
"Pak, guru bilang besok ujian. Yose harus punya buku baru. Buku ini sudah habis," ucap Yose pelan, nyaris tak terdengar.
Ayahnya tidak menjawab. Pria itu hanya menunduk, menatap telapak tangannya yang kapalan dan hitam. Keheningan itu lebih menyakitkan daripada bentakan. Yose tahu artinya: tidak ada uang. Jangankan untuk buku tulis isi 38 lembar, untuk mendapat sesendok beras pun mereka harus berhitung nyawa.
Yose masuk ke kamar. Ia melihatku. Aku adalah satu-satunya ruang kosong yang tersisa di rumah ini.
---
Kini, Yose mulai menggoreskan mata pensilnya di atas tubuhku. Rasanya perih, namun aku rela. Ia menulis dengan air mata yang jatuh satu demi satu, membasahi serat-serat kertasku hingga tintanya melebar, seperti luka yang meradang.
"Ibu, Bapak... Yose minta maaf. Yose sayang kalian, tapi Yose capek jadi beban. Yose mau sekolah, Yose mau pintar, tapi dunia ini terlalu mahal buat kita."
Ia berhenti sejenak. Isaknya pecah. Aku merasakan dadanya sesak saat ia membungkuk di atas meja. Di luar, suara hujan mulai turun, seolah langit ingin ikut menyamarkan tangisnya. Rumah yang lebih mirip kandang ternak itu bocor dimana-mana.
"Tadi di sekolah, Yose diusir dari kelas karena tidak punya buku untuk mencatat. Teman-teman tertawa. Guru bilang, kalau tidak niat sekolah, lebih baik keluar saja. Padahal Yose ingin sekali belajar. Yose cuma tidak punya pensil yang panjang, Pak. Yose cuma tidak punya kertas yang putih..."
Tulisannya semakin miring dan berantakan. Mata pensil yang pendek itu berkali-kali patah, dan ia meruncingkannya dengan pisau dapur karatan hingga jemarinya berdarah. Darah itu menetes di sudut bawah tubuhku. Merah, kontras dengan kulitku yang pucat.
---
Setelah kalimat terakhir selesai, Yose meletakkan pensil itu dengan sangat pelan, seolah takut membangunkan ibunya yang sedang sakit. Ia menatapku untuk terakhir kalinya. Matanya kosong, seperti sumur tua yang kehilangan airnya.
Ia bangkit, mengambil seutas tali jemuran yang sudah lama ia simpan di bawah bantal. Ia menatap langit-langit kamar yang bocor. Di sana, ia melihat bayangan masa depan yang tertutup tembok tinggi bernama kemiskinan.
Aku hanya bisa terdiam di atas meja. Aku ingin berteriak, ingin terbang dan memukul jendela agar tetangga datang. Tapi aku hanyalah secarik kertas. Aku hanya bisa memeluk kata-kata terakhirnya.
Terdengar suara kursi yang terguling. Brak.
Lalu hening. Hanya suara hujan dan suara napas berat ibunya dari kamar sebelah yang sesekali terbatuk.
---
Keesokan paginya, sinar matahari menerobos celah genting, menyinari tubuhku. Ayah Yose masuk ke kamar untuk membangunkannya agar pergi memulung bersama. Namun, pria itu hanya mematung di pintu. Jeritannya membelah sunyi pagi itu, sebuah suara yang lebih tajam dari sembilu.
Ia rubuh di lantai, merangkak menuju kaki anaknya yang menggantung kaku. Ibunya menyusul, menyeret tubuhnya yang lemah, lalu pingsan di atas ubin tanah.
Di tengah kekacauan itu, angin sepoi-sepoi bertiup dari jendela yang terbuka, membuatku terbang dari meja dan mendarat tepat di depan wajah sang ayah yang sedang meraung.
Pria itu mengambilku dengan tangan gemetar. Ia membaca goresan pensil pendek itu. Air matanya jatuh tepat di atas kata "Buku".
Aku kini menjadi saksi paling bisu. Sebuah nyawa telah melayang hanya karena harga sebuah buku tulis dan sebatang pensil dianggap lebih mahal daripada masa depan seorang anak manusia. Aku adalah bukti bahwa kemiskinan tidak hanya membunuh perut, tapi juga membunuh harapan hingga ke akar-akarnya.
Catatan : Ini adalah cerita adaptasi, nama dan latar cerita disamarkan.