Trang … Tring … !!
"Jurus pedang pembelah jiwa tingkat satu, pencabut jiwa," ucap salah satu pendekar, seraya mengayunkan pedangnya.
"Jurus pedang pembalik bumi tingkat satu, pembelah gunung," ucap pendekar yang menjadi lawanya.
Mereka berdua adalah seorang pendekar yang legendaris, demi mendapatkan posisi utama di puncak persilatan, pada akhirnya mereka harus berduel satu lawan satu.
Pertarungan duel hidup dan mati, itulah kata yang sebenarnya. Karena jika salah satu di antara mereka kalah, pasti mereka akan memilih mati daripada hidup dengan menanggung malu.
Bagi pendekar pedang sejati, mati dalam sebuah pertempuran akan lebih terhormat daripada harus hidup karena ampunan dari musuhnya.
Hutan pemicu maut, adalah sebuah hutan belantara yang sunyi dan penuh misteri. Dengan lokasi tempat yang sangat jauh dari pemukiman manusia, membuat hutan pemicu maut begitu ditakuti oleh banyak orang, bahkan seorang pendekar pemula tidak akan berani untuk memasuki hutan tersebut.
Sudah satu hari, satu malam pertempuran itu berlangsung. Namun belum ada yang kalah di antara mereka, tapi luka di tubuh mereka menandakan jika kekuatan dan ilmu yang mereka miliki sangatlah tinggi.
"Aku kira gelar pendekar legenda yang Kamu miliki hanya sebuah hiasan nama saja, ternyata julukan itu memang pantas Kamu dapati. Namun, harus ada satu saja gelar pendekar legenda di dalam sejarah, Kamu atau Aku!" ucap salah satu dari pendekar tua itu di tengah pertarungan.
"Baiklah! Dengan senang hati, Aku terima tantanganmu," sahut pendekar tua yang satunya.
Area hutan Pemicu maut yang awalnya penuh dengan pepohonan, kini berubah menjadi lapang karena pertempuran sengit mereka. Sehingga memicu para binatang beas dan siluman datang, karena merasa terganggu dengan suara pertarungan itu.
Setelah kian lama mereka bertarung, kini akhirnya salah satu di antara mereka mati di dalam pertarungan itu. Namun pendekar yang memenangkan pertempuran itu, tidak bisa dikatakan kondisinya baik-baik saja.
Kemenangan atau kekalahan, itu tidak ada artinya bagi mereka berdua. Karena pada akhirnya maut 'lah yang menentukan dari perbuatan bodoh mereka.
Jangan kita bertengkar dengan seseorang hanya karena kekuasaan atau ketenaran.
Meskipun itu sangat penting bagi kita dan mampu mendapatkan kedudukan tertinggi.
Namun, sebenarnya itu adalah tipu daya dari syaitan. Supaya kita saling membenci, bertengkar dan membunuh.
Nikmati apa yang ada, jika posisi kita ada di atas. Jangan lupa saudara-saudara kita yang berada di bawah, bantu mereka dan bimbing ke jalan yang benar.
Semoga kita tidak melakukan perbuatan yang sia-sia, apalagi merugikan diri sendiri dan orang lain.
Salam hangat dari penulis awam, jika ada kesalahan kata saya mohon maaf.
Terimakasih