“Lu tuh cuma anak daerah yang norak dan kampungan! Gak akan bisa nyaingin gue!” artis muda tampan namun sombong itu menggertak Arlo, si anak Indonesia timur yang baru berkecimpung di dunia hiburan tanah air. Arlo diam. Ia menatap geram artis yang dulu ia idolakan itu. Tak sangka, Raka Mahendra adalah lawan mainnya di film pertamanya. Awalnya Arlo bahagia bermain dengan idolanya, tapi kesombongan Raka membuatnya kecewa sekaligus geram.
Dua tahun berlalu setelah momen itu. Kini Arlo Dirgantara selalu tampak sempurna di kamera. Rahang tegas, senyum yang terasa hangat tapi tak pernah benar-benar sampai ke mata. Ia tahu kapan harus tertawa, kapan menunduk sopan, kapan berpura-pura rendah hati. Di balik jas mahal dan jam Swiss, Arlo adalah anak lelaki dari mataram, nusa tenggara barat, yang belajar terlalu cepat bahwa di dunia hiburan, bakat hanyalah tiket masuk—bukan jaminan bertahan.
Malam itu ia menginap di Hotel Aurelia, hotel langganan para elit. Lobi berlapis marmer Italia, wangi parfum mahal bercampur kopi impor. Lampu-lampu keemasan memantulkan bayangan manusia yang sibuk menyusun citra. Arlo berdiri di depan kaca lift, membetulkan kerah jasnya, menutup syal sutra di leher—menyembunyikan luka segitiga kecil yang masih perih.
Saingannya, Raka Mahendra, muncul di belakangnya. Aktor dengan sorot mata lapar dan senyum setengah mengejek.
“Selamat, bro. go Internasional sekarang,” ucap Raka sambil menepuk bahu Arlo, terlalu keras untuk sekadar ucapan selamat. “Tapi kamu tahu kan, spotlight cepat bosan.”
Arlo tersenyum, menutupi rasa kesalnya. Mereka berdua tahu, perang mereka tak lagi soal akting, melainkan jaringan.
Di lantai atas, pesta media digelar. Para artis wanita mengelilinginya—ada Naya Katarina, bintang sinetron yang menyukai Arlo karena ketenangannya, Keisha Sandrina, penyanyi pop dengan tawa keras dan mata lelah, dan Luna Athena, aktris film festival yang mencintai Arlo diam-diam, tapi takut mendekat karena gosip dan bayangan gelap di sekitarnya. Dunia hiburan berkilau seperti perhiasan, indah dari jauh, tajam saat disentuh.
Pesta itu membanjiri ballroom hotel bintang lima dengan kemewahan yang nyaris berlebihan dengan lampu kristal raksasa menggantung rendah, memecah cahaya keemasan ke gaun-gaun satin dan jas hitam berpotongan sempurna, sementara lantai marmer mengilap memantulkan langkah para tamu yang tertawa pelan dengan gelas sampanye di tangan, aroma parfum mahal bercampur wangi bunga impor memenuhi udara, musik jazz modern mengalun lembut dari sudut ruangan, pelayan berbaris rapi membawa hidangan artistik berlapis saus berkilau, dan di balik senyum sopan serta kilau kamera, terasa denyut ambisi, rahasia, dan kesepakatan tak terucap yang menjadikan malam itu lebih dari sekadar perayaan—ia adalah panggung kekuasaan.
Siang harinya, Arlo mengunjungi kantor media raksasa di pusat kota megapolitan. Gedung kaca menjulang seperti altar modern. Di dalamnya, layar-layar LED memutar wajahnya berulang-ulang. Seorang konglomerat media—pria berambut perak dengan suara lembut—menyambutnya.
Bos media itu duduk di balik meja besar dari kayu hitam mengilap, tubuhnya tegap meski usianya tak lagi muda, rambut peraknya tersisir rapi tanpa satu helai pun berani keluar barisan, setelan jas abu-abu gelap membungkusnya dengan presisi mahal yang sunyi, jam tipis di pergelangan tangannya nyaris tak berkilau namun jelas bukan benda biasa, dan tatapan matanya—tenang, dingin, seolah sudah membaca masa depan sebelum orang lain sempat berpikir—menyapu ruangan penuh layar LED yang memutar grafik opini publik, wajah selebritas, dan tajuk berita dunia, membuat siapa pun yang berdiri di depannya merasa kecil, terbuka, dan tanpa sadar ingin patuh.
“Kita bisa membuatmu abadi,” katanya. “Atau menghapusmu tanpa suara.”
Arlo mencoba untuk tidak kaget dengan kalimat terakhir, “Silahkan hubungi pemilik rumah produksi ini! Aku sudah merekomendasikan namamu untuk membintangi layar kaca dan perak sebagai pemeran utama pria dengan bayaran yang sangat fantastis tentu saja!” lanjutnya sambil menyerahkan memo.
“Dan malam ini, temani aku makan malam dan kita diskusi lebih lanjut!” Bos media itu menatap lekat-lekat Arlo yang tinggi besar atletis, stylish dan rupawan.
Arlo tersenyum tipis sambil mengangguk. Ia lalu lekas pergi setelah pamit.
Semalam bersama bos media itu benar-benar membuka mata Arlo lebar-lebar tentang sisi gelap dunia yang ia geluti. Ia seakan sulit untuk meninggalkan dunia itu, resikonya terlalu besar!
Konflik memuncak ketika Arlo sadar: setiap kontrak yang ia tanda tangani menyingkirkan satu orang lain. Gosip tentang Keisha, proyek Luna yang tiba-tiba dibatalkan, Raka yang semakin dekat dengan lingkaran kekuasaan. Arlo terjebak di antara rasa bersalah, ambisi, dan ketakutan kehilangan segalanya.
Di suatu Pesta yang berlangsung seperti misa bagi para penyembah kuasa : di sebuah ballroom tersembunyi berlapis marmer hitam dan emas kusam, cahaya redup menari di atas topeng-topeng halus dan jas berjahit sempurna, sementara musik rendah berdenyut seperti jantung para pemilik aset itu sendiri—setiap dentingnya menandai saham yang naik, reputasi yang dibentuk, dan nama yang akan disucikan menjadi legenda yang menduia, di sana ketenaran diperlakukan sebagai mata uang, selebriti dipoles dan dikunci dalam kontrak tak kasatmata, para penguasa modal saling mengukuhkan lewat simbol, sumpah sunyi, dan senyum terukur, hingga kemewahan terasa dingin dan mekanis, indah namun direkayasa, seperti panggung raksasa tempat dunia diputar perlahan sesuai kehendak mereka yang tak pernah ingin terlihat.
Malam itu, lantai catur ballroom megah itu bergetar. Simbol mata satu menyala. Pesan dari nomor “000” masuk ke ponselnya.
Pilih. Naik. Atau hilang.
Arlo menatap sekeliling—wajah-wajah tersenyum yang terlalu rapi, tawa yang terlalu sinkron. Ia melangkah maju, lalu berhenti. Di kaca, bayangannya tidak bergerak.
Lampu meredup. Musik terhenti. Dan untuk pertama kalinya, Arlo tidak tahu apakah ia sedang melangkah menuju puncak—atau pintu keluar yang tak pernah tercatat.
Ballroom itu berubah seperti ruang sidang tanpa hakim. Musik kembali mengalun, tetapi nadanya sumbang, seolah diputar mundur. Arlo melangkah pelan, matanya menangkap detail yang dulu tak pernah ia pedulikan: senyum para tamu yang terlalu seragam, tawa yang muncul bersamaan, tatapan kosong yang menyimpan kepatuhan.
Raka Mahendra berdiri di dekat panggung, mengenakan jas hitam yang sama dengan para pria berjubah. Tidak ada lagi senyum mengejek. Yang ada hanya ketenangan dingin, seperti seseorang yang akhirnya pulang ke rumah.
“Kamu terlambat sadar,” katanya lirih saat Arlo mendekat. “Semua orang di sini pernah jadi kamu.”
Arlo mencari wajah-wajah yang ia kenal. Naya menunduk, jarinya gemetar. Luna berdiri di balik pilar, matanya basah—namanya sudah menghilang dari layar-layar promosi. Keisha tak ada. Hanya kursi kosong di sudut ruangan, dan pola kupu-kupu yang terukir di sandaran.
Ponsel Arlo kembali bergetar. Kali ini bukan ancaman, melainkan file. Video lama. Audisi pertamanya. Seorang pria tak terlihat kamera berkata, “Dia cocok. Bersih. Mudah dibentuk.”
Arlo tersadar—ia tidak pernah benar-benar dipilih karena bakat, melainkan karena kerapuhan.
Ia menoleh ke konglomerat media itu. “Kalau aku menolak?”
Pria itu tersenyum. “Kami tidak memaksa. Kami mengganti.”
Lampu-lampu hotel memantul di dinding kaca, menampilkan ratusan Arlo lain—versi dirinya yang lebih patuh, lebih lapar, lebih kosong. Ia merasakan syal di lehernya semakin berat, seperti tali.
Dengan napas gemetar, Arlo melangkah ke depan panggung. Ia siap berbicara, siap menghancurkan semuanya—saat layar raksasa menyala menampilkan wajahnya sendiri, membaca pernyataan yang belum pernah ia tulis.
Para tamu bertepuk tangan.
Dan Arlo baru menyadari, suara di layar itu bukan rekaman lama—melainkan siaran langsung dari masa depan yang sudah ditandatangani atas namanya.