Hujan turun rintik-rintik, seperti jarum halus yang menusuk tanah merah yang masih basah.
Orang-orang menyebutnya rinai. Bagi Marni, rinai adalah teman lama, teman yang menyamarkan suara tangisnya agar tidak terdengar tetangga.
Tapi hari ini, Marni tidak lagi bisa mendengar hujan.
Tubuh ringkihnya sudah tertidur tenang di dalam gundukan tanah yang baru ditutup. Tidak ada batu nisan marmer, hanya kayu ulin sederhana bertuliskan nama dan tanggal kematian.
Di pelataran rumah kayu yang dindingnya sudah dimakan rayap, dua mobil mewah terparkir canggung. Bannya yang mengkilap ternoda lumpur desa.
Damar berdiri di teras, mengibas-ngibaskan jas hitam mahalnya yang terkena percikan air. Wajahnya masam, bukan kan karena sedih, tapi karena gerah.
"Kenapa ibu tidak pernah mau pindah ke panti jompo yang aku tawarkan?" gerutu Damar, menyulut rokok. "Kalau di sana, pasti ada perawat yang mengurus. Tidak akan... tidak akan membusuk dua hari baru ketahuan tetangga seperti ini."
Laras, adiknya, sedang sibuk mengelap high heelsnya dengan tisu basah. "Sudahlah, Mas. ibu memang keras kepala. Kau ingat waktu aku ajak dia makan di restoran? Dia malah mau membungkus sisa tulang ayam. Memalukan!Pelayan sampai melihat kita dengan tatapan aneh."
"Ya. Mental miskin itu susah hilang," sahut Damar dingin.
Mereka berdua adalah anak-anak yang sukses. Damar adalah arsitek ternama, Laras istri pengusaha. Tapi di mata mereka, Ibu adalah masa lalu kelam yang ingin dihapus. Ibu adalah pengingat bahwa mereka pernah tidur beralaskan tikar dan makan satu telur dibagi tiga.
"Ayo cepat bereskan barang-barang ibu," kata Laras, menutup hidungnya yang sensitif terhadap bau apek rumah tua itu. "Aku mau rumah ini dijual secepatnya, baunya membuatku mual."
Mereka masuk ke kamar ibu. Kamar itu sempit. Kasurnya kapuk tua yang sudah kempis di tengah. Di sudut kamar, ada lemari plastik yang pintunya sudah tidak bisa menutup rapat.
Damar membuka lemari itu kasar. Kosong, hanya ada beberapa lembar baju daster lusuh yang warnanya sudah pudar.
"Lihat ini." Damar mendengus. "Setiap bulan aku kirim uang dua juta. Tapi baju ibu masih seperti kain lap. Ke mana uangnya? Jangan-jangan ibu berjudi atau kena tipu orang?"
Laras membuka laci meja rias. Tidak ada perhiasan, tidak ada emas. Hanya ada sisir rusak dan bedak dingin.
"Mas..." Suara Laras tiba-tiba tercekat.
Damar menoleh. Laras sedang berlutut, menarik sesuatu dari kolong tempat tidur. Sebuah kotak kaleng biskuit Khong Guan yang sudah berkarat parah.
"Apa itu? Sampah?"
Laras membuka tutup kaleng itu dengan susah payah.
Krek.
Di dalamnya, tidak ada rengginang.
Di dalamnya, ada tumpukan amplop cokelat, buku tabungan tua, dan sebuah buku catatan kecil dengan tulisan tangan ibu yang jelek dan gemetar.
Laras mengambil buku tabungan itu, ia membukanya, dan matanya membelalak.
"Mas... lihat saldonya."
Damar merebut buku itu. Matanya menyusuri angka-angka di sana, ada ratusan juta. Semua uang yang dikirim Damar setiap bulan selama sepuluh tahun terakhir.
"Ibu... tidak pernah memakai uangnya?" bisik Damar, suaranya bergetar. "Sepeser pun tidak?"
Lalu Laras mengambil buku catatan kecil itu. Di halaman pertama, tertulis dengan huruf besar-besar:
UNTUK DAMAR DAN LARAS.
JANGAN DIBACA SEBELUM IBU MATI.
Dengan tangan gemetar, Laras membaca halaman pertama.
>Damar anakku, Laras gadisku... Maafkan ibu. Maafkan ibu kalau ibu bau apek, kalau ibu norak, kalau Ibu bikin kalian malu di depan teman-teman kaya kalian."
>Ibu tidak pakai uang kirimanmu, Damar. Ibu tahu kamu kerja keras, kakimu sampai bengkak-bengkak di proyek. Ibu tidak tega memakan keringatmu, semua uang ini ibu kumpulkan. Nanti kalau ibu mati, pakai uang ini untuk melunasi hutang mertuamu yang sering menghinamu itu, Nak. Supaya kamu tidak lagi direndahkan oleh keluarga istrimu."
Damar merasa lututnya lemas. Ia terduduk di lantai kotor itu. Ia memang sering curhat, lebih tepatnya mengeluh pada ibu lewat telepon bahwa ia sering dihina mertuanya karena berasal dari kampung.
Ia tidak tahu ibu mendengarkan. Ia tidak tahu ibu menabung nyawanya untuk harga diri anaknya.
Laras terisak, membalik halaman berikutnya.
>Untuk Laras. Ingat waktu kamu bilang ibu jangan datang ke wisuda anakmu karena ibu batuk-batuk? Ibu tidak marah, Nak. Ibu cuma sedih tidak bisa lihat cucu ibu pakai toga."
>Di dalam amplop cokelat ini, ada sertifikat tanah Kebun Bambu. Dulu pakdemu mau merampasnya, dia bilang... janda bodoh seperti ibu tidak pantas punya tanah. Dia meludahi muka ibu, dia memukul ibu di depan pasar. Ibu diam saja. Ibu tidak cerita pada kalian karena ibu tidak mau kalian membenci paman kalian sendiri. Tanah ini sudah lunas ibu tebus. Untuk Laras, kalau-kalau suamimu yang galak itu mengusirmu lagi, kamu punya tempat pulang, Nak."
Laras meraung. Ia mendekap buku kumal itu ke dadanya. Tangisnya pecah, lebih keras dari suara guntur di luar. Ia ingat betapa seringnya ia membentak ibunya saat sang Ibu bertanya tentang lebam di tangannya akibat KDRT suaminya.
Ia pikir ibu bodoh dan tidak tahu apa-apa, ternyata ibu menyiapkan tempat perlindungan untuknya.
Damar mengambil selembar foto dari dasar kaleng. Foto hitam putih, foto ibu yang masih muda, kurus kering, sedang menggendong Damar dan Laras kecil di kanan kiri. Wajah ibu lelah, tapi tersenyum bangga.
Di balik foto itu tertulis:
"Tuhan, ambil saja nyawaku jika itu bisa membuat anak-anakku kenyang. Jangan biarkan mereka tahu kalau ibunya lapar."
Hujan di luar semakin deras, tapi badai di dalam dada Damar dan Laras baru saja dimulai. Penyesalan itu datang seperti ombak pasang, menenggelamkan, menyesakkan, dan terlambat.
Sangat terlambat...
Rumah itu sunyi kembali, kecuali suara raungan dua anak manusia yang baru menyadari bahwa malaikat pelindung mereka baru saja mereka kubur dalam kesepian.
***