— Genre : Fantasi Romansa
— Tema : Cinta Sepajang Hidup
Aroma minyak linseed dan debu yang sudah mengendap selama puluhan tahun langsung menyambut Hardan begitu ia melangkah masuk ke ruang restorasi. Galeri Atma pagi itu sangat sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang sesekali beradu dengan deru AC yang tipis. Di tengah ruangan, sebuah lukisan dari abad ke-17 berdiri di atas penyangga kayu, tampak kusam seolah menyimpan rahasia yang berat.
Hardan menghela napas pendek, lalu mulai bekerja. Ia mencelupkan kapas ke cairan pembersih dan mengoleskannya secara perlahan ke permukaan kanvas. Saat lapisan pernis yang menguning itu luruh, gerakannya tiba-tiba terhenti. Di balik kusamnya cat lama, muncul detail leher seorang wanita yang sedang memalingkan wajah. Tepat di bawah cuping telinganya, ada tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit berwarna merah pudar—identik dengan tanda lahir di leher Hardan sendiri, hanya saja di posisi yang berlawanan.
Seketika, suasana galeri berubah drastis. Bau cat yang menyengat mendadak lenyap, digantikan aroma tanah basah dan melati yang sangat pekat, seperti bau hujan yang tertahan di udara tepat sebelum badai besar melanda. Kepala Hardan berdenyut hebat. Saat jemarinya tanpa sengaja menyentuh permukaan kanvas yang dingin itu, ia merasa seolah realitas di sekitarnya retak berkeping-keping. Dunia di sekelilingnya mencair, warna-warna cat meluber keluar dari bingkai dan membanjiri lantai seperti air bah.
Pandangannya menggelap, lalu berganti menjadi hamparan salju yang luas dan langit yang berwarna ungu kelam. Ia tidak lagi berada di Jakarta tahun 2026. Hardan melihat tangannya sendiri yang kasar dan penuh noda hitam. Ia memakai apron kulit yang berlubang karena percikan api tungku. Ia adalah seorang pandai besi di sebuah desa terpencil pada abad ke-14. Di depannya, seorang wanita berdiri dengan jubah bulu tebal yang berkilau seolah ditenun dari cahaya bintang. Wanita itu adalah Renjana.
Renjana menggenggam tangan Hardan yang kapalan, lalu berbisik lembut, "Hardan, jika waktu adalah sungai, maka kita adalah batu di dasarnya. Kita tidak bergerak, hanya air yang mengalir melewati kita. Namun, batu pun bisa terkikis jika airnya terlalu deras."
Hardan tersentak kembali ke kenyataan. Ia terengah-engah di depan meja kerjanya. Jantungnya berpacu cepat dan ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari lubang hidungnya. Saat ia mengusapnya dengan punggung tangan, ternyata itu darah yang berwarna kebiruan, berpendar tipis sebelum memudar menjadi merah pekat. Memori itu bukan sekadar ingatan; itu adalah beban energi yang terlalu berat untuk otaknya. Setiap kali ia mencoba menggali kenangan lama, jiwanya terasa seperti dibakar hidup-hidup oleh api sihir purba.
Pintu galeri berdenting secara tiba-tiba. Seorang wanita masuk dengan mantel abu-abu panjang. Langkah kakinya sangat ringan, hampir tidak bersuara, seolah-olah ia berjalan beberapa milimeter di atas permukaan lantai kayu. Begitu wanita itu mendekat ke area kerja Hardan, aroma hujan yang tertahan kembali menguat, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
"Jangan teruskan, Hardan," suara wanita itu terdengar lirih namun bergetar hebat. "Berhenti sebelum kau benar-benar menghilang."
Hardan menatap wajahnya. Ia tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa wanita di depannya adalah sosok yang sama dengan yang ada di lukisan dan memorinya. "Kenapa kamu membiarkanku mencari selama ratusan tahun jika hanya untuk menyuruhku berhenti sekarang?" tanya Hardan dengan suara serak. Ia membetulkan posisi duduknya sambil menahan sakit di pelipis.
Renjana melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Hardan dengan ujung jarinya yang dingin. Seketika, cahaya biru pudar muncul di sekitar mereka, membentuk pusaran kecil di udara sebagai sisa magis dari sumpah darah yang mereka ucapkan berabad-abad lalu.
"Karena aku abadi, Hardan. Aku ini penjaga waktu yang dikutuk untuk tetap tinggal sebagai saksi bisu," kata Renjana sambil menatap mata Hardan dengan kesedihan yang tak terukur. "Sedangkan kamu hanya manusia biasa yang terus lahir kembali. Setiap kali kamu mengingat siapa aku, tubuhmu akan hancur karena tidak kuat menanggung beban energi dari seluruh sejarah kita. Aku sudah lelah memakamkanmu, Hardan. Aku lelah melihatmu lahir hanya untuk mati di tanganku."
Hardan mengusap wajahnya kasar untuk menjernihkan pikiran. Ia lalu menggenggam tangan Renjana dengan erat tanpa memedulikan pening yang semakin menjadi. "Kalau begitu, kali ini jangan makamkan aku lagi. Aku ingat semuanya sekarang. Di abad ke-14, kita gagal karena aku takut pada sihirmu. Di abad ke-17, kita gagal karena perang. Namun, di sini, sekarang, di galeri ini, aku yang memegang kendali atas kanvas ini."
Hardan berdiri dengan kaki gemetar, lalu menarik Renjana ke arah kanvas kosong di sudut ruangan. Ia mengambil palet dan mulai mencampur cat. Namun, cat itu berperilaku aneh; warnanya berpendar dan bergerak sendiri seperti cairan hidup.
"Dengar, Renjana," ujar Hardan sambil menatap matanya dalam-dalam. "Jika jiwaku adalah lilin yang cepat habis karena mengingatmu, maka biarkan aku menghabiskan seluruh apinya untuk membuat tempat di mana kita bisa berhenti berlari. Aku akan mengunci waktu itu di dalam lukisan ini."
"Tetapi, itu akan memakan seluruh sisa hidupmu, Hardan!" tangis Renjana pecah. "Kau akan mati sebelum fajar!"
"Aku tidak akan mati," sahut Hardan mantap. "Aku hanya berpindah tempat tinggal."
Hardan melukis dengan intensitas yang mengerikan sepanjang malam. Ini bukan lagi sekadar seni; ini adalah alkimia jiwa. Ia mencampur pigmen cat dengan sedikit tetesan darahnya dan air mata Renjana yang mengandung serpihan memori abadi. Ia melukis sebuah taman yang tidak pernah ada di peta dunia mana pun, sebuah ruang di antara dimensi tempat hukum fisika tidak berlaku dan waktu berhenti berdetak.
Renjana hanya bisa memperhatikan dengan takjub. Ia melihat bayangan mereka di atas kanvas mulai bercahaya dan bergerak-gerak. "Apa yang sedang kamu lakukan, Hardan? Ini sihir yang dilarang."
"Aku sedang memindahkan beban ingatan itu ke dalam seni, bukan lagi menyimpannya di kepalaku yang rapuh ini," bisik Hardan. Rambutnya mulai memutih dengan sangat cepat dan garis-garis tua muncul di wajahnya hanya dalam hitungan jam. "Aku mengubah kutukan ini menjadi sebuah gerbang. Kita tidak perlu lagi menunggu kehidupan berikutnya."
Hardan meletakkan kuas terakhirnya tepat saat matahari terbit dan cahayanya masuk lewat celah jendela. Ia tampak sangat tua dan lemah, namun matanya bersinar lebih terang dari bintang mana pun. Di atas kanvas itu, kini tergambar mereka berdua yang sedang bergandengan tangan di sebuah stasiun kereta yang diselimuti kabut emas dan bunga-bunga yang mekar di udara.
"Sentuh kanvasnya, Renjana. Ikutlah denganku," perintah Hardan pelan.
Saat jemari Renjana menyentuh permukaan cat yang masih basah, sebuah ledakan cahaya biru dan emas memenuhi seluruh ruangan galeri. Kutukan waktu yang selama ini mengikat Renjana pecah berkeping-keping seperti kaca. Seluruh beban memori yang menghancurkan otak Hardan mengalir keluar, terserap masuk ke dalam lukisan itu dan menjadi bagian dari latar belakang pemandangan yang indah.
Seorang penjaga galeri masuk satu jam kemudian untuk mengecek ruangan. Ia terheran-heran karena ruangan itu sudah kosong tanpa jejak perjuangan. Hanya ada dua lukisan yang diletakkan saling berhadapan. Di atas kanvas yang baru, terlihat seorang pria berjaket biru dan wanita bermantel abu-abu yang sedang tersenyum. Jika diperhatikan lebih dekat, sosok dalam lukisan itu tampak bernapas.
Dua orang muda tidak sengaja berpapasan di tengah kerumunan pada waktu yang sama di sebuah stasiun kereta tua yang tidak jauh dari lokasi galeri. Pria itu memakai jaket biru, tampak segar dan penuh kehidupan, seolah baru saja mendapatkan napas baru. Seorang wanita bermantel abu-abu mendekatinya. Ia menghirup udara pagi yang segar, bukan lagi bau hujan yang tertahan, melainkan aroma kebebasan.
"Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya pria itu sambil tersenyum tulus. Tanda lahir bulan sabit di lehernya berkilat terkena cahaya matahari pagi yang hangat.
Wanita itu tersenyum balik, sebuah senyuman yang kini sudah bebas dari penderitaan berabad-abad. "Mungkin saja. Namun, kali ini kita punya seluruh keabadian untuk saling mengenal kembali. Namaku Renjana."
Hardan mengulurkan tangannya sembari merasakan aliran energi yang hangat dan tenang. "Aku Hardan. Entahlah, aku merasa seolah baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk yang sangat panjang dan akhirnya menemukan cahaya."
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju gerbong kereta yang seolah-olah baru saja keluar dari sebuah lukisan emas. Mereka memulai kehidupan ke-14 mereka bukan lagi sebagai tawanan takdir, melainkan sebagai anugerah yang akhirnya menemukan jalan pulang.
■ Pengajaran dari cerita ini adalah:
● Cinta adalah Keteguhan: Hubungan sejati tidak menyerah pada jarak, waktu, bahkan maut; ia akan selalu menemukan jalan untuk pulang.
● Seni adalah Keabadian: Karya yang dibuat dengan seluruh jiwa mampu melampaui keterbatasan fisik manusia dan menyimpan pesan melintasi zaman.
● Keberanian Mengubah Nasib: Kegagalan di masa lalu bukan akhir segalanya. Dengan keberanian dan cara baru, kita bisa memutus rantai kutukan atau kesedihan untuk meraih kebahagiaan.
— Ku persembahkan untuk : GC Ruang Menulis