Lampion mulai menyala, warna-warninya menenangkan. Lembut dan hangat. Di antara ribuan lampu yang bersinar itu kau berdiri. Sibuk menikmati sekelilingmu, hingga tak kau sadari, aku berada begitu dekat denganmu.
Kupotret wajah manismu itu, matamu tampak bersinar. Kau berbalik menghadapku, namun tetap tak melihat ke arahku.
Oh, hatiku berdesir....
Kapan bisa kumiliki hatimu? Kapan kau bisa melihatku? Menjadi bagian hidupmu yang indah. Bersanding di altar suci senja hari.
Kau adalah piala yang tak bisa kumenangkan. Piala yang tak bisa kubawa pulang. Hanya bisa kuamati dari tempatku, tanpa mampu mendekatimu.
Cinta yang ku pendam.
# # # #
Tamat.