Keluarga besar selalu membanggakan ketampanan si kembar, Adrian dan Ardan. Meski wajah mereka bagaikan pinang dibelah dua dengan rahang tegas dan sepasang mata elang yang sama,sifat mereka adalah kutub yang berbeda.
Adrian adalah api. ambisius, dominan, dan selalu menjadi pusat perhatian. Dan harus menginginkan jauh lebih unggul dari saudara kembarnya.Sedangkan Ardan adalah air. tenang, pendiam, dan lebih banyak bekerja di balik layar sebagai arsitek.
Maya, yang saat itu masih muda dan terpukau oleh pesona luar, menjatuhkan pilihannya pada Adrian. Baginya, Adrian adalah pria ideal yang bisa membanggakannya di depan teman-temannya. Pernikahan megah pun digelar. Maya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia yang telah menikah dengan Adrian.
Namun, hanya butuh waktu enam bulan bagi Maya untuk menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan besar.
Retakan di Balik Topeng
Kehidupan pernikahan dengan Adrian ternyata adalah medan perang. Adrian yang ia puja ternyata adalah pria yang kasar secara verbal dan sangat mengontrol. Setiap pakaian yang Maya pakai, setiap teman yang ia hubungi, semua harus melalui persetujuan Adrian.
"Kamu itu milikku, Maya. Jangan buat aku malu dengan tingkah bodohmu," itu adalah kalimat yang sering Adrian lontarkan setiap kali Maya mencoba berargumen. Tajam dan tanpa perasaan.
Di sisi lain, Ardan kakak iparnya sering datang berkunjung. Ardan adalah satu-satunya orang yang menyadari mata sembab Maya atau lebam tipis di pergelangan tangannya yang ditutupi jam tangan.
Suatu sore, saat Adrian pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, Ardan datang membawa buku sketsa. Mereka duduk di teras belakang.
"Maya, kamu tidak harus pura-pura kuat di depanku," ujar Ardan pelan tanpa menatapnya. Ia sibuk menggoreskan pensil, namun suaranya sarat akan empati. "Aku tahu Adrian. Aku tumbuh bersamanya. Dia tidak pernah tahu cara menghargai sesuatu yang lembut."
Maya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ada seseorang yang benar-benar melihatnya. Di saat itulah Maya menyadari sebuah kenyataan pahit yang menghunjam jantungnya: Ia jatuh cinta pada jiwa yang salah.
Penyesalan yang Terlambat
Ia teringat masa-masa pendekatan dulu. Ada saat-saat di mana ia merasa sangat nyaman berbicara berjam-jam tentang mimpi dan seni. Belakangan ia baru tahu, pria yang menemaninya mengobrol di taman saat itu sebenarnya adalah Ardan yang berpura-pura menjadi Adrian karena sang adik sedang berkencan dengan wanita lain.
Maya salah mengenali siapa yang sebenarnya memiliki koneksi batin dengannya. Ia menikahi Adrian karena wajahnya, padahal hatinya adalah milik Ardan.
Kini, setiap kali ia melihat wajah suaminya, Maya merasa sesak. Ia melihat wajah pria yang ia cintai (Ardan), namun dalam raga pria yang justru menghancurkan mentalnya (Adrian).
"Kenapa bukan kamu saat itu, Dan?" tanya Maya dalam hati, air matanya jatuh tanpa suara.
Ardan menoleh, melihat tetesan air mata itu. Ia meletakkan buku sketsanya, ingin menghapusnya, namun ia tahu ada garis batas suci bernama pernikahan yang tidak boleh ia langgar. Ardan hanya bisa menunduk, menyimpan rasa yang sama dalamnya.
Maya menyadari bahwa seumur hidupnya, ia akan terjebak dalam sangkar emas, menatap wajah yang ia puja setiap hari, namun merindukan jiwa yang tidak akan pernah bisa ia miliki.