Aku Adinda orang orang memenggilku Dinda aku gadis kampung yang ber usia 16 tahun aku duduk di bangku kelas X Sekolah Menengah Atas.
Ayah dan ibu ku petani, aku anak bungsu dari 5 bersaudara kakak kakak semuanya petani.
Aku bercita-cita ingin menjadi seorang Guru,.dan hobi ku memasak
Dari itu semenjak aku masuk SMA aku semakin giat belajar aku mengikuti setiap organisasi organisasi sekolah,aku semakin aktif mencoba berbaur dengan yang lain.
"Aku berangkat" Aku mencium tangan kedua orang tuaku dan juga Kakak kakakk ku
"Ini buat kamu " kakak ku memberi aku uang jajan
"Makasih" aku berteriak gembira "dahh"
Aku melambaikan tangan pada mereka
"Belajar yang rajin" Kakak pertama ku berteriak.
Aku kesekolah dengan berjalan kaki, dengan menentang sepatu dan kernjang dangangan aku berjalan pelan pelan karena tanah nya becek, semalam hujan deras semoga saja air sungai tak meluap.
Walau pun kakak kakak ku selalu memberiku uang tambahan untuk jajan tapi aku tetap berjualan di sekolah, aku ingin belajar mandiri, uang dari kakak kakak ku selalu aku tabung begitupun dari ibu, aku jajan memakai uang ku sendiri walau dari berjualan aku hanya untung 20 ribu sehari kadang kurang tapi sedikit demi sedikit aku tabung untuk menambah uang belanja.
Jalan nan kesekolah sekitar 30 menit jika jalan lambat, aku pun harus melewati sungai, jembatannya pun hampir roboh, aku selalu berhati-hati melintasinya takut kalau nanti aku jatuh.
Pagi ini jembatan nya licin karena semalam hujan,air sungai pun sudah sedikit surut, seperti nya semalam air meluap, banyak sekali sampah di pinggir jembatan, suara kayu yang aku injak menambah ketakutan ku melintas, jembatannya bergoyang,
Bruk kayu yang akan aku injak jatuh ke sungai lalu hanyut terbawa air, jantung ku deg deg an, aku ingin mundur tapi aku sudah Samapi ditengah jembatan, jembatan nya semakin bergoyang, tali talinya hampir patah, bambu penghalang pinggirannya pun sudah copot 3
Bruk aku terjatuh tersandung bambu diujung jembatan untung saja aku terjatuh sudah Sampai dipinggir kalau tidak aku pasti jatuh kebawah,sandala ku nyangkut di sela sela bambu aku berusaha mengabil tapi sandal ku terperosok kebawah.
Aku berdiri mencari jalan kebawah untuk mengabil sandalku
"Dinda" aku menoleh ternyata paman Sam
"Nagapain kamu disana sini" ia berteriak
"Sebentar paman sandal Dinda jatuh kebawah" aku berusah menggapai sandalku di bawah
" Awas nanti kamu jatuh"
"Dinda cepet naik, Dinda" paman Sam berteriak keras aku segera naik tak lama
Bruk jembatan yang tadi aku lintasi ambruk kebawah, aku terkejut segera berlari ketempat paman Sam
"Untung saja kamu cepet naik" Paman Sam menoleh padaku " lain kali kalau hujan dan air sungai meluap kamu gak usah sekolah udah tau jembatan ampir ambruk, untung kamu udah Samapi, kalau gak kamu udah hanyut "
Paman Sam memarahiku
" Maaf paman" aku menunduk
"Yasudah sana berangkat, nanti biar paman telepon kakakk kamu, mereka pasti khawatir tau jembatan nya ambruk"
"Makasih paman Assalamualaikum" aku mencium tangan paman Sam dan melanjutkan perjalanan ke sekolah.
"Dindaaa" Teriak teman teman ku
"Kamu ko lama sih aku dah laper nih"
"Aku mau ini "
"Aku yang ini yah"
"Sama ini"
Baru saja aku Samapi teman temanku selalu memborong danganganku, sekarang dagangan ku sudah habis.
"Eh sttt Din,Din Dinda heyy sttt" Aku menoleh
"Ini soal no 3 gimana"
Aku menggeleng
"Kalau sudah dikumpulkan" teriak Bu guru, aku pun segera berdiri mengumpulkan buku kedepan
"Katanya belum" sinis temanku dibelakang
"Iyh ih"
"Hay kalian berdua makannnya rajin belajar kaya Dinda bukan pacaran Mulu" sahut elena ia duduk dibelakang bangku Fatma dan Dira
" Apaan sih Lo El sibuk deh, emang kamu ngerti "
" Yah lumyan akh udah " Elena segera berdiri
" Eh El ini" Fatma menunjuk kertas soalnya
"Kamu udah Dir " fatma menengok
"Udah" Dira segera berdiri
"Ihhh, awas kamu Dinda " gumam Fatma
"Fatma kamu udah belum"
"Belum Bu 1 lagi "
"Iyah cepet "
Pulang sekolah
" Neng Dinda " aku menoleh
"Eh bibi kantin ada apa yah bi"
"Mending kamu gak usah tuh jualan lagi disekolah "
"Kenpa BI"
"Kalau mau jualan sih gak papa yah, tapi jangan motong rezeky bibi dong " sinisnya
" Ko git...."
"Eh Neng kalau mau jualan itu yang jujur, gak usah demi dangangan mu laris kamu ngejelekin dagangan orang lain"
Deg
"Ko bibi ngomong gitu, Dinda gak pernah ngejelekin dagangan orang lain ko Bi " sekuat tenaga aku menahan air mata
" Jangan ngelak neng, buktinya dangangan bibi gak laku "
"Jadi bibi nunduh Dinda ngejelekin dagangan bibi"
" Iyah" Bibi kantin membentak ku
"Aku.."
"Kecil kecil udah gini gimana besarnya nanti, bikin rezeky orang seret aja " ia pun pergi
"Bi itu fitnah aku gak pernah ngejelekin dagangan bibi" teriakku, air mata luruh aku menangis sepanjang jalan, hari ini aku pulang kerumah paman Sam karena jembatannya ambruk dan air sungai belum terlalu menyusut nanti sore aku baru pulang kerumah
"Assalamualaikum bibi ini Dinda "
"Masuk aja Din bibi lagi didapur" aku pun masuk segera menghampiri bibi di dapur
"Waalaikumsalam"
"Bibi buat apa "
" Ini cemilan " aku hanya mengangguk
"Udah shalat"
"Belum Bi"
"Sana shalat dulu"
Aku mengangguk
Sore hari
"Din kakak kamu jemput tuh" paman Sam menghampiri ku dan bibi di dapur
" Dinda pulang bi" aku mencium tangan kedua adik orang tua ku "assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Din"
"Iyah Bu"
"Gimana sekolah nya lancar "
"Alhamdulillah lancar Bu"
"Dagangan kamu selalu laris"
"Alhamdulillah"
"Tetep utamain belajar yah"
"Iyah Bu, ini juga Dinda lagi belajar"
"Ouh yah sebentar lagi kenikan kelas, belajar yang giat "
"Oke ibu, ibu ini " aku tersenyum
"Ibu mengingat kan,kejar cita cita mu, biar gak kaya Kakak kakak kamu " ibu tersenyum " kamu satu satunya harapan keluarga ini" ibu menggemgam tangan ku
Aku tersenyum
"Buktikan pada dunia keterbatasan bukan halangan untuk tumbuh"
"Neng, bibi udah sabar yah ngadepin kamu, ngedieumin kamu "
"Aku salah apa lagi bi"
"Bibi gak nyangka kamu ngejelekin dagangan bibi sampe sampe kamu bilang dagangan bibi gak higenis, kamu bilang dagangan bibi pake daging ayam tiren keterlaluan kamu neng bibi salah apa selama ini bibi diam kamu jualan karena bibi yakin rezeki gak akan ketukar tapi apa balasannya kamu buat rezeki bibi seret "
"Astaghfirullah" air mataku jatuh "aku gak ngomong gitu bi, Dinda gak pernah ngejelekin dagangan bibi Nda gak pernah sumpah bi, Nda gak pernah bilang gitu itu fitnah bi astaghfirullah"
"Halah " bibi kantin menapik keranjang dagangan ku hingga isinya berhamburan ketanah, lalu ia pergi
"Ya Allah sampe segitu nya"
"Gak nyangka bibi kantin gitu"
"Jahat yah"
"Sabar nda"
"Sabar yah"
Teman teman menyaksikan saat aku dan Bu kantin bersitegang
"Pasti ada yang fitnah kamu"
"Ada apa ini, Bukan nya masuk kelas malah ngerimung disini"
"Ini pak Dinda di marahin bibi kantin, dagangan nya di tampik "
"Astaghfirullah, kenapa"
Salah satu satu kakak kelas menjelaskan
"Yasudah nanti ibu panggil bibi kantin, sama kamu Dinda nanti Istirahat keruang BK yah, ini perlu di luruskan"
Semuanya pun bubar, aku terpaksa membuang gorengan ku, karena sudah penuh dengan debu hanya kur lapis nya saja yang terselamatkan itupun sebagaian.
"Bi, kenapa bibi hancurin dangangan Dinda? Dinda punya salah apa sama bibi "
"Gininyah Bu, neng Dinda ini udah fitnah saya di depan anak anak, ia bilang ......." Bibi kantin menjelaskan
"Astaghfirullah bi itu fitnah"
"Bibi kata siapa "
"Ada yang bilang "
"Iyah kata siapa, ini jatuhnya fitnah bukti nya saya tanya ke anak anak lain Dinda gak pernah fitnah bibi, barusan saya ngajar di kelas XIII saya tanya kemereka apa Dinda jelekin bibi enggak malah mereka bilang Dinda itu baik kalau dangangan nya udah habis dan ada yang gak kebagian ia nyuruh beli di bibi"
"Mungkin ke teman kelas nya Bu," bela bibi kantin
"Bibi gak liat pas bibi marahin Dinda di gerbang itu semua kelas X sama XII mereka diam aja, malah mereka belaiin Dinda"
Bibi kantin hanya diam
"Ini jatuhnya fitnah,saya bisa aja nyabut surat izin bibi jualan disini, karena sikap bibi gak baik apalagi ditonton anak anak "
"Maaf Bu"
"Saya tanya sekali lagi siapa yang bilang kalau Dinda fitnah bibi"
"Fatma "
Astaghfirullah ternyata ini semua ulah Fatma , sampe segitu nya ia ngejelikn aku
"Fatma "
"Iyah Bu" Fatma menunduk
"Kenapa kamu fitnah Dinda"
"Saya gak fitnah ko Bu"
"Fatma"
"Habisnya saya kesel Bu"
"Kenapa"
"....." Fatma menjelaskan saat aku tak memberi ia contekan pada hari itu
" Ayo minta maaf sama Dinda, itu kamu yang salah " kata Bu guru
"Tapi Bu"
"Bibi juga minta maaf sama Dinda yah, Fatma minta maaf "
"Maafin bibi yah neng Dinda bibi salah "
"Dinda maafin bibi ko"
"Ayo fatam kalau gak ibu panggil orang tua kamu"
"Jangan" ia menyahut cepat "baik Bu" jawabnya lirih
"Din aku minta maaf " ia mengulurkan tangan
"Aku maafin"
"Udah sekarang kalian baikan yah"
Setelah kejadian itu fatma pindah sekolah, hubungan ku dengan bibi kantin semakin baik aku selalu membantu nya berjualan dan aku menitipkan danganganku disana.