Lily adalah gadis kecil yang ceria, ia punya banyak energi untuk mengacaukan posisi barang dirumah, sejalan dengan banyaknya energi yang ia keluarkan, Lily juga sangat suka makan, mulutnya yang berisik namun lucu itu bisa terus mengunyah sepanjang hari, bahkan Ketika tidur pun ia pasti memimpikan makan biscuit, terbukti dengan mulutnya yang bergerak membuka dan menutup selagi ia tidur.
Wanita yang sedang mengusap punggung Lily adalah ibunya, Santi. Rasa cintanya pada Lily tak terhitung, sebagaimanapun Lily mengacaukan seisi rumah, Santi tak pernah marah, ia menikmatinya sebagai proses tumbuh kembang Lily.
Setiap sore Lily duduk di beranda rumah Bersama ibunya, tentu sembari mengunyah biscuit. Lily dan ibunya bercengkerama, menikmati sinar matahari sore yang hangat sambil menunggu sang ayah pulang dari pekerjaannya.
Lily selalu suka momen itu, apalagi kalau bapak penjual kue lewat di depan rumahnya, teriakan “abang beli” selalu keluar dari bibir mungilnya, meski kata yang ia ucapkan belum jelas, bapak penjual kue pasti mengerti apa yang Lily inginkan. “hari ini kue coklat atau strawberry adik manis?”, “Swowbewi abang”.
Sambil mengunyah kue isi selai strawberry, Lily dan ibu bersenda gurau, Ibu juga selalu menyelipkan Pelajaran tentang nama dan suara hewan-hewan yang ada di sekitar mereka.
Hari ini agak berbeda, senja sudah beranjak namun ayah belum juga datang. Resah sudah mulai menyelimuti hati ibu, ditambah Lily yang menangis setiap mendengar suara kendaraan lewat didepan rumahnya.
Petang belum sepenuhnya datang, untuk menenangkan dirinya dan Lily, ibu mengajak Lily menunggu di kamar sembari memberinya latunan lagu yang mendayu dayu, tak lupa tangan halus ibu mengusap lunggung Lily yang luasnya hanya seukuran dua telapak tangan ibu.
Lily pun tertidur di pelukan ibu, hangat pelukan dan suara dengkuran kecil Lily mmendatangkan sedikit tenang pada jiwa Ibu, namun hal itu tak berlangsung lama.
“kriiiiiiing”
Suara telepon rumah mengagetkan ibu, ia bergegas mengangkat gagang telepon, berharap suara ayah lah yang terdengar dari Seberang sana.
“halo, apakah benar ini kediaman bapak Kevin?” Suara laki-laki dewasa menciptakan kebingungan di kepala ibu.
“iya saya istrinya pak”
“mohon maaaf bu, kami ingin informasikan bapak Kevin saat ini sedang berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan di jalan, ibu mohon dapat segera datang ke instalasi gawat darurat rumah sakit pusat, terimakasih”.
Mendengar kabar tersebut membuat kaki ibu terasa kehilangan tulang dan ototnya, ia merasa seperti dihantam dengan lempengan besi puluhan ton.
Lama ibu terduduk, tatapannya kosong namun di ujung matanya air tak terbendung dan mengalir dengan lugas ke pipi dan dagunya.
Lily menghampiri ibu dan memeluknya, mulut kecilnya yang penuh dengan sisa remah biskuit mengeluarkan suara "ibu jangan menangis, nanti ayah sedih lihat ibu menangis".
Mendengar itu tangis ibu pecah, ia memeluk lily erat sembari berteriak meraung meluapkan kesedihannya.
"Kriiiiing" telepon berbunyi kembali, ibu bergegas menghapus air matanya, menarik nafas dalam dan mengangkat telepon dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya masih mendekap Lily erat.
"Ibu ini saya dari kepolisian yang tadi menghubungi, apakah ibu sudah menuju kesini? Jika tidak bisa kami dapat menjemput ibu ke kediaman ibu"
"Tidak perlu pak, saya akan kesana, kondisi suami saya bagaimana pak? Apakah masih selamat pak?"
"Lebih baik kami jelaskan disini bu, seuai prosedur, agar tidak menciptakan kepanikan di keluarga pak Kevin"
Ibu menarik nafas panjang, menatap Lily yang tengah menatap ibunya juga, senyuman kecil Lily memberikan kekuatan besar bagi ibu, senyum itu pun tertular ke bibir ibu.
"Ayo nak kita yang jemput ayah"
Ibu dan Lily beranjak menuju rumah sakit sesuai dengan informasi dari pihak kepolisian.
Sepanjang jalan Lily menatap gedung-gedung yang memantulkan cahaya warna-warni dari jendela setiap lantainya. Perasaan tenang perlahan hadir kala ibu melihat keceriaan Lily.
Lily biasanya punya ikatan kuat dengan ayahnya, pernah satu waktu ayah terjatuh dari tangga di kantornya, kala itu ayah bilang tidak bisa pulang tepat waktu karena lembur, namun tak seperti ketika ayah lembur sebelumnya, kali ini Lily seperti tak rela, ia berulang kali menangis dan memaksa menelpon ayahnya. Dan benar saja ternyata ayah tidak sedang lembur, tapi ayah sedang mendapatkan perawatan luka karena kakinya terkilir setelah jatuh dari tangga.
Mengingat momen itu ibu merasa pasti sekarang ayah baik-baik saja karena Lily pun juga masih sangat ceria.
Setibanya di rumah sakit ibu langsung menghampiri bagian administrasi, namun anehnya tidak ada orang disana, pandangan ibu berkeliling sepanjang lobi guna mencari petugas yang bisa ia tanya.
Matanya menemukan satu orang perawat yang tengah tergesa-gesa membawa nampan berisi peralatan pertolongan pertama, ibu dengan sigap menghampirinya dan menanyakan keberadaan suaminya.
"Oh korban kecelakaan beruntun ya bu, ada di ruangan di ujung lorong bu, maaf saya tidak bisa mengantar, karena korban kecelakaan ada puluhan orang dan sebagian besar masih kritis bu" jelas perawat itu.
Batin ibu mulai tergolak kembali mengetahui kecelakaan yang dialami ayah adalah kecelakaan beruntun yang menimbulkan banyak korban kritis.
"Di lorong itu di ruangan apa ya sus suami saya?"
"Ibu jalan saja lewat lorong itu, nanti di depan kamar jenazah ada beberapa polisi, ibu bisa tanya lagi disana"
"Kamar jenazah sus?"
"Iya bu betul, saya permisi maaf sedang banyak pasien kritis"
Ibu tercekat mendengar informasi keberadaan suaminya, mulutnya terkunci padahal ia masih ingin bertanya lebih soal kenapa suaminya ada di kamar jenazah.
Ibu berlari di lorong dengan tergopoh-gopoh, sempat ia terjatuh namun tanpa banyak berfikir ia kembali bangun dan lanjut berlari mengabaikan kakinya yang berdenyut.
Lily yang sedari tadi ada di dalam kain gendongan yang ibu bawa hanya diam sembari mengemut jari jemarinya sendiri.
Tiba di depan ruang jenazah, seorang petugas kepolisian menghampiri ibu yang tak karuan kondisinya, sandalnya putus sebelah sementara wajahnya penuh dengan air mata yang tak sempat ia seka.
"Ibu istri dari pak Kevin, mari bu"
Ucap petugas sembari menuntun ibu masuk ke ruang jenazah.
"Suami saya pak.."
Ucap ibu lirih saat baru beberapa langkah masuk ke ruang jenzah. Pasalnya di dalam ruangan itu terbaring belasan tubuh yang terbungkus kain putih, beberapa diantaranya bahkan terbercak warna merah di kainnya.
Ibu sempat terjatuh berlutut karena lagi-lagi kakinya kehilangan kekuatan untuk melangkah.
Petugas di sampingnya membantu ibu berdiri dan memapah ibu sampai ke sebuah ranjang yang juga terdapat penutup kain diatasnya.
Ranjang satu ini agak berbeda, seperti tidak ada apapun diatasnya, hanya segunduk kecil yang terlihat menyembul dari balik kain putih.
Ketika petugas membukanya, jantung ibu yang rasanya berdegup sangat kencang entah berapa ribu detakan per detiknya tiba-tiba sekan terhenti.
Di atas ranjang itu tergeletak sepotong kaki manusia, ya.. kaki manusia sungguhan. Tepatnya kaki bagian lutut kebawah lengkap dengan telapak dan jari-jarinya.
"Ini maksudnya bagaimana pak, suami saya dimana pak?" Ucap ibu setengah histeris melihat penampakan di hadapannya.
"Ibu tenang dulu, saya jelaskan ya"
"Bapak kevin terlibat dalam kecelakaan beruntun, sebuah truk kehilangan kendali karena sistem hidroliknya rusak. Truk itu menghantap puluhan kendaraan didepannya, salah satunya bapak Kevin"
Ibu masih terdiam dan menyimak apa yang dikatakan oleh petugas.
"Kendaraan yang pertama kali dihantam oleh truk tersebut adalah sepeda motor yang dikendarai suami ibu, untungnya bapak Kevin sempat menghindar hingga hanya tubuh bagian kirinya saja yang terhantam truk tersebut"
"Setelah pemeriksaan oleh petugas medis, sayangnya kaki kiri dari suami ibu harus di amputasi, syukurlah operasinya berjalan lancar, namun.."
"Bagaimana pak, bagaimana kondisi suami saya sekarang?"
"Namun ternyata suami ibu juga mengalami patah tulang di bagian rusuk sebelah kiri, dan saat ini masih dalam proses operasi, mari saya antar ke ruang tunggu operasi"
Mendengar cerita dari petugas membuat perasaan ibu jadi tak karuan, ia hanya bisa terdiam mengikuti petugas ke ruang operasi.
"Ibu, mana ayah?" Tanya Lily menggugah keheningan.
Ibu pun baru tersadar bahwa sedari tadi ada Lily juga bersamanya.
"Ayahmu sedang sakit nak, pak dokter sedang mengobati ayah, doakan ya semoga ayah baik-baik saja"
"Aku halap ayah sembuh, selamatkan ayah ya tuhan" ucap Lily.
Mendengar itu senyum kecil muncul di wajah ibu, petugas polisi yang mengantar mereka seketika berbalik, menyodorkan lolipop rasa strawberry ke Lily.
"Ini untuk kamu anak pintar"
Bersamaan dengan tibanya mereka di ruang tunggu, seorang dokter muncul dari ruang operasi, dokter menjelaskan bahwa operasi yang dijalani ayah berjalan dengan lancar, namun perlu waktu untuk pemulihan sehingga untuk sementara ayah ditempatkan di ruang intensif.
"Syukurlah bapak Kevin bisa diselamatkan bu, saya pamit dulu, ini kartu nama saya mohon dihubungi ya bu jika sudah selesi dengan urusan rumah sakit, karena kendaraan bapak juga masih ada di kantor kami"
"Baik pak terimakasih banyak pak"
Ibu dan Lily mendampingi ayah di dalam ruang intensif, air mata ibu kembali mengalir melewati pipinya.
"Ibu kenapa menangis lagi"
"Ibu senang nak ayah selamat, dan ibu juga senang ada kamu disini"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~