Bastian terbangun bukan karena mimpi buruk.
Tapi karena suara klik yang terus menerus menggangu tidurnya.
Seperti pintu yang baru saja ditutup dan dibuka perlahan.
Ia membuka mata. Gelap. Hanya cahaya digital jam di meja kecil yang menyala merah.
02:13
Bastian mengerjap. Ia tinggal sendiri di apartemen lantai tujuh. Tidak ada hewan peliharaan. Tidak ada angin malam. semua jendela tertutup dan terkunci.
Klik.
Suara itu lagi. Dan kini ia mendengar dari ruang tamu.
Bastian menahan napas. Mungkin tetangga? Tapi suara itu terlalu dekat. Seperti… dari dalam rumah.
Ia meraih ponsel diatad meja dan mulai menyalakan nya. Tidak ada sinyal. Anehnya, layar menunjukkan notifikasi kamera CCTV rumahnya aktif, padahal ia tak pernah memasang kamera.
Tangan Bastian gemetar saat ia membuka notifikasi itu.
Layar menampilkan ruang tamunya.
Kosong.
Sofa. Meja. Pintu tertutup.
Lalu kamera itu bergerak sendiri.
Perlahan… menoleh ke arah lorong kamar.
Ke arah pintu kamar Bastian.
Seolah seseorang sedang memegang kamera itu.
Bastian membeku.
Di layar, pintu kamarnya terlihat… sedikit terbuka.
Padahal ia ingat betul bahwa dirinya sudah mengunci pintu tersebut.
Di dunia nyata, pintu di depannya masih tertutup rapat.
Napas Bastian memburu. Ia menoleh ke pintu asli. Lalu kembali ke layar.
Di layar, pintu kamar perlahan terbuka lebih lebar.
Klik.
Gagang pintu di dunia nyata… bergerak.
Pelan.
Sangat pelan.
Bastian ingin berteriak, tapi tenggorokannya kaku.
Di layar ponsel, kamera kini berada di dalam kamarnya.
Menyorot tempat tidur.
Menyorot… dirinya sendiri.
Ia terkejut melihat dirinya terbaring di kasur tapi wajahnya pucat, matanya terpejam, tidak bergerak.
Bastian menjatuhkan ponsel.
“A- aku… di sini…” bisiknya.
Tok. Tok.
Terdengar keras memecah rasa terkejutnya.
Ketukan itu dari dalam lemari.
Bukan dari luar.
Dari dalam.
Pintu lemari bergetar pelan.
Sesuatu di dalamnya… bernapas.
Udara kamar berubah dingin, berat, seperti air. Bastian bisa merasakan seseorang berdiri di belakangnya meski ia tak berani menoleh.
Ponselnya menyala lagi di lantai.
Kamera kini menyorot sudut kamar.
Sosok tinggi, hitam, terlalu kurus, berdiri menempel di langit-langit… terbalik.
Wajahnya… wajah Bastian.
Namun matanya kosong. Mulutnya terbuka terlalu lebar.
Di layar, sosok itu menoleh perlahan ke arah kamera.
Lalu berbisik:
“Kamu bangun terlalu cepat.”
Lampu mati.
Segalanya sunyi.
Keesokan paginya, tetangga mengeluh karena alarm Bastian berbunyi terus dari dalam apartemen. Polisi membuka pintu.
Bastian ditemukan di tempat tidur.
Tertidur.
Dengan wajah yang pucat.
Di ponselnya, rekaman terakhir menunjukkan ia tak pernah bangun.
Hanya ada satu gerakan dalam video semalaman:
Pintu lemari… terbuka dari dalam.